lupa yang relatif

November 21, 2014 § Leave a comment

Ada beberapa lupa yang terjadi beberapa minggu terakhir.

Saya lupa bagaimana rasanya berteman dengan manis, natural, dan tanpa ketergantungan yang mengganggu. Saya lupa apa rasanya bangun tidur tanpa rasa was-was akan hal-hal yang harus diselesaikan hari itu juga. Saya lupa apa rasanya tidak memiliki kekhawatiran akan uang. Saya lupa rasanya percaya dengan apa yang dirasakan tanpa setitik pun ragu. Saya lupa rasanya merindukan seseorang dengan tulus dan tanpa menahan-nahan. Saya lupa rasanya satu hari penuh tidak melakukan apa-apa tanpa rasa bersalah. Saya lupa rasanya berlibur impulsif tanpa melakukan perhitungan akan hari-hari yang akan datang. Saya lupa apa rasanya membaca sebuah buku tanpa ekspektasi akan seperti apa buku ini nantinya. Saya lupa rasanya tidak membandingkan apa yang saya miliki dan apa yang pernah saya miliki. Saya lupa rasanya memandang orang dewasa dan tidak sabar menjadi seperti mereka nantinya. Saya lupa rasanya bersabar dan diam-diam mengamati sebelum waktunya mencapai pun tiba. Saya lupa rasanya menggarap sebuah proyek personal tanpa ada kekhawatiran apa pendapat orang lain nantinya. Saya lupa rasanya tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk akan hidup. Saya lupa rasanya tidak melakukan perhitungan atas segala sesuatu. Saya lupa rasanya bersabar atas sikap orang lain yang menganggu saya. Saya lupa rasanya berbicara lepas tanpa takut dimaknai berbeda oleh lawan bicara. Saya lupa rasanya duduk melamun tentang semua yang tidak penting. Saya lupa rasanya tidak sabar dandan lalu pergi ke sebuah keramaian yang menyenangkan. Saya lupa rasanya melakukan obrolan kecil yang tidak penting tapi biasanya menghibur sekali. Saya lupa rasanya bersenang-senang tanpa ada batas waktu dan kewajaran. Saya lupa rasanya pergi hingga pagi dengan teman-teman terdekat untuk tertawa dan berbagi kisah. Saya lupa rasanya berbaring sendirian dan menatap langit-langit sambil berandai melalui kenangan. Saya lupa rasanya mengapresiasi hal-hal kecil seperti hujan di sore hari setelah siang yang terik. Saya hampir lupa rasanya menghargai konsistensi dan kegigihan walaupun hasilnya tidak terlihat. Saya lupa melupakan yang tidak penting lalu fokus pada yang penting saja. Saya lupa yang penting itu persoalan perspektif saja.

Memang sudah seharusnya lupa itu dilawan.

_

Masih di kota abu-abu dan sedang butuh hamparan rumput luas, 21 November 2014.

Advertisements

LIST OF THE THINGS THEY DON’T TEACH YOU AT SCHOOL

November 9, 2014 § Leave a comment

I’ve been making a list of the things they don’t teach you at school. They don’t teach you how to love somebody. They don’t teach you how to be famous. They don’t teach you how to be rich or how to be poor. They don’t teach you how to walk away from someone you don’t love any longer. They don’t teach you how to know what’s going on in someone else’s mind. They don’t teach you what to say to someone who’s dying. They don’t teach you anything worth knowing. ~Neil Gaiman, The Sandman, Vol. 9: The Kindly Ones

Iklim

October 29, 2014 § Leave a comment

Yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Ditemani dengan meja dan kursi yang ergonomis sehingga tulang-tulang dan otot tidak cepat tegang kemudian lelah.

Kalau sedang dijepit dengan tenggat waktu cuaca tidak menjadi masalah, hujan atau panas akan tetap dihadapi karena tidak ada pilihan lain. Ketika waktu senggang itu datang iklim mendadak bisa menjadi masalah. Terlalu panas untuk bekerja di luar rumah atau terlalu mendung dan sejuk untuk berpikir.

Memang selalu banyak alasan kalau sedang tidak terhimpit tenggat waktu.

Kalau dari film Lucy waktu adalah satu-satunya satuan ukuran yang nyata di muka bumi. Tanpa waktu semuanya tidaklah berwujud. Jadi teringat hukum relativitas Einstein bahwa yang kita lihat sekarang ini bisa saja terlihat berbeda dari sudut pandang yang lain. Terlalu cepat jika dilihat dari Selatan namun lambat dari Barat. Jika otak ini dapat melihat dan merasa lebih dari kecepatan sang waktu maka bentuk-bentuk yang sekarang kasat mata itu pun hilang. Semuanya tembus pandang dan tidak lagi nyata. Indah ya?

Mungkin harus selalu terhimpit tenggat waktu agar otak dan tubuh ini rajin.

Kalaupun tenggat waktu itu sedang tidak ada alangkah baiknya dibuat sendiri. Agar otak dan tubuh merasa terus tertantang bukannya keenakan bersantai, duduk selonjoran di ruang tengah, nonton serial Girls ditemani teh hangat dan tahu isi, tidur siang, melamun di sore hari sambil melihat kaktus, berbaring menatap langit-langit, melihat timeline Instagram dua jam lamanya, dan berbagai kegiatan sejenisnya.

_

Malam Sejuk, 30 Oktober 2014

Goddess of Small Things

October 28, 2014 § Leave a comment

And the air was full of Thoughts and Things to say. But at times like these, only the Small Things are ever said. Big Things lurk unsaid inside. ~Arundhati Roy, The God of Small Things

I train myself to always get back on track.

Beberapa bulan terakhir rasanya seperti berjalan dalam kecepatan yang tidak bisa saya ikuti dengan kesadaran penuh. Terlalu tumpang tindih, semakin susul menyusul satu sama lain. Kadang waktu berangkat tidur dan menyambut pagi seperti terjadi dalam sekejap mata.

Saya merasa kehilangan aktivitas kesukaan saya: membekukan waktu. Jurnal hanya teronggok sia-sia, semakin jarang dibuka apalagi ditulis. Buku sketsa nasibnya kurang lebih sama. Yang selalu terisi hanyalah work note, padat to-do-list dan catatan-catatan yang dirasa penting.

Betapa ironisnya bahwa yang penting-penting itu hanya terasa penting di hari itu saja. Sementara yang akan terasa penting dalam jangka waktu yang lama tidak lagi sempat direkam, dibiarkan berlalu dan terlupakan.

Malam ini memutuskan harus lebih memaksa diri lagi untuk cermat menggunakan waktu, work note padat to-do-list itu memang harga mati tapi saya masih ingin membekukan momen dan rasa-rasa yang melewati hari. Mencatat, merekam, dan menggambarkan lagi.

Harus semakin efisien dengan waktu, lebih hati-hati mengiyakan sesuatu apalagi yang memakan waktu dengan sia-sia.

_

Malam Mantra, 29 Oktober 2014.

Religion

June 22, 2014 § Leave a comment

I’m a big believer in creativity as a combinatorial force — a great big puzzle you construct from existing pieces in your mental pool of resources. Which is why I strive to continuously highlight tidbits of interestingness and inspiration, in the hope that each of them lies dormant in your mind until, one day, it sparks some incredible new creation.

Quoted from Brain Pickings.

NATURAL

June 8, 2014 § Leave a comment

Saya percaya hal-hal dalam kehidupan akan baik hasilnya jika terjadi secara natural. Natural dalam arti berasal dari kesadaran yang tumbuh di dalam diri untuk memilih dan melakukan satu hal, bukan dari pengaruh atau dorongan orang lain. Misalnya:

  1. Menikah. Aktivitas ini besar sekali tanggung jawab dan juga beban moralnya. Siapa bilang menikah itu cuma bisa berbekal cinta? Menambatkan hati, kebahagiaan, dan kepercayaan kepada manusia lain tidak dapat dipungkiri berat sekali. Belum lagi proses meredam ego yang cenderung teriakannya semakin lantang seiring bertambahnya usia. Alangkah berbahagianya dua insan manusia yang memasuki bahtera rumah tangga bukan karena dorongan pihak lain atau kondisi (bisa berasal dari orang tua, sosial, ekonomi, dan rasa tidak percaya diri melajang terlalu lama). Menikah bagi saya adalah sebuah proses kebersamaan yang harus terjadi dengan natural, menjalani hidup berdua murni karena dorongan hati keduanya.
  2. Berkarya. Apapun bentuknya, menelurkan sesuatu yang belum pernah ada dari pikiran dan tanganmu bukanlah hal yang istilahnya “ecek-ecek”. Memulainya jelas lebih gampang dari pada mempertahankan diri dan pikir untuk terus menelurkan karya. Berkarya seringkali tidak memberikan keuntungan kapital kepada pembuatnya, jika pun mendapatkan biasanya harus melalui proses panjang dan melelahkan. Berkarya itu seperti cinta tanpa syarat, tidak mendapatkan cinta balasan pun tidak apa asal bisa melakukan, tidak ada yang memuji atau memperhatikan pun tidak apa asal bisa melakukan. Begitu murni tanpa embel-embel kapitalis yang sudah mengepung semua sisi kehidupan. Berkarya yang tulus adalah sebuah pilihan yang mahal sekali. Bagus atau jelek hasilnya, itu persoalan lain.
  3. Bersuara. Entah ideologi, opini, atau pilihan yang muncul karena dorongan dari hati, ibarat mendapatkan sebuah hidayah, titik terang yang membuat seseorang melakukan sesuatu untuk mendukung pemikiran atau pilihannya. Jika dikaitkan dengan situasi sekarang, adalah memilih pemimpin negara. Politik tidak pernah terasa menarik bagi saya hingga masa ini tiba, ketika kemunculan seorang manusia yang bisa “bekerja” dan berasal dari “rakyat” menjadi calon puncak segala pemimpin. Setelah era kegelapan yang demikian panjang, pucuk harapan itu tumbuh kembali di dalam hati. Harapan kalau pada akhirnya ada yang benar-benar “bekerja” sebagai pemimpin dan siap membangunkan negara ini beserta isinya dari tidur yang panjang. Mungkin ada yang menganggap apalah arti pergerakan seorang, dua, atau tiga orang rakyat? Ibarat kepakan seekor kupu-kupu kecil di antara kibasan sayap elang. Bukankah lebih baik jadi kupu-kupu kecil yang bergerak daripada tidak melakukan apa-apa? Cuma ada dua pilihan: kemunduran atau kemajuan. Saya memilih maju.

    “It has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world.” ~Chaos Theory

_

Jakarta, 8 Juni 2014.

Catatan tambahan:
Beberapa hari lalu membaca ini: “Siapapun Presidennya kamu tetap mencari uang dan makan sendiri.“, sungguh miris. Sebuah kalimat pembodohan massa, tidak paham efek domino dan hukum sebab akibat. Semua hal dari yang besar hingga kecil dimulai pada sebuah titik, saling terkait, mempengaruhi satu sama lain. Bersuaralah jika kamu percaya itu memang untuk kemajuan.

Bandung, 16 April 2014

April 30, 2014 § Leave a comment

(Waktu baca 2 – 3 menit)

Tadi siang saya jalan kaki dari penginapan saya di jalan Riau menuju jalan Veteran. Saya hanya membawa tote bag berisi kamera, buku Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer, laptop, dan dompet. Perut berisik, sudah keruyukan karena sejak pagi baru diisi satu gelas kopi Torabika Mocca dari buffet penginapan. Saya yang memang dari kemarin sudah hanyut dalam romantisme masa lalu dengan kelezatan batagor Kingsley langsung berjalan mantap menuju lokasi.

Setelah menghabiskan satu porsi batagor seharga Rp 30,000 saya berdiri di pinggir jalan menatap deretan mobil yang mulai padat sambil mencoba mengingat rute angkot menuju kawasan Balubur. Sayangnya saya lupa, pengalaman delapan tahun silam tinggal di kota ini sudah hilang dari ingatan.

Saya jalan kaki lagi menuju jalan Sunda karena seingat saya banyak rute angkot yang melewati jalan tersebut. Beruntung saya melihat angkot Kelapa – Dago, saya menyetop, naik, dan mengambil posisi duduk di sudut. Berhenti di perempatan apotek Kimia Farma saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, pedestrian jalan di kota Bandung memang tidak jauh lebih baik dari pedestrian di Jakarta (yang bolong sana sini) tapi cuacanya luar biasa menyenangkan dan tidak mengacaukan pikiran, sungguh membuat hati senang.

Tiba-tiba saya kebelet pipis, sungguh momen yang tidak pas karena lagi meresapi enaknya jalan kaki. Saya cepat-cepat berjalan ke kompleks pertokoan Balubur mencari toilet. Selesai dari situ saya langsung menuju lokasi revitalisasi lapangan Bawet oleh Rumah Cemara yang terletak di bawah jembatan Pasupati. Pelan-pelan saya menelusuri turunan yang sangat berangin, layaknya area di bawah jembatan terdapat pemukiman penduduk yang padat di sepanjang jalan. Saya terus berjalan, ada semacam rasa bebas yang luar biasa mahal pelan-pelan merambat di hati. Bahwa di hari ini, hari Rabu, setahun yang lalu masih saya isi dengan duduk di belakang meja atau melakukan wawancara dengan seorang desainer interior di restoran yang bersih mengkilat atau menyelesaikan deadline artikel, namun hari ini saya sedang berjalan kaki dan melihat situasi yang mendominasi sudut-sudut negeri ini.

Sambil melawan angin saya terus berpikir tentang Pramoedya Ananta Toer, akhir-akhir ini ada semacam pertanyaan yang otomatis muncul di kepala setiap kali menyaksikan peristiwa yang membuat tergelitik, “Apakah yang akan dipikirkan oleh seorang Pram?”.

Kadang pertanyaan tersebut terasa sangat menyiksa otak saya. Karena jawabannya selalu sama, berpijak ke tanah, mencium dalam-dalam aroma yang ada di sekeliling, sentuh apa yang ada di hadapanmu, di situ, saat itu juga! Bukannya terbang di atas awan, melihat yang hanya ingin dilihat, mencium aroma yang disukai saja. Sungguh, untuk pemimpi seperti saya itu bukanlah hal yang mudah. Harus turun, turun ke bumi!

Sampai di lokasi, teman yang ingin saya temui belum sampai. Saya duduk di pembatas jalan dan mengambil Anak Semua Bangsa dari dalam tas, melanjutkan kembali bacaan yang tidak kunjung selesai. Minke, Nyai Ontosoroh, dengan semua masalah dan kepandaian mereka kembali membius saya perlahan. Ada sebuah cara magis dari Pram untuk menyuntikkan ideologi yang ia pegang ke dalam otak pembacanya, melalui fiksi! Sungguh, seseorang yang pandai menulis dan tahu apa yang harus ia tulis memang sangat berbahaya. Saya tenggelam lagi ke dalamnya, seperti biasa. Teman yang ditunggu akhirnya datang. Teman yang setiap berbicara dengannya membawa saya mencium bau tanah dalam-dalam, mengingatkan kalau aroma langit yang penuh impian memang menyenangkan tapi berpijaklah yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Senang dengan kehadirannya, saya langsung meletakkan buku tersebut dengan rasa tidak sabar ingin melanjutkannya kembali.

Kami duduk, berbincang di tengah terpaan angin dan dera tawa anak-anak kecil bermain di tanah kosong sebelah lokasi revitalisasi. Di tengah obrolan ia menunjuk seorang laki-laki yang memakai ransel besar berwarna hitam. Katanya laki-laki itulah yang mendirikan Rumah Cemara. Sosoknya tidak terlalu besar namun mantap memijak tanah. Rasa hormat otomatis muncul di dalam hati saya, hal yang pasti terjadi setiap kali melihat individu yang melakukan sesuatu dengan melepaskan kepentingan dirinya sendiri. Jarang dan sungguh berharga, yang biasanya disusul dengan rasa malu di dalam diri, kenapa mesti menjadi individu yang masih saja egois dan terlalu banyak memikirkan kepentingan sendiri atau estetika tidak berarti.

Dia mendekati kami berdua, saya berkenalan. Senyumnya sungguh lebar, kulitnya penuh tato, menyembul keluar dari tubuhnya yang mengenakan kaos tanpa lengan dan celana hitam selutut. Dia berkata dalam bahasa Sunda yang hanya bisa saya artikan sepotong-sepotong, sebelum akhirnya berbicara dalam bahasa Indonesia. Aura dirinya sungguh menyenangkan membuat betah berbincang lama-lama. Dia bertanya ramah apakah saya orang Bandung juga dan kami ngobrol ini dan itu, mudah sekali berbicara dengan orang ini. Dia bercerita tentang perjalanannya jalan kaki dari Bandung ke Jakarta, semacam kaul karena sebuah pencapaian. Orang yang sendirian berjalan kaki sejauh itu selama tiga hari dua malam tentunya seseorang yang jiwanya bebas seperti burung di angkasa. Begitu impulsif dan puitis. Tidak mungkin bisa terikat oleh kemapanan yang semu atau kenyamanan kapitalisme yang bersifat utopis.

Saya menyerap dalam-dalam aroma kebebasan yang keluar dari tubuhnya dan aura teman saya, berharap ditularkan semangat dan kemerdekaan mereka dalam berpikir dan berbuat. Dalam hati berdoa, berharap satu hari nanti kebebasan, rasa tidak terikat oleh materi, dan matinya sifat egosentris secara natural juga akan terjadi di dalam diri saya.

Dan catatan hari ini akan saya tutup dengan begini saja, seperti biasa.

  • Silahturahmi

  • Sering Ditengok

  • Archives

  • Categories

%d bloggers like this: