Ekosistem

March 6, 2015 § Leave a comment

Akhir pekan kemarin saya dirundung rasa bosan kemudian memutuskan untuk makan bebek goreng lalu mengunjungi paviliun teman saya yang kebetulan letaknya tidak jauh dari lokasi tempat tinggal saya. Sejak pertengahan tahun 2014 dengan sengaja saya mengurangi frekuensi keluar rumah untuk hal-hal yang bersifat hiburan atau rekreasional untuk menghemat energi, waktu, dan uang atas pengeluaran yang tidak perlu.

Teman saya sedang menyelesaikan aplikasi beasiswa yang harus dia kirim hari itu, saya pun memutuskan untuk bekerja juga di laptop yang untungnya saya bawa karena tidak mau mengganggu dan memang ada beberapa hal yang sudah melewati tenggat waktu. Kami bekerja dalam diam, kebetulan kami berdua pendiam, syukurlah.

Setelah agak rampung kami pun berbincang tentang macam-macam, kisah cinta yang kusut dan tanpa solusi, hubungan suami istri yang susah dipercaya keberadaannya, lokasi restoran bebek yang sedap, buku, film, malam penghargaan Oscar, dan sejenisnya.

Di tengah pembicaraan teman saya menceritakan tentang seniman yang baru saja dia wawancara untuk majalah tempatnya bekerja. Dia menyukai karya dan pemikiran seniman tersebut, saya pun menanyakan seniman-seniman lain yang dia sukai. Teman saya diam sejenak lalu menyebutkan beberapa nama. Seniman yang ia sebutkan memiliki semacam benang merah: non linear, ethereal, self-discovery, dan cenderung abstrak. Kemudian kami pun berbincang-bincang tentang hubungan antar manusia yang kusut kembali. Betapa fana hal-hal yang membuat perselisihan dan pengkhianatan terjadi dan seterusnya. Sambil menceritakan hal-hal fana tersebut otak saya berpikir keras, siapakah seniman yang benar-benar saya sukai? Beberapa nama muncul di dalam kepala saya. Dan mereka semua tidak memiliki mood berkarya yang sama. Ada yang jalanan sekali bahkan cenderung “kampungan”, ada yang halusinasi tingkat tinggi, ada yang sibuk mengupas kesedihan, ada yang dekonstruktif, random seperti keputusan-keputusan hidup dan kegiatan saya sehari-hari. Saat saya mengutarakan beberapa nama ini, teman saya memang tidak merasa ada benang merah pada nama-nama seniman yang saya sukai, namun teman saya berpendapat seharusnya ada benang merah yang bisa ditemukan kalau diteliti kembali satu persatu. Karena kelaparan kami menghentikan obrolan dan berkendara ke daerah pejaten untuk makan malam, setelah menatap menu selama kurang dari 5 menit teman saya memutuskan makan bebek bangkalan sedang saya makan nasi rawon.

Di perjalanan pulang yang macet karena kebetulan malam Minggu. Otak saya terus berpikir mengenai kesukaan akan suatu hal entah buku, film, musik, dan seni pada setiap individu sebenarnya merupakan refleksi dari dirinya. You are what you love. Untuk musik saya bisa merasakan benang merahnya, segala yang menerawang, tidak terlalu berisik, dan membuat tenang. Untuk buku lumayan ada benang merah. Untuk film dan karya seni tidak, benar-benar random. Sedangkan teman saya selera buku dan seni cukup berkesinambungan, ia memiliki kecenderungan yang cukup spesifik. Lalu saya teringat teman saya yang cuma menyukai karya-karya idealis dan non komersil, pokoknya semua kreator yang masuk kategori underdog dia suka. Ada lagi teman saya yang menyukai segala sesuatu yang bersifat popular. Adik saya menyukai semua yang berangkat dari teknik dan tidak menghiraukan konten. Teman saya terobsesi pada semua yang berbentuk kerajinan tangan, semakin rumit dan semakin lama waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah benda maka semakin kagumlah ia kepada pembuatnya. Dan seterusnya tidak akan berhenti.

Tepat di lampu merah McD yang chaos saya tiba pada kesimpulan yang lahir secara tidak sengaja. Entahlah, apa karena mobil di belakang saya yang tidak kunjung berhenti membunyikan klakson atau pengendara motor yang tidak sabar menunggu lampu hijau dan memutuskan jalan terus walaupun lampu lalu lintas masih merah. Bahwa semua hal yang ada di muka bumi ini adalah sebuah ekosistem raksasa layaknya yang dimiliki oleh hewan dan alam  (sesuatu yang pernah kita pelajari dalam pelajaran Biologi). Untuk mencapai keseimbangan ekosistem tersebut haruslah lengkap terisi, setiap peran mesti dilakukan dengan total. Karena jika tidak akan terjadi chaos. Tidak ada yang lebih baik atau kurang baik, semuanya yang ada hari ini, semua profesi, semua jenis manusia, yang berkarya dan tidak berkarya, yang bekerja dan tidak bekerja, yang berkeluarga dan tidak berkeluarga, yang beragama dan tidak beragama, yang karyanya komersil dan yang idealis, yang beranak dan tidak mau beranak, yang gemar bersosialisasi dan gemar sendirian,yang aktif social media dan benci social media, yang mengikuti politik dan mengacuhkan politik, setiap jenis memang sudah semestinya ada atas nama keseimbangan. Dalam dunia binatang mereka dimudahkan dengan bentuk yang berbeda-beda satu sama lain, sedangkan manusia lebih sulit dibedakan karena secara bentuk yang serupa. Pilihan hidup yang membedakan satu manusia dan yang lain. Pilihan tersebut yang membuat manusia memiliki keberagaman yang jauh lebih kompleks daripada hewan, tidak akan pernah bisa diseragamkan apalagi dipaksa seragam.

Jika saya tarik ke profesi yang saya lakukan sekarang, yaitu membuat sesuatu dari nol.

Apapun yang saya buat dan lakukan sekarang adalah refleksi diri saya, saya turut berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang maha besar dengan menjadi satu titik organisme yang berupa diri saya sebagai individu. Begitu juga dengan kamu. Apapun bentuk dan peranmu di dalam ekosistem lakukanlah dengan sejujur-jujurnya tanpa merasa lebih baik atau lebih kurang dari titik-titik organisme lain yang kebetulan berbeda.

_

THEOREM, 6 Maret 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ekosistem at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: