10 BUKU YANG MENEMANI 2014

January 7, 2015 § Leave a comment

1

Steal Like an Artist by Austin Kleon
I’m not a fan of self-help and how-to kind of book, I personally think those kind of book are lame and not even helpful, and that’s what I thought about this book until he bought one from his exhibition trip and pursuit me to … at least read 1 or 2 pages. Turns out I really love this book. Very straight to the core, amazing quotes, and with so many reliable wisdom. I can feel my head nodded a couple of times when I reading it. And believe me the whole content it’s related on LIFE not just for artists. Also Kleon’s writing style is very humble, simple, and friendly. It’s like reading one of your trusted friend’s journal.

My favourite line:

Take time to mess around. Get lost. Wander. You never know where it’s going to lead you.

Don’t worry about unity from piece to piece – what unifies all of your work is the fact that you made it.

If you have two or three real passions, don’t feel like you have to pick and choose between them. Don’t discard. Keep all your passions in your life. Let them talk to each other. Something will happen.

You learn that most of the world doesn’t necessarily care about what you think. It’s not that people are mean or cruel, they’re just busy. Do good work and share it with people.

2

Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer
Saat ini saya sedang membaca Jejak Langkah dari Pramoedya Ananta Toer. Buku ke-3 dari tetralogi Buru, yang membuat saya mengingkari kalender baca yang sudah saya buat di awal 2014. Semestinya yang saya baca bulan ini adalah Alain de Botton namun efek Bumi Manusia (buku pertama Tetralogi Buru) ternyata menyita perhatian sekali dan membuat saya jadi tidak sabar mengetahui lanjutannya.

Pram memiliki cara yang unik menyuntikkan sejarah dan nasionalisme ke pikiran pembacanya, karakter Nyai Ontosoroh, Minke, Darsam, Annelies, dll. seakan memang nyata adanya dekat, dan kita kenali dalam kehidupan sehari-hari. Kalau memang ada kewajiban membaca buku di sekolah-sekolah rasanya Tetralogi Buru ini wajib ada di urutan pertama karena masih terasa relevan hingga sekarang, baik itu kelebihan atau kekurangan orang Indonesia, nasionalisme, feodal berbalut kapitalisme, kepemimpinan, dan hal sederhana seperti membedakan baik dan benar atau mendengarkan hati nurani.

Ah, terlalu sempit medium caption foto ini untuk menceritakan efek Tetralogi Buru. Saya pun merasa terlambat baru membaca karya tetralogi ini sekarang.

3

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas oleh Eka Kurniawan
Ada rona merah yang hilang kewarasannya, Si Tokek yang bersumpah tak akan menikah sampai burung sahabatnya berdiri lagi, dan Ajo Kawir yang kemaluannya tak kunjung bangun.

Dibaca pelan-pelan, kisah-kisah ini merasuki jiwa, membuat bertanya-tanya, “Apa itu maskulinitas?” dan “Bagaimana cara cinta bekerja?” dalam cara yang cuma Eka Kurniawan yang bisa menuturkan.

Foto: Gacanti Swastika untuk Lemari Buku

 

Maya karya Ayu Utami
Ayu Utami adalah salah satu penulis yang saya amini dalam-dalam. Setiap kali mendengar kabar ia menelurkan karya baru, tanpa ragu saya akan menuju ke toko buku terdekat dan membeli bukunya. Untuk tenggelam, dalam sekali di dalam kisah yang ia ramu. Untuk karya ‘Maya’, saya merasa Ayu Utami dengan sengaja menyuntikkan agenda personal terkait dengan Pemilu 2014. Dirilis beberapa bulan sebelum Pemilu (entah disengaja atau tidak) di dalam buku ini Ayu Utami sibuk mengingatkan luka-luka masa lalu yang telah dialami oleh Indonesia, khususnya kejadian 1965. Walaupun agenda itu terasa ia terhitung sukses dalam misinya tersebut, dibalut dengan nuansa mistis yang kental, ‘Maya’ menyentil rasa kemanusiaan dan kesadaran pembacanya, mengingatkan akan mereka yang mungkin terlihat kecil dan tidak berdaya namun memiliki hak atas pemikiran dan kekuatan untuk bertindak. Belum lagi kisah cinta tidak wajar yang ia bubuhkan sebagai benang merah, cacat tidak selalu buruk dan keindahan tidak selalu indah.

4

Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer dan Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Pareanom
Satu hal menyenangkan tentang pemulihan tubuh dari sakit adalah kau memiliki seluruh waktu pada harimu. Menyesap teh madu hangat pelan-pelan sambil menyelesaikan bacaan yang tertunda dan mendapat dua kesimpulan. (kedua buku ini saya baca di pasca pemulihan dari sakit lambung)

Pertama, Rumah Kopi Singa Tertawa is not my cup of tea, saya merasa harus memaksa diri saya untuk membaca tulisan di dalamnya, nyentrik, iya, tapi tidak ‘nge-flow‘, tersendat-sendat. Kedua, Pram adalah jenius aksara dan pengocok jiwa, tulisannya menyentuh dengan cara yang brengsek, dan saya sebagai pembaca tidak bisa menghindari. Menyelesaikan Tetralogi Buru (serial ke-4: Rumah Kaca) rasanya seperti bangun dari kebutaan yang sudah berlangsung terlalu lama.

5

An Abundance of Katherines karya John Green
Ada 19 Katherine di dalam hidup Colin, seorang remaja prodigy yang sibuk mempertanyakan apakah dewasa nanti dia akan menjadi sejenius Einstein atau tidak. Kemudian ada Ahmad, sahabat Colin yang seorang muslim dan memanggil Colin dengan panggilan sayang, “Kafir”. Ceritanya tetap seputar remaja yang biasa saja namun dengan bumbu twist dan cerita yang menyebalkan, saking segarnya!

Katherine adalah simbol dari manusia dan kesalahan serupa yang diulang terus-menerus, Ahmad adalah diversity. Dengan bahasa yang ringan dan mengalir hingga akhir. Matematika dan theorem juga menjadi gimmick cerita yang menyenangkan dalam cara yang lucu sekaligus cerdas dan anehnya, menyentuh.

6

Dilan karya Pidi Baiq
Setelah menyelesaikan buku ini saya tidak bisa menuliskan review dan yang sanggup lahir adalah sepotong puisi picisan berikut.

Terima Kasih Tuhan Yang Maha Esa

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq tidak akan ada buku berjudul Dilan yang membuatku tertawa, meringis, dan terharu selama dua jam penuh

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya lupa rasanya membaca buku remaja yang ringan, lucu, segar, mengingatkan banyak hal manis yang hampir terlupakan

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan lupa bernostalgia atas rasa-rasa dan kejadian yang belum terjadi namun secara ajaib telah menjadi kenangan

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan berpikir semua orang populer itu membosankan, bikin ngantuk, dan pretensius

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan berpikir orang yang terhanyut usia akan selalu menjadi tumpul dan tidak menggetarkan

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya lupa rasanya jatuh cinta terhadap karakter fiktif dari sebuah buku

Tuhan, terima kasih sudah melahirkan Pidi Baiq ke dunia

Tanpa Pidi Baiq saya akan menganggap semua cerita cinta klise itu basi

Terima kasih, Tuhan

*) Puisi yang ditulis setelah menyelesaikan novel Dilan karya Pidi Baiq di Gunung Pancar Camping Ground A, diterangi lampu senter seadanya pada tanggal 25 Desember 2014.

8

Kritikus Adinan karya Budi Darma
Kumpulan cerpen yang sibuk membeberkan kisah kumpulan manusia yang tak mengenal tertib sosial dan bagaimana menjadi pantas. Manusia-manusia rekaan Budi Darma terasa keji, liar, gamblang, tak mengenal norma sekaligus terasa jujur, tulus, dan apa adanya.

Favorit saya adalah cerpen “Laki-laki Setengah Umur”, mengisahkan laki-laki yang terus berjalan ke arah barat yang tak dapat dihentikan baik oleh tangis, kelahiran, kebahagiaan, ketergantungan, dan kematian. Tanpa lelah ia terus berjalan menjauh dari segala kewajiban dan kesibukan tidak berarti yang membebaninya tanpa permisi.

Kutipan dari Hal 115:

Lelaki setengah umur berjalan terus. “Jahanam,” kata perempuan kurus, “mudah-mudahan kau terbakar dibakar matahari.” Laki-laki setengah umur berjalan terus, berjalan terus, berjalan terus.

10

Atom Jardin karya Yudha Sandy
Yudha Sandy adalah seorang seniman dan komikus yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta, tahun ini saya berkesempatan mengikuti pameran yang sama dengannya. Kesempatan untuk mengenal karya komik Yudha Sandy adalah sebuah kebahagiaan tersendiri buat saya. Cerita yang ia buat terasa sangat kental nasionalis di dalam imaji dan realm yang ia reka-reka sendiri, terasa sekali ia adalah seseorang yang sibuk hidup di dalam kepalanya sendiri. Tokohnya terdiri dari penyendiri, kreator, seniman, pemimpin, pencinta, dan pemberontak. Tumpang tindih menjalani hidup yang berjalan tidak sesuai dengan rencana dan keinginan. Saya juga jatuh cinta dengan pendekatan sureal yang ia lakukan pada tokoh-tokohnya, seseorang yang patah hati lalu tinggal di atas awan, terbang melampaui jarak, dibubuhkan di sana sini dalam cara yang natural. Sungguh menikmati hingga lembar terakhir. Seluruh gambarnya pun diselesaikan dengan teknik cutting-paper.

_

Semua review di sini telah dipublikasikan di akun kolektif saya dan beberapa rekan hama buku Lemari Buku kecuali untuk ‘Maya’ dan ‘Atom Jardin’.

Saya mengingkari Kalender Baca 2014 yang saya buat di awal tahun, namun saya cukup senang berhasil menyelesaikan 10 buku di tahun 2014, karena buku yang saya baca dan tidak sanggup saya baca sampai selesai juga cukup banyak. Semoga baca-bacaan di tahun 2015 akan lebih menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 10 BUKU YANG MENEMANI 2014 at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: