REBORN

January 1, 2015 § Leave a comment

Waktu baca: 4-6 menit (disarankan membaca sambil mendengarkan video di bawah)

Sepanjang tahun 2014 tidak terhitung berapa kali saya menonton video di atas, mabuk di antara imaji langit, aksen merah darah, awan, hamparan pasir, solitude, dan biru yang mendominasi. Kadang saya mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap, tapi yang lebih sering terjadi saya mendengarkan sambil mengerjakan hal-hal lain; membalas e-mail, menulis, membuat sketsa, atau mencatat di note book, begitu videonya selesai saya ulangi lagi, begitu terus sampai ada aktivitas lain yang berhasil menghentikan. Sensasi aneh yang dihadirkan bikin saya ketagihan, yang akhirnya saya pahami hari ini, ketika 365 hari kemarin telah selesai dan saya kembali mendapatkan paket 365 hari yang baru.

 Letting Go of Ghosts

1005600_480649148686750_294414574_n

Ada sebuah obsesi yang tumbuh, menjamur, dan menguasai diri saya sejak pertengahan 2013, tanpa saya sadari obsesi tersebut menggerogoti saya pelan-pelan di tahun 2014, melahirkan rasa penasaran lebih dari sebelumnya, keinginan mengendalikan, perhatian berlebihan atas apapun yang sifatnya ilusif, dan merasa pantas untuk mendapatkan semua yang mendatangkan dahaga. Batas antara kewajaran dan ketidakwajaran menjadi semakin tipis begitu juga pantas dan tidak pantas. I have a huge amount of desire for everything and nothing can stop me. Di penghujung tahun sedikit-sedikit saya mengerti dan melepaskan dahaga-dahaga tersebut mendekati ke titik nol, belum tandas tapi sudah lebih baik.

I am dead because I lack desire,
I lack desire because I think I possess.
I think I possess because I do not try to give.
In trying to give, you see that you have nothing; Seeing that you have nothing, you try to give of yourself;
Trying to give of yourself, you see that you are nothing:Seeing that you are nothing, you desire to become;
In desiring to become, you begin to live.”
~Rene Daumal

tumblr_nhcyw1uN3B1tsg9t2o1_1280

Keinginan mengendalikan malah membawa mental saya ke hal-hal yang semakin tidak bisa saya kendalikan. Mencari tahu memang sungguh menantang, semakin dalam menggali malah semakin sedikit hal yang dipahami. Ironis sekali bahwa rasa ingin tahu itu tidak akan membawa ke manapun kecuali ke rasa ingin tahu dan tanda tanya yang lebih besar. Terus menerus sampai akhirnya saya memutuskan menutup pertanyaan apapun dengan tanda titik dan hanya fokus pada suara-suara yang ingin saya dengar dan membangun kenyataan yang ingin saya lihat. The other voice is just a noise background. I have no more questions, I crave only for a lighter contentment.

Is religion just a type of philosophy? Is philosophy a religious activity?

detail

Jika sebelumnya perasaan saya memiliki peran lebih besar dalam menyelesaikan apapun dari kedua tangan saya, tahun ini otak mengambil alih. Saya menjadi lebih aware atas apapun yang saya buat, saya pun sadar momen ‘mengalir’ dalam unconscious realm tidak akan kembali lagi. Saya sempat kecewa, apalagi tahun ini saya terobsesi untuk mengendalikan semua hal, termasuk metode dalam membuat karya. Obsesi ini membuat saya melupakan betapa indahnya membiarkan semua terjadi dengan natural, betapa berat kepala ini bersuara ketika kedua tangan ingin membuat sesuatu. Jika dua tahun lalu saya bisa menyelesaikan satu gambar setiap hari, sekarang dalam satu bulan belum tentu saya melakukan aktivitas menggambar. Banyak pertanyaan di kepala, “Apakah ini cukup bagus?“, “Apakah cukup penting untuk direalisasikan?“, “Apakah punya makna lebih sehingga layak dilahirkan?“. Susah payah saya memahami bahwa proses ini selalu ada, secara berkala akan menjemput, siap atau tidak, mau atau tidak mau. Proses reborn yang selalu menunggu di sudut-sudut waktu, menanti momen yang tepat.

And the greatest war in this world is between you and your mind. Conscious or unconscious.

Keterkaitan dan keterukuran. Selalu ada sebuah theorem untuk menyelesaikan semua. Kesadaran ini sungguh membuat ringan. Terkadang persamaan tersebut sulit diselesaikan, terkadang persamaan tersebut semudah tambah, kali, bagi, dan kurang. Kerumitan dan kemudahan sama-sama mesti diselesaikan untuk mencapai jawaban. Mengkalkulasikan bukan hanya untuk nilai ekonomi dan matematika semata, semua aspek memiliki persamaan tersendiri, tergantung sepeka apa seorang individu menangkap variabel yang harus diperhitungkan di dalam persamaan. Variabel; pilihan; sifat; pihak lain; eksterior; momen; waktu; lokasi; tujuan; kadar; volume; motif; frekuensi; kelas; pola pikir; atensi; tujuan; dan semua hal yang hadir. Untuk mendapatkan kesimpulan, bukan atas dasar benar atau salah tapi yang paling sesuai berdasarkan variabel waktu saat itu. Dan variabel pelaku akan selalu memiliki pengaruh terbesar. Kadang ada juga persamaan yang tidak terselesaikan atau menyajikan tanda tak terhingga sebagai jawaban, momen ini hanya patut mendapatkan perayaan atau kepindahan.

There is a theorem for everything as long as you’re willing to finish the experiment.

Happy 2015. Happy reborn.

_

Jakarta, 1 Januari 2015

Tujuan tulisan ini sesederhana untuk membagi perasaan-perasaan yang hidup hari ini dan pasti terlupakan di esok hari. Sebuah usaha yang ternyata tidak mudah; menuangkan emosi ke dalam bentuk aksara dan bukan hanya merasakannya. Agar dapat dibaca berulang-ulang sebagai pengingat dan rasa syukur atas hari-hari yang telah lewat.

*) Klik gambar untuk sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading REBORN at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: