NATURAL

June 8, 2014 § Leave a comment

Saya percaya hal-hal dalam kehidupan akan baik hasilnya jika terjadi secara natural. Natural dalam arti berasal dari kesadaran yang tumbuh di dalam diri untuk memilih dan melakukan satu hal, bukan dari pengaruh atau dorongan orang lain. Misalnya:

  1. Menikah. Aktivitas ini besar sekali tanggung jawab dan juga beban moralnya. Siapa bilang menikah itu cuma bisa berbekal cinta? Menambatkan hati, kebahagiaan, dan kepercayaan kepada manusia lain tidak dapat dipungkiri berat sekali. Belum lagi proses meredam ego yang cenderung teriakannya semakin lantang seiring bertambahnya usia. Alangkah berbahagianya dua insan manusia yang memasuki bahtera rumah tangga bukan karena dorongan pihak lain atau kondisi (bisa berasal dari orang tua, sosial, ekonomi, dan rasa tidak percaya diri melajang terlalu lama). Menikah bagi saya adalah sebuah proses kebersamaan yang harus terjadi dengan natural, menjalani hidup berdua murni karena dorongan hati keduanya.
  2. Berkarya. Apapun bentuknya, menelurkan sesuatu yang belum pernah ada dari pikiran dan tanganmu bukanlah hal yang istilahnya “ecek-ecek”. Memulainya jelas lebih gampang dari pada mempertahankan diri dan pikir untuk terus menelurkan karya. Berkarya seringkali tidak memberikan keuntungan kapital kepada pembuatnya, jika pun mendapatkan biasanya harus melalui proses panjang dan melelahkan. Berkarya itu seperti cinta tanpa syarat, tidak mendapatkan cinta balasan pun tidak apa asal bisa melakukan, tidak ada yang memuji atau memperhatikan pun tidak apa asal bisa melakukan. Begitu murni tanpa embel-embel kapitalis yang sudah mengepung semua sisi kehidupan. Berkarya yang tulus adalah sebuah pilihan yang mahal sekali. Bagus atau jelek hasilnya, itu persoalan lain.
  3. Bersuara. Entah ideologi, opini, atau pilihan yang muncul karena dorongan dari hati, ibarat mendapatkan sebuah hidayah, titik terang yang membuat seseorang melakukan sesuatu untuk mendukung pemikiran atau pilihannya. Jika dikaitkan dengan situasi sekarang, adalah memilih pemimpin negara. Politik tidak pernah terasa menarik bagi saya hingga masa ini tiba, ketika kemunculan seorang manusia yang bisa “bekerja” dan berasal dari “rakyat” menjadi calon puncak segala pemimpin. Setelah era kegelapan yang demikian panjang, pucuk harapan itu tumbuh kembali di dalam hati. Harapan kalau pada akhirnya ada yang benar-benar “bekerja” sebagai pemimpin dan siap membangunkan negara ini beserta isinya dari tidur yang panjang. Mungkin ada yang menganggap apalah arti pergerakan seorang, dua, atau tiga orang rakyat? Ibarat kepakan seekor kupu-kupu kecil di antara kibasan sayap elang. Bukankah lebih baik jadi kupu-kupu kecil yang bergerak daripada tidak melakukan apa-apa? Cuma ada dua pilihan: kemunduran atau kemajuan. Saya memilih maju.

    “It has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world.” ~Chaos Theory

_

Jakarta, 8 Juni 2014.

Catatan tambahan:
Beberapa hari lalu membaca ini: “Siapapun Presidennya kamu tetap mencari uang dan makan sendiri.“, sungguh miris. Sebuah kalimat pembodohan massa, tidak paham efek domino dan hukum sebab akibat. Semua hal dari yang besar hingga kecil dimulai pada sebuah titik, saling terkait, mempengaruhi satu sama lain. Bersuaralah jika kamu percaya itu memang untuk kemajuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading NATURAL at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: