Bandung, 16 April 2014

April 30, 2014 § Leave a comment

(Waktu baca 2 – 3 menit)

Tadi siang saya jalan kaki dari penginapan saya di jalan Riau menuju jalan Veteran. Saya hanya membawa tote bag berisi kamera, buku Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer, laptop, dan dompet. Perut berisik, sudah keruyukan karena sejak pagi baru diisi satu gelas kopi Torabika Mocca dari buffet penginapan. Saya yang memang dari kemarin sudah hanyut dalam romantisme masa lalu dengan kelezatan batagor Kingsley langsung berjalan mantap menuju lokasi.

Setelah menghabiskan satu porsi batagor seharga Rp 30,000 saya berdiri di pinggir jalan menatap deretan mobil yang mulai padat sambil mencoba mengingat rute angkot menuju kawasan Balubur. Sayangnya saya lupa, pengalaman delapan tahun silam tinggal di kota ini sudah hilang dari ingatan.

Saya jalan kaki lagi menuju jalan Sunda karena seingat saya banyak rute angkot yang melewati jalan tersebut. Beruntung saya melihat angkot Kelapa – Dago, saya menyetop, naik, dan mengambil posisi duduk di sudut. Berhenti di perempatan apotek Kimia Farma saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, pedestrian jalan di kota Bandung memang tidak jauh lebih baik dari pedestrian di Jakarta (yang bolong sana sini) tapi cuacanya luar biasa menyenangkan dan tidak mengacaukan pikiran, sungguh membuat hati senang.

Tiba-tiba saya kebelet pipis, sungguh momen yang tidak pas karena lagi meresapi enaknya jalan kaki. Saya cepat-cepat berjalan ke kompleks pertokoan Balubur mencari toilet. Selesai dari situ saya langsung menuju lokasi revitalisasi lapangan Bawet oleh Rumah Cemara yang terletak di bawah jembatan Pasupati. Pelan-pelan saya menelusuri turunan yang sangat berangin, layaknya area di bawah jembatan terdapat pemukiman penduduk yang padat di sepanjang jalan. Saya terus berjalan, ada semacam rasa bebas yang luar biasa mahal pelan-pelan merambat di hati. Bahwa di hari ini, hari Rabu, setahun yang lalu masih saya isi dengan duduk di belakang meja atau melakukan wawancara dengan seorang desainer interior di restoran yang bersih mengkilat atau menyelesaikan deadline artikel, namun hari ini saya sedang berjalan kaki dan melihat situasi yang mendominasi sudut-sudut negeri ini.

Sambil melawan angin saya terus berpikir tentang Pramoedya Ananta Toer, akhir-akhir ini ada semacam pertanyaan yang otomatis muncul di kepala setiap kali menyaksikan peristiwa yang membuat tergelitik, “Apakah yang akan dipikirkan oleh seorang Pram?”.

Kadang pertanyaan tersebut terasa sangat menyiksa otak saya. Karena jawabannya selalu sama, berpijak ke tanah, mencium dalam-dalam aroma yang ada di sekeliling, sentuh apa yang ada di hadapanmu, di situ, saat itu juga! Bukannya terbang di atas awan, melihat yang hanya ingin dilihat, mencium aroma yang disukai saja. Sungguh, untuk pemimpi seperti saya itu bukanlah hal yang mudah. Harus turun, turun ke bumi!

Sampai di lokasi, teman yang ingin saya temui belum sampai. Saya duduk di pembatas jalan dan mengambil Anak Semua Bangsa dari dalam tas, melanjutkan kembali bacaan yang tidak kunjung selesai. Minke, Nyai Ontosoroh, dengan semua masalah dan kepandaian mereka kembali membius saya perlahan. Ada sebuah cara magis dari Pram untuk menyuntikkan ideologi yang ia pegang ke dalam otak pembacanya, melalui fiksi! Sungguh, seseorang yang pandai menulis dan tahu apa yang harus ia tulis memang sangat berbahaya. Saya tenggelam lagi ke dalamnya, seperti biasa. Teman yang ditunggu akhirnya datang. Teman yang setiap berbicara dengannya membawa saya mencium bau tanah dalam-dalam, mengingatkan kalau aroma langit yang penuh impian memang menyenangkan tapi berpijaklah yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Senang dengan kehadirannya, saya langsung meletakkan buku tersebut dengan rasa tidak sabar ingin melanjutkannya kembali.

Kami duduk, berbincang di tengah terpaan angin dan dera tawa anak-anak kecil bermain di tanah kosong sebelah lokasi revitalisasi. Di tengah obrolan ia menunjuk seorang laki-laki yang memakai ransel besar berwarna hitam. Katanya laki-laki itulah yang mendirikan Rumah Cemara. Sosoknya tidak terlalu besar namun mantap memijak tanah. Rasa hormat otomatis muncul di dalam hati saya, hal yang pasti terjadi setiap kali melihat individu yang melakukan sesuatu dengan melepaskan kepentingan dirinya sendiri. Jarang dan sungguh berharga, yang biasanya disusul dengan rasa malu di dalam diri, kenapa mesti menjadi individu yang masih saja egois dan terlalu banyak memikirkan kepentingan sendiri atau estetika tidak berarti.

Dia mendekati kami berdua, saya berkenalan. Senyumnya sungguh lebar, kulitnya penuh tato, menyembul keluar dari tubuhnya yang mengenakan kaos tanpa lengan dan celana hitam selutut. Dia berkata dalam bahasa Sunda yang hanya bisa saya artikan sepotong-sepotong, sebelum akhirnya berbicara dalam bahasa Indonesia. Aura dirinya sungguh menyenangkan membuat betah berbincang lama-lama. Dia bertanya ramah apakah saya orang Bandung juga dan kami ngobrol ini dan itu, mudah sekali berbicara dengan orang ini. Dia bercerita tentang perjalanannya jalan kaki dari Bandung ke Jakarta, semacam kaul karena sebuah pencapaian. Orang yang sendirian berjalan kaki sejauh itu selama tiga hari dua malam tentunya seseorang yang jiwanya bebas seperti burung di angkasa. Begitu impulsif dan puitis. Tidak mungkin bisa terikat oleh kemapanan yang semu atau kenyamanan kapitalisme yang bersifat utopis.

Saya menyerap dalam-dalam aroma kebebasan yang keluar dari tubuhnya dan aura teman saya, berharap ditularkan semangat dan kemerdekaan mereka dalam berpikir dan berbuat. Dalam hati berdoa, berharap satu hari nanti kebebasan, rasa tidak terikat oleh materi, dan matinya sifat egosentris secara natural juga akan terjadi di dalam diri saya.

Dan catatan hari ini akan saya tutup dengan begini saja, seperti biasa.

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bandung, 16 April 2014 at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: