Tirani*

April 29, 2014 § Leave a comment

(Waktu baca: 2 – 3 menit kalau selewat, 4 – 5 menit jika serius)

Kelamin yang sama atau berbeda rasanya tidak ada bedanya. Sama-sama ada yang lebih dominan, sama –sama ada yang menjadi pihak dikuasai. Hubungan itu seperti sebuah sistem tirani dengan kuantitas penduduk yang sangat kecil, hanya dua orang. Namun tetap saja ada yang menjadi raja dan dayang dalam tirani kecil tersebut. Untuk mencapai sebuah kesetaraan berdasarkan hukum demokratis, sungguh sulit.

Dibutuhkan kestabilan di dalam tirani tersebut, idealnya tanpa fluktuasi yang mana tidak mungkin terjadi. Harus selalu ada yang mengalah, selalu. Manusia selalu berubah. Dari seorang tikus tiba-tiba menjadi seekor macan. Dari seorang keledai tiba-tiba menjadi gajah. Dari seorang burung elang tiba-tiba menjadi ular cobra. Berganti-ganti menyesuaikan elemen-elemen luar dirinya yang menyusup ke dalam jiwa. Tirani ini mesti dijaga dengan keras, dengan sebuah gerbang tinggi dan pengawalan super ketat. Jangan izinkan siapapun di luar tirani untuk masuk ke dalam, entah untuk mengutarakan pendapat atau sekedar mencicipi daya tarik seksual yang dikeluarkan entah siapa di antara dua manusia di dalamnya.

Bingung?

Cobalah berpikir seperti ini.

Mata yang bisa melihat. Dari ujung langit hingga goa yang tergelap. Melihat manusia-manusia lalu lalang di hadapan mata. Lalu tangan yang merasa. Bersalaman dengan mereka yang baru muncul entah dari mana, setiap hari, setiap saat, setiap waktu. Melihat lalu menyentuh tangannya, mengucapkan “Halo apa kabar? Namamu siapa?”

Semua terjadi di luar gerbang tirani tersebut, orang-orang baru, yang bisa saja terlihat lebih menarik, lebih baik, lebih manis, lebih pasrah daripada pasangan tirani di balik tembok tinggi yang dijaga ketat oleh serigala dan naga dari negeri China yang sudah runtuh ke dalam neraka. Sudah jelas terlihat bukan berarti sudah teruji namun sudah dituliskan kalau manusia mudah takluk dengan apa yang dilihatnya.

Timo tidak paham dengan kebahagiaan.

Sejak lahir ia tidak pernah melihat kebahagiaan.

Setiap kali berhubungan dengan seorang perempuan otomatis ia berpikir, “Apa yang kira-kira akan mengakhiri ini?” mengakhiri tirani-tirani yang terbentuk atas kebutuhan kelamin yang telah terbiasa disentuh dan diusap dan dipuaskan. Apakah kebosanan, kecemburuan, atau harapan yang tidak sesuai?

Kebosanan jarang datang karena manusia di hadapan, semakin dikupas ke dalam makin terlihat sumber kepedihan yang lalu bermuara pada rasa bosan. Pedih akan hal-hal yang telah lalu atau harapan sesungguhnya akan hidup, yang lebih banyak tidak terwujud.

Kekecewaan itu seperti luka-luka yang ditutupi oleh kulit luar, halus, tidak terlihat padahal ada yang hampir menjadi luka borok bernanah di dalam, mengeluarkan bau busuk yang sengit. Merusak sel-sel kehidupan yang bermukim di dalamnya. Timo, tidak pernah menemukan perempuan bahagia cukup menarik untuk menemani hari-harinya. Mereka yang berbahagia seringkali terasa sangat membosankan, apalagi yang munafik pura-pura bahagia. Menutupi luka-luka boroknya dengan tawa dan obrolan yang bersifat permukaan saja. Berbeda dengan mereka yang dengan berani menghadapi luka-luka dan menghirup bau nanah yang bermukim di rongga-rongga kosong tubuhnya, mereka yang kenyang mencicipi kehidupan, berani menghadapi, walau harus terpelanting entah kemana lalu terseok-seok kembali ke jalan yang sedang dilewati.

Borok tersebut daya tarik bagi Timo, semakin besar dan busuk borokmu maka ia akan semakin ingin mengupas lebih dalam. Ia nikmati proses menelan nanah tersebut pelan-pelan melalui obrolan-obrolan panjang melewati tengah malam, melalui aktivitas saling meraba, dan memasuki tubuh setelahnya. Seks dan berbicara itu sama. Berbicara menukarkan energi melalui kalimat sedangkan seks melalui sentuhan, ada sepenggal diri yang akan ditinggalkan di tubuh orang lain setelah selesai melakukan hubungan seksual. Dan ada sepenggal dirinya yang ditinggalkan juga di dalam tubuh Timo. Kadang-kadang seperti alien yang berkunjung, asing namun magis, atau hama yang tinggal dan merusak, atau kumbang yang berdengung bising namun menerangi. Karena itu juga manusia yang tengah berhubungan cenderung menjadi mirip dengan pasangannya apalagi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Dua manusia ini tanpa sadar telah melakukan pertukaran energi dan diri. Melalui relung-relung hati turun ke perut lalu keluar dari kelamin, menyebar ke hati, otak, dan seluruh sel darah pasangannya. Mempengaruhi cara pandang, memilih, dan berpikir.

_

*) Sebuah penggalan dari proyek yang telah lama dikerjakan, dibongkar, dan disusun kembali sejak tahun 2011. Semoga, idealnya akan menghirup udara kehidupan di tahun ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tirani* at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: