Because life is too short to focus on one single thing

April 16, 2014 § Leave a comment

(Waktu baca: 2 – 3 menit)

“YOU have to hit the ground running,” the artist Kiki Smith said recently, referring to her process. “You have to have multiple things happening, so you’re not just standing around.” It’s hard to imagine this is much of a risk for Ms. Smith, 56. So far this year, at least, she has hardly stood still.

Ketika saya membaca pembukaan dari sebuah artikel yang mengulas tentang Kiki Smith, saya mengalami apa yang saya sebut instant like pada seniman perempuan ini. Menelusuri karya-karyanya, latar belakang, definisinya atas karya, dan aktivitas yang ia lakukan rasanya seperti menemukan sebuah potongan puzzle yang hilang, sebuah pembenaran atas pendapat yang sudah lama ada di dalam kepala saya, bahwa hidup memang terlalu singkat dan berharga untuk diisi dengan melakukan satu hal yang sama. Tidak banyak yang membenarkan pendapat saya ini, sebenarnya lebih karena zaman yang tidak lagi pro dengan cara Renaissance — hampir tidak ada lagi manusia yang pantas digolongkan sebagai seorang Polymath atau Renaissance Man seperti Leonardo Da Vinci dan Michelangelo. Well.

Penjelasan mengenai Renaissance ideal adalah mereka yang memiliki sikap Sprezzatura:

A courtier should have a detached, cool, nonchalant attitude, and speak well, sing, recite poetry, have proper bearing, be athletic, know the humanities and classics, paint and draw and possess many other skills, always without showy or boastful behavior, in short, with “sprezzatura”.

Bukannya saya mengatakan bahwa yang saya lakukan menyerupai mereka yang hidup di era pergerakan Renaissance, persamaannya hanya terletak pada diversity-nya, sejak dulu saya tidak bisa melakukan satu hal yang sama terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Saya membutuhkan aktivitas lain sebagai distraksi — dalam arti denotatif keberadaan distraksi tersebut membuat saya memiliki fokus serta endurance yang usianya lebih panjang. Lucu memang ketika distraksi justru membantu saya untuk menyelesaikan sesuatu.

Tentu saja dalam deretan aktivitas yang saya lakukan ada satu pemeran utama, yang mendapat porsi fokus paling banyak, menempati skala prioritas tertinggi. Distraksi otomatis mengalah ketika pemeran utama sedang demanding, membutuhkan energi dan alokasi waktu banyak. Mereka ada untuk dikalahkan, memenangkan pemeran utama, karena sejak awal keberadaan mereka lebih kepada support system pada pemeran utama. Sejak akhir tahun 2012 hingga sekarang secara tidak sadar (dan sadar) saya melakukan beberapa profesi sekaligus sebagai seorang ilustrator, seniman, editor, interior stylists, penulis, dan (bahkan) panitia penyelenggara sebuah art event *LOL*. Pada akhir tahun 2013 hingga sekarang daftar aktivitas mengalami penambahan lagi yaitu sebagai visual merchandiser. Tahun-tahun sebelumnya tidak perlu dibahas karena racikan profesi yang saya lakukan jauh lebih ajaib lagi.

Pemeran utama dari deretan aktivitas tersebut adalah visual, ilustrasi, dan seni karena mereka adalah cinta pertama saya dan rasanya bisa berlangsung untuk selamanya. Benang merah dari hal-hal lain yang saya lakukan: kreasi. Yang sifatnya membuat sesuatu dari nol, merancang, dan mewujudkan hal yang tadinya hanya berbentuk ide. Tentu saja ada dampak negatif yang seringkali muncul, yaitu ketika jadwal ideal yang sudah disusun bergeser dari tempatnya, beberapa aktivitas yang seharusnya tidak bertabrakan malah bertemu dalam kurun waktu yang sama. Lelah dan hasil yang terasa kurang maksimal adalah akibat yang harus ditanggung, ketidakpuasan atas hasil ini biasanya membawa saya ke niat untuk lebih fokus. Kalimat “Berhenti banyak mau!” berteriak berulang-ulang di dalam kepala seperti palu godam. Namun hal yang terjadi kemudian bisa ditebak, pelan tapi pasti saya kembali melakukan beberapa hal sekaligus, lagi dan lagi. Karena dengan cara itu saya memang merasa lebih “hidup”.  Hingga di satu titik saya pun pasrah dengan sifat saya yang satu ini, tugas saya adalah mencari strategi dan cara bekerja yang memang dapat mengakomodir semuanya dengan lebih baik.

Adalah sebuah masa di mana saya melepaskan ingin yang banyak itu lalu melakukan hal yang sama terus menerus, turunan dari pilihan ini adalah saya bertemu dengan orang-orang yang serupa, beraktivitas di lokasi yang itu-itu saja, dan membicarakan topik yang sama. Lambat laun saya merasa sesak nafas, seperti kembeli dicekik dengan keharusan untuk melakukan, rasanya serupa dengan titik hidup saat saya bekerja 9-5 di bidang yang tidak saya minati beberapa tahun yang lalu. Pelan-pelan saya pun bergerak keluar mencari distraksi lain yang membuat saya bertemu dengan mereka yang memiliki fokus serta pemikiran berbeda, membicarakan hal-hal lain, tertawa atas lelucon yang belum pernah saya dengar sebelumnya dan saya pun bisa kembali bernafas. Hal-hal di luar pemeran utama itu biasanya secara tidak terduga membawa pencerahan atas pemeran utama, angin segar yang tidak diduga-duga, dan yang paling penting menjauhkan rasa bosan atasnya.

Kembali lagi kepada pilihan.

Ini adalah bentuk kehidupan yang sesuai dengan diri saya, keberadaan seorang pemeran utama dan beberapa distraksi adalah kebutuhan pokok saya untuk terus bergerak. Bukan berarti konsep ini adalah konsep yang paling benar, sebab bentuk kehidupan sifatnya sangat organik dan lentur, sudah menjadi job desc-nya untuk menyesuaikan dengan setiap manusia sebagai carrier-nya. Kembali ke manusianya lagi apakah memang mau mencari bentuk kehidupan yang sesuai baginya atau tidak. Ada banyak trial and error dalam pencarian tersebut, kurang lebih sama seperti proses pencarian pasangan hidup🙂

Sekarang pun saya masih dalam pencarian tersebut, karena sepanjang nafas masih mengisi tubuh, ada kesadaran hidup memang harus terus bergerak dan tumbuh.

Sebagai penutup tulisan ini saya ingin mengutip sebuah kalimat Austin Kleon dari bukunya “Steal Like an Artist“:

If you have two or three real passions, don’t feel like you have to pick and choose between them. Don’t discard. Keep all your passions in your life. Let them talk to each other. Something will happen.

So, be it. Be alive.

_

Bandung, 16 April 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Because life is too short to focus on one single thing at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: