anakmu bukanlah milikmu*

December 4, 2013 § 1 Comment

*) Kahlil Gibran

Ada efek domino yang kacau antara hubungan orang tua dan anak. Beberapa orang tua memberikan segalanya untuk anaknya, mengorbankan mimpinya, kebahagiaannya, dan bahkan hubungan suami istri harmonis yang dimiliki. Manusiawi jika seorang manusia yang merasa telah memberikan segalanya memiliki ekspektasi tertentu, dalam hal ini tentu saja tidak dapat diberi label sebagai pamrih. Karena cinta jenis ini memang tulus sekali, berbeda dengan jenis lainnya.

Namun ekspektasi ini seringkali tidak bertemu jodohnya, karena seorang anak ketika memasuki usia tertentu maka ia akan disibukkan dengan keharusannya menjadi seorang individu dengan pemikiran dan keinginan sendiri. Kehidupan yang harus ia perjuangkan sendiri. Pilihan yang harus dia pikirkan sendiri. Sama seperti orang tuanya ketika berada dalam tahap kehidupan yang serupa. Ekspektasi tersebut pun dipatahkan dengan kehidupan dan usia dan rentetan kewajiban. Manusiawi juga.

Cinta, otomatis menjadi kusut ketika perasaan memiliki menjadi jauh lebih besar daripada kasih sayang itu sendiri. Hal ini berlaku pada segala tipe hubungan manusia, antar jenis, sesama jenis, dan orang tua ke anak juga sebaliknya. Kasih sayang bisa dibilang adalah sebuah bentuk pemakluman akan segala hal terkait manusia yang disayang. Dalam pemakluman ini terdapat keikhlasan, sikap merelakan, selama manusia yang disayang menemukan kebahagiaannya. Kasih sayang tanpa ekspektasi seperti ini jelas sudah langka sekali.

Bukannya orang tua mesti menjadi egois, namun kebahagiaan individu itu memang harus dijaga, jika belum dicapai maka harus dikejar. Kebahagiaan diri adalah pekerjaan rumah wajib setiap manusia yang akan memberikan dampak pada orang-orang terdekatnya, efek domino yang berbahaya sekali, sudah selayaknya dijaga agar tidak sampai kacau.

Manusiawi jika orang tua lupa menjadi suami istri ketika mereka telah memiliki anak. Awalnya sempat mengira memang sudah semestinya seperti itu, ketika menjadi orang tua sudah seharusnya mengalihkan seluruh fokus hidup pada anak tersebut. Sampai sebuah kalimat dari seorang teman yang baru saja menikahi kekasihnya menggeser pemikiran tersebut,

Kemarin waktu bimbingan pernikahan di gereja pendeta sempat bilang kalau dalam pernikahan kebahagiaan yang paling utama adalah suami dan istri, walaupun mereka telah memiliki anak sekalipun.

Ada sebuah jeda di antara kalimat tersebut dan reaksi otak saya.

Namun,

Tentu saja,
Tanpa kebahagiaan yang tulus dari ayah dan ibunya apa mungkin seorang anak dapat merasakan (mengartikan) apa itu kebahagiaan?

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

_

Malam, sepi, di antara awan ungu pembatas mimpi. 5 Desember 2013.

Saya mungkin belum merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, tapi saya adalah seorang anak yang melihat ibu saya menjalankan perannya dengan sepenuh hati di kala susah dan senang. Ketika akhirnya beliau berani melepaskan anak-anaknya untuk menjadi apa yang mereka mau, memilih, dan mengejar kehidupannya sendiri, saya pun sadar kalau beliau adalah ibu yang sangat berbahagia karena sedikit-sedikit telah melepas rasa kepemilikannya.

§ One Response to anakmu bukanlah milikmu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading anakmu bukanlah milikmu* at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: