sudah sewajarnya*

November 2, 2013 § Leave a comment

Waktu baca: 2 – 3 menit saja.

Otak kalau tidak dijaga memang rentan sekali menjadi bodoh. Salah menganalisa, salah memutuskan, salah memaknai, dan salah-salah lainnya. Rasanya seperti sebuah perjalanan berputar-putar tanpa henti menjaga kinerja otak agar tetap pada tempatnya, setidaknya berusaha untuk itu. Kurang lebih kayak makan nasi goreng kambing Lalan (Blok S) pakai kerupuk dan acar timun di jam 12 malam, menyenangkan tapi setiap suapan ke mulut timbul rasa bersalah, namun tetap dimakan sampai piringnya bersih dan licin berminyak.

Kemarin tanpa disuruh dan dirangsang otak rentan ini tiba-tiba berpikir soal “kewajaran”, tiba-tiba juga karena memaknai kata “wajar” lebih dari biasanya segala sesuatu yang tadinya wajar tiba-tiba tidak terasa wajar lagi.

wajar wa.jar
[a] (1) biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun; (2) menurut keadaan yg ada; sebagaimana mestinya: perlu mengembalikan tarian Bali kpd proporsi yg —

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/wajar#ixzz2jSdXkqyC

Beberapa yang kira-kira bisa jadi contoh …

Sudah sewajarnya ibuku menyekolahkanku sampai sarjana, memberiku makan dan pakaian, dan pasrah ketika aku mulai sibuk dengan hidupku.

Sudah sewajarnya sahabatku menemaniku semalam suntuk lengkap dengan curhat busukku waktu aku patah hati.

Sudah sewajarnya pacarku menyiapkan sarapan, menemaniku bobo, dan mendengarkan keluh kesahku atas mimpi yang tak kunjung nyata.

Sudah sewajarnya teman kantorku membantu pekerjaanku di kantor kalau aku sedang tidak bisa berkonsentrasi atau menutupi perselingkuhanku.

Sudah sewajarnya adikku menemaniku ke dokter gigi karena aku phobia alat-alat kecil tajam dan bau obat.

Sudah sewajarnya mbak Inah membereskan kamarku setiap hari, mencuci pakaian kotorku, dan tak ketinggalan piring kotorku.

Sudah sewajarnya keluargaku pasrah menerima keberadaanku yang agak absurd dan kadang-kadang masih memberi dukungan finansial.

Sudah sewajarnya anak-anakku mentaatiku, menjadi berprestasi, bebas narkoba, menerima omelanku, dan kerut di wajahku.

Sudah sewajarnya pasanganku berkompromi akan kerasnya kepalaku dan dengkuranku di malam hari.

Sudah sewajarnya istriku meladeni birahiku, mengusap keringatku yang bau amis, dan mencucikan celana dalamku.

Sudah sewajarnya suamiku mencari nafkah untuk keluarga kami walau dia harus mengorbankan hobi yang ia cintai.

Ah!

Semakin dituliskan semakin terasa tidak wajar!
Kenapa manusia mau berbaik-baik dengan manusia lain sih!

Semakin dituliskan semakin sadar juga kenapa taking for granted menjadi salah satu aktivitas favorit. Karena adanya perasaan “wajar” dan “sudah semestinya” itu tadi. Bentuk perhatian, pengorbanan, kebaikan orang lain terasa sudah semestinya dilakukan, mungkin karena label sosial juga: orang tua, sahabat, saudara, teman, pasangan, anak dsb. Memang HARUS ada yang mengambil hak dan yang berkewajiban untuk memberi. Jadi merasa tidak perlu berterima kasih atau bersyukur.

Bagaimana ya menuliskan ini, kok saya tiba-tiba pening. Mungkin kebanyakan makan Nutella.

Mungkin ya, mungkin …

Tanpa rasa sayang dan peduli yang tulus, hal-hal “wajar” itu tidak akan terjadi. Tidak ada aktivitas memberi dan menerima. Tidak ada yang wajar di dunia ini, karena perasaan sayang dan peduli tidak lahir dari proses yang wajar. Hingga kini tidak ada rumus kimia yang dapat menjabarkan proses tersebut. Perasaan itu seperti sulap, sebuah keajaiban.

Sampai di situ saya melakukan aktivitas flashback dalam slow motion

Mengingat-ingat kebaikan yang saya terima dan sebelumnya terasa “wajar” dan biasa saja tiba-tiba terasa spesial. Ibaratnya baru sober dari mabuk panjang dan menyadari kalau semua “kewajaran” itu berasal dari rasa sayang, hati ini mendadak terasa hangat.

_

Jakarta siang-siang hangat beneran, 2 November 2013.

*) baca: untukku, kamu istimewa …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading sudah sewajarnya* at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: