j e d a

October 6, 2013 § Leave a comment

/je·da/ 1 waktu berhenti (mengaso) sebentar; waktu beristirahat di antara dua kegiatan atau dua babak (spt dl olahraga dsb); 2 hentian sebentar dl ujaran (sering terjadi di depan unsur kalimat yg mempunyai isi informasi yg tinggi atau kemungkinan yg rendah)

berjeda /ber·je·da/ 1 berhenti sebentar; 2 ada jedanya; terputus-putus; ada antaranya

Bulan ini ada sedikit waktu diam. Memang, cuma satu bulan lamanya, tanpa ada pekerjaan yang terlalu menguras fokus atau proyek pameran yang membuat saya ingin mematikan telepon selular selama satu bulan penuh, semata-mata agar bisa berpikir tanpa ada interaksi dengan hal atau mereka yang kurang penting.

Dalam beberapa saat dalam diam saya menyadari, tahun ini begitu ‘penuh’. Penuh dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan, bahkan saya akhirnya berhasil melangsungkan pameran tunggal saya yang pertama. Tidak besar, intimate, dan jujur dari hati, persis dengan yang selama ini saya bayangkan yang semoga dan harus ada yang selanjutnya. Bahagia, sudah jelas, rasanya tidak ada kekecewaan atas hidup yang sanggup mengurangi kesenangan saya atas terselenggaranya pameran tersebut. Sensasi melahirkan sesuatu dari nol, dari tiada menjadi ada dari dua tangan saya sendiri, dan membawanya (juga dengan dua tangan saya sendiri) keluar dari Jakarta ke Yogyakarta sungguh sebuah pengalaman yang membuat saya belajar banyak dan membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri. Hal ini secara tidak langsung turut mengantar saya semakin dekat ke bentuk kehidupan yang saya inginkan. Ah, awalnya saya menuliskan ini ingin bercerita soal bentuk malah belok ke jalur lain, lain kali mungkin.

Di antara semua kesenangan itu, tentu saja, ada beberapa yang di luar rencana, seperti biasa karena saya memang agak sembarangan dalam melangkah, terlalu mengikuti kata hati, impulsif, pasrah dengan rasa senang, mudah terbawa suasana, dan cenderung halusinatif.

Ah, tulisan ini begitu self-centered dan apa adanya, rasanya seperti hampir telanjang.

Halusinasi ini membawa saya ke dalam beberapa bentuk relasi yang sebenarnya, jika saya tilik lebih dalam, tidak terlalu saya butuhkan. Namun di luar butuh atau tidak butuh tetap saja ada pelajaran berharga yang berhasil saya dapatkan, membuat saya merasa menjadi manusia yang berbeda. Pelajaran tersebut otomatis membawa beberapa perubahan, ada yang negatif, yang semoga telah saya tinggalkan,  dan banyak juga hal-hal positif yang akan tetap saya simpan dan jaga baik-baik. Kemudian saya menyadari hal ini, bahwa diri saya membutuhkan sebuah jeda, saya perlu lebih banyak menimbang sebelum terjun bebas ke dalam sebuah relasi, sikap acuh saya atas garis akhir juga perlu dipertajam, lebih sadar bahwa dimana ada awal disitu ada akhir, jangan hanya mengejar perjalanan yang penuh senang dan tawa. Karena kamu bukanlah dia, dia bukanlah kamu, dengan standar yang sama, dengan keinginan yang sama, dan dengan tujuan akhir yang sama. Bahwa rasa senang itu penting namun bukan hal utama yang harus dikejar dari sebuah relasi, ada lebih banyak hal yang lebih penting daripada itu.

Jadi ingat percakapan antara Pak Kucing dan Ibu Ikan di suatu hari silau di Kaliurang,

“Kamu pernah jatuh cinta?”

“Jatuh cinta beneran atau bohongan?”

“Pertanyaan macam apa itu, yang beneran lah!”

“Belum.”

“Masa sih belum pernah.”

“Rasanya tidak adil menganggap halte-halte persinggahan sebagai cinta, tempat berlabuh yang membuat berhenti mencari, itu baru bisa dibilang cinta.”

_

Setelah gerimis kecil di hari Minggu, 6 Oktober 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading j e d a at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: