Malam

August 31, 2013 § Leave a comment

Masih tertera jelas di kepala suasana malam itu. Jalanan yang sunyi dengan beberapa lampu jalan yang nyalanya amat benderang. Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali percakapan dan langkah kaki kami berdua, bergantian menghantam aspal dan paving block. Percakapan lebih terasa seperti permainan bola ping-pong yang saling memantul dengan cepat dan intens. Beberapa kali tawa terbahak-bahak terhempas ke udara, memecah malam yang saat itu suhunya terasa sedikit hangat. Kesal sekali membawa jaket, tapi tadi ketika berangkat memang agak rintik-rintik. Beberapa titik keringat mulai bermunculan di dahinya, yang kemudian kuusap dengan tanganku. Ia membalasnya dengan senyum dan mengecup rambutku. Sesekali kami diam terbawa dengan sunyi di sekeliling, kami berdua memang pencinta sunyi, namun tanpa interaksi bicara senyum tak pernah terasa meninggalkan bibir. Setiap kali menyeberangi jalan ia menggenggam tanganku dengan erat, kadang kami berlari kecil karena timer lampu penyeberangan sudah berbunyi dalam nada yang memburu. Walaupun sedang berada di negara yang dikenal dengan penduduknya yang taat aturan, kami sudah terbiasa menjadi penyeberang jalan di Jakarta yang tidak mungkin menggantungkan nyawa pada pergantian warna lampu lalu lintas. Terlalu riskan.

Saat itu, sama sekali tidak ada bayangan mengenai hari esok, waktu seakan berhenti pada momen tersebut. Masa lalu seakan terhapus. Kesedihan dan kekecewaan di masa lampau menjadi tidak nyata lagi. Hanya seperti rentetan mimpi buruk, lalu terbangun di kehidupan yang ternyata menyenangkan. Kami melewati banyak etalase toko yang menyala terang benderang, memamerkan benda-benda high fashion ternama, trotoar yang lebar tidak membuat kami menambah jarak antar satu sama lain. Kaki rasanya hampir mati rasa karena dibawa menyusuri kota, salah kami yang terlalu acuh untuk mencari cara untuk pulang. Lelah gigih menyerang, kami memutuskan singgah di sebuah supermarket 24 jam untuk membeli dua kaleng bir dingin lalu melanjutkan perjalanan. Tidak ada yang istimewa. Malam itu begitu sederhana, begitu biasa, namun penuh dengan rasa. Malam kebahagiaan, murni tanpa campuran.

Tidak lama isi dua kaleng bir sudah berpindah tempat ke dalam perut kami. Membuat tawa semakin sering muncul walau tanpa canda yang berarti. Kaki yang mati rasa menjadi semakin tidak terasa. Kebahagiaan terasa membuncah, seakan-akan siap tumpah dari dada dan mengalir deras keluar. Di sebuah lampu lalu lintas di dekat hotel kami berciuman, singkat, bertukar aroma alkohol dari mulut masing-masing. Lalu kembali berjalan sambil berpelukan. Sampai di kamar beberapa teman sudah meringkuk kelelahan di tempat tidurnya, bahkan ada yang mendengkur dengan volume naik turun. Beberapa ranjang masih kosong, tampaknya ada yang melanjutkan pesta di club-club hingga pagi, betapa membosankan. Kami pun mengganti baju yang beraroma lembab dengan terburu-buru, terlalu malas untuk cuci kaki, badan yang rasanya seperti retak menuntut untuk langsung masuk ke balik selimut, kami berciuman untuk beberapa lama lalu berpelukan, kemudian jatuh tertidur hingga matahari berada tinggi di atas kepala.

Bahagia sekali.

_

Dari dalam imaji malam dan waktu, 31 Agustus 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Malam at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: