usia dan kerut

August 5, 2013 § Leave a comment

(Waktu baca 1-2 menit)

Betapa saya sangat menyukai perempuan ini, tulisan-tulisannya membuat gentar dan merenung. Selalu antusias setiap kali ia menelurkan tulisan baru, tersenyum ketika membaca racauan 140 katanya, dengan sadar mendengarkan pendapatnya. Pemikirannya seperti racikan yang membuat sel-sel otak turut menganalisa tanpa disuruh. Ia menulis dengan lantang tentang idealisme, kebahagiaan, pilihan, cinta, impian, dan siapa itu perempuan dalam kalimat-kalimat yang membuat pucuk semangat bermunculan dalam diri.

Lantas,
Beberapa waktu yang lalu saya menyadari, perempuan ini telah berubah. Ia masih menulis dengan giatnya namun tidak lagi membuat gentar dan merenung dan menumbuhkan pucuk apapun, malah cenderung membuat kening ini berkerut-kerut dan otak tak henti bertanya, “Mengapa ia berpikir begitu?” Kalimat-kalimat yang dikeluarkan kini lebih banyak yang bermuatan protes, tidak puas, ketidakbahagiaan, dengki? Tanpa sebuah basis alasan yang logis.

Membicarakan ini dengan diri sendiri, apakah, mungkin, ini karena usia? Mungkin, ia sudah lelah ikut berpikir dan menghadapi kenyataan bahwa dalam rentang waktu yang ia lalui ternyata tidak ada perubahan yang berarti. Ia tetaplah ia dengan perubahan yang hanya teraplikasi pada usia dan pertambahan kerut pada kulit. Kini, opininya mengenai hubungan antar manusia, pertentangan, dan hal-hal di sekitar hanya berputar pada ketidakpuasan. Tidak puas. Dan tidak pernah cukup. Tidak pernah ada yang terlihat benar. Rasa suka yang besar itu pun luntur perlahan-lahan, seiring dengan kalimat-kalimat pedas yang keluar dari mulutnya. Yang ditujukan tidak lebih selain untuk memojokkan, seseorang atau situasi.

Sepertinya, mungkin, perempuan ini lupa bahwa rentetan kalimat tanpa sebuah aksi yang melibatkan tangan dan keringat tidaklah lebih dari ribuan ide cemerlang yang beterbangan di udara, menunggu seseorang yang cukup berani untuk membuatnya menjadi nyata, dan dapat disentuh.

Malu-malu saya pun berkaca, ternyata kurang lebih saya adalah sosok yang sama. Lebih pedas. Lebih negatif. Lebih sering protes dibandingkan saya dua tahun yang lalu. Mungkin memang tidak belum sepedas dia, tetapi ketidakpuasan itu terasa semakin merongrong. Bahkan untuk kondisi-kondisi yang saya tahu saya tak punya kuasa untuk mengubah. Bagaimana tidak lelah? Saya berkaca lagi dengan hati-hati dan memutuskan sudah waktunya menata kembali isi hati dan pikir, agar tidak kalah dengan sinisme yang dibawa oleh waktu, bangun dan melawan diri sendiri.

Hati-hatilah dengan usia, karena ia tidak hanya menambah kerut.

_

Hari yang panas di kota langit berawan, 5 Agustus 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading usia dan kerut at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: