perempuan yang mengganti kulitnya

July 27, 2013 § Leave a comment

(Waktu baca: 2-2 menit)

Suatu hari yang biasa di musim yang biasa pula, seorang perempuan memutuskan untuk mengganti kulitnya dengan kulit bunglon. Ia pun berangkat ke dalam hutan gelap yang konon tidak pernah dijamah oleh manusia. Keluarganya telah berusaha menahan dengan rentetan tangis dan amarah, namun tekad perempuan untuk mengganti kulit sudah terlalu kuat untuk dapat ditawar-tawar. Setelah lima hari lima malam menghilang ke dalam gelapnya hutan, ia pun pulang ke rumah dengan senyum terulas di bibir yang merah merekah. Keluarga yang tengah menangis berkabung merasa kehilangan anak semata wayang langsung menyambut penuh sukacita.

Setelahnya, perempuan yang mengganti kulitnya jarang terlihat. Ia menyatu dengan sekeliling, tembus pandang seperti hantu. Memandang orang-orang dengan penuh perhitungan.

Warna kulitnya selalu berubah-ubah sesuai lingkungan yang sedang diinjak. Jika sedang berada di tengah lumpur maka ia menjadi cokelat dan mengeluarkan bau tengik seperti lumpur. Jika sedang berada di sebuah taman bunga dengan anggrek dan kembang sepatu bermekaran seketika ia menjadi setangkai bunga yang mengeluarkan wangi-wangi yang mengawang. Berada di tengah kaktus tajam, dalam hitungan detik ia menjelma menjadi kaktus hijau totol yang sangat beracun.

Berbekal kulit bunglon ia pun menjerat lumpur, bunga, dan kaktus di bawah ketiaknya. Melalui rentetan kata yang berbasis kebohongan ia membuat telinga-telinga mendayu lemah pada janji-janji yang tidak akan pernah ditepati. Ia tidak tahu wujud dirinya yang sebenarnya, apakah ia lumpur, bunga, atau kaktus, dan ia tidak peduli, pun tidak mencari tahu. Ia hanya ingin mencari titik yang paling menguntungkan baginya.

Perempuan yang mengganti kulitnya tidak tahu memberi nilai pada janji yang ia keluarkan. Ia tidak tahu apa itu menjadi etis. Ia tidak tahu  manusia sudah semestinya mencari bentuknya sendiri. Apakah ingin keras seperti karang, lembut seperti bunga, fleksibel seperti daun, ramah seperti langit, atau rendah hati seperti padi. Ia menutup mata dan sibuk mengubah-ngubah bentuk dirinya sesuai kebutuhan, tanpa peduli siapa dan apa yang termakan oleh wujudnya yang berganti tanpa kenal waktu.

Kadang ketika diserang jemu, ia akan menghabiskan waktu bersama lumpur namun tetap mengirimkan wangi bunga-bunga menusuk kepada taman, ketika sedang menari bersama kaktus, ia menyempatkan diri untuk menulis surat berbau sampah pada lumpur. Melakukan hanya karena ia bisa, mengganti kulit dan bahasa sesuka hati tanpa alasan seakan langit alpa memberinya otak.

Wahai perempuan yang mengganti kulitnya, kau sungguh membuat bulu kuduk merinding.

kota dengan langit berawan gemuk, 27 Juli 2013

Untuk perempuan-perempuan yang saya hormati karena telah memilih wujudnya dan menjaga setiap kalimat dan keputusan yang keluar dari mulutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading perempuan yang mengganti kulitnya at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: