30 hari setelah #30haritidakonsumtif

June 28, 2013 § 6 Comments

Sejak postingan #30haritidakkonsumtif hampir satu bulan yang lalu. Saya pun sampai pada beberapa kesimpulan:

  • Ketika manusia dengan sadar memutuskan satu hal misalnya: saya tidak mau belanja. Maka seluruh sel dan syaraf di dalam tubuh niscaya akan membantu manusianya untuk menepati janji tersebut. Namun menjanjikan dalam hati saja ternyata tidak banyak membantu. Sebuah janji lebih terasa seperti janji ketika dituangkan menjadi tulisan (yang dapat dibaca banyak orang) atau diceritakan pada orang lain.
  • Buktinya, saya telah berjanji dan menceritakan namun saya tetap belanja. Janji memang ikatan yang lemah. Hasilnya: 2 buah buku (ah, seharusnya ini tidak apa kan?) dan 2 busana (fuck).
  • Buku pertama Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Paraenom: judul dan desain sampulnya catchy sekali, terlihat menyegarkan dari literatur lokal lain. Saya pun rela melanggar janji saya tidak membeli, walau pada akhirnya saya agak menyesal. Karena ternyata saya hanya menyukai satu cerpen saja yang judulnya pun saya sudah lupa, mungkin tidak sesuka itu.
  • Buku kedua Essays in Love karya Alain de Botton sudah lama saya masukkan ke dalam daftar “harus punya” dan ketika ingin membelinya di Amazon bulan lalu, sayang sekali kosong. Maka ketika pada suatu hari saya berada di Aksara Pacific Place dan melihat 1 buku ini teronggok di meja display, tanpa berpikir langsung saya beli. Saya bahkan langsung pipis ke toilet untuk membacanya. I know pathetic. Semata-mata agar tidak keluar uang tambahan untuk duduk manis di cafe.
  • Tentang 2 busana. Pekerjaan sebagai stylist di majalah interior membuat saya seringkali harus menyambangi pusat-pusat perbelanjaan untuk mencari produk-produk fotogenic untuk difoto. Biasanya berbuntut panjang seperti: membeli kopi mahal ini itu, menonton film, membeli cemilan-cemilan yang rasanya tidak karuan, dan yang paling parah melihat plang SALE 70% di XSML. Di situlah saya mematahkan janji saya sendiri. Saya membeli sebuah rok span warna biru dan celana pendek motif polkadot. God please forgive my sin.
  • Rok span warna biru saya beli karena saya menyukai rok span panjang namun merasa rok span hitam yang saya miliki sekarang tidak cukup memenuhi kesukaan tersebut. Lalu saya pun menginjeksikan pembenaran di kepala saya: tidak apa membeli dua benda serupa yang penting akan sering dipakai. Pembenaran.
  • Celana pendek polkadot: suka sekali polkadot, tidak pernah tahan. Bahkan tidak cukup kuat sebagai pembenaran.
JUNE

Dosa-dosa bulan Juni

Di luar 4 pengeluaran tidak direncanakan di atas yang lain lebih berupa pengeluaran rutin dan “mau tidak mau harus dilakukan”. Misalnya krim muka dan lensa kacamata baru, I know. Tapi kacamata lama saya sudah bengkok, membuat hidung dan kepala pening. Mau tidak mau harus mengganti dengan yang lebih ringan. Atau ini juga sebuah bentuk pembenaran?

Lalu suatu hari saya menyadari satu hal ketika sedang menyeruput kopi mahal di salah satu pusat perbelanjaan ibu kota: saya memang berhasil mengurangi aktivitas belanja yang tidak perlu tapi rasanya aktivitas ngemil tidak perlu saya meningkat. Mungkin hal ini sebagai bentuk pembenaran atas sudah jarang belanja benda yang tidak perlu.

Damn.

Saya pun memutuskan melakukan #30haritidakkonsumtif episode 2. Bagaimana mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dalam hal lifestyle yang tidak berbentuk, misalnya: duduk-duduk cantik, minum-minum kopi, dsb. Karena yang tidak perlu itu sebenarnya tidak pernah dan akan kita perlukan.

  1. Saya masih ingin sekali memiliki tote bag putih yang dijual di Biasa.
  2. Saya ingin sekali memiliki tas Thailand yang super kece di Dia.Lo.Gue.
  3. Saya ingin sekali memiliki Melissa wedges warna biru laut yang baru saja saya lihat tadi di 365 Yard Sale. Fuck. Lokasinya bisa dicapai dengan jalan kaki!

Dan ternyata membunuh keinginan konsumtif membuat saya sampai pada beberapa pemikiran yang semakin membuktikan kutipan,

Happiness cost nothing.

  • Setiap kali berhasil menahan diri tidak membeli suatu benda, I feel happy. Cost nothing!
  • Yoga. Hampir satu bulan penuh saya melakukan yoga setiap hari. Setiap mengakhiri aktivitas tersebut rasanya seperti dilahirkan kembali (berlebihan sih, minimal saya merasa lebih alive and breathing). Cost nothing! (cuma perlu download aplikasi Daily Yoga)
  • Menggambar tanpa tujuan. Cost nothing!
  • Memasak. Percaya atau tidak sekarang saya punya aplikasi resep di smartphone dan dengan religius menonton beberapa video masak Jamie Oliver dan tak bosan-bosan menelusuri blog-blog masak. Absolutely cheaper than restaurant.
  • Bagaimana menyentuh orang lebih banyak? (caranya masih belum kepikiran). Thinking, cost nothing!
  • Bagaimana agar tidak hanya memikirkan karya dan keegoisan pribadi saja. Karena perubahan itu lebih berarti kalau dirasakan oleh orang banyak. Thinking, cost nothing!

Sekian beberapa pointers dari usaha tidak menjadi budak kapitalis dan konsumerisme. Dan selamat datang #30haritidakkonsumtif episode 2.

PS: Ingin sekali menjual SEMUA barang yang tidak pernah digunakan selama 6 bulan terakhir di garage sale bertajuk “Things I don’t use or wear for the last 6 months but I still keep it.” Anyone?

Tagged:

§ 6 Responses to 30 hari setelah #30haritidakonsumtif

  • titiw says:

    Zupeeer inzpiriiing!! selama ini saya selalu berusaha untuk tidak konsumtif. Tapi sekali patah.. kayak ember bocor.. ga bisa ditambal. Mungkin suatu niat jg harus ditulis agar otak selalu diingatkan kembali. Thx for sharing this one.🙂

  • mau ikutan dooonk klo bikin garage sale. sepertinya barang-barang saya akan lebih bermanfaat bersama orang2 yang akan memakainya.. *sigh*

  • nylanamiya says:

    mungkin drpd dijual, bisa dicoba disumbangkan ke panti asuhan. ngeliat reaksi orang lain yang bersyukur banget bisa dapat “baju sumbangan atau baju bekas” mungkin bisa jadi jeweran yang lebih keras untuk sedikit berhenti konsumtif. mungkin🙂

    • Lala Bohang says:

      Yang disumbangkan jelas ada, tapi ada beberapa barang yang memang mendapatkannya agak perjuangan (dalam nilai uangnya) tapi ternyata jarang dipakai juga. benda-benda seperti ini biasanya ada yang dengan senang hati mau membeli 2nd. seperti itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 30 hari setelah #30haritidakonsumtif at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: