nikmat

May 28, 2013 § Leave a comment

(Waktu baca: 3-3 menit)

Pulang dari perjalanan Hong Kong yang melelahkan dan membuat saya terlalu banyak melihat ke bawah (literally, karena sepatu-sepatu yang mereka kenakan oh-terlalu-ingin-punya-semua), saya malah dijangkiti penyakit cacar air.

Mungkin, ini ketika saya dihinggapi virus cacar air.

Pasrah, sayapun istirahat total (karena tidak bisa kemana-mana dan ngapa-ngapain juga). 5 hari pertama begitu penuh derita karena tubuh saya panas tinggi dan blurrp-blurrp mendadak tumbuh di tubuh saya, ngeri sekali. NGERI SEKALI. Di awal saya parno luar biasa karena di Cina sedang ada virus Influenza A yang berbahaya, saat sampai di Soekarno Hatta saya disambut dengan X-Banner yang tidak menolong situasi yang isinya kira-kira seperti ini:  “Jika Anda demam, batuk, dan sesak nafas segera periksakan diri Anda pada pelayanan kesehatan bandara.” Sumpah saya langsung parno karena 3 gejala itu saya rasakan, langsung pikiran saya melayang ke film Contagion dimana tokoh-tokohnya meninggal satu persatu hanya karena virus menjijikkan dari seekor babi di Cina. See, that’s why I don’t eat pig, they’re full with disease and virus and fat.

Namun, setelah panas saya mulai turun dan blurrp-blurrp mulai jinak (konon, ini momen penularan yang paling juara dan sangat tidak disarankan keluar rumah karena akan jadi penyebar virus) saya senang. Kenapa senang? Karena secara fisik sebenarnya sudah sehat kembali, saya sudah bisa melakukan yoga di pagi hari sejak dua hari lalu dan bisa membaca, menulis, dan menggambar kembali.

Nikmat sekali ya ketika hari bisa dikontrol oleh diri kita sendiri, hanya melakukan yang disukai.

Sekarang jadi berpikir, rutinitas saya memang cuma tiga hari seminggu. Sudah bisa dibilang beruntung dibandingkan yang rutinitasnya masih Senin-Jumat bahkan Sabtu (beda cerita kalau orang bersangkutan bisa menikmati dan mencintai rutinitasnya). Jujur, saya mencintai rutinitas saya, karena ada rasa mencari-cari, terjepit, dan diburu-buru yang entah kenapa kadang-kadang saya sukai, tapi sejak 1 bulan kemarin saya merasa ada hal yang lebih penting untuk dikejar. Maklum manusia memang hobi sekali mengejar yang belum dimiliki. Kalau sudah dimiliki akan sibuk mencari sasaran baru untuk dikejar. Lingkaran syaitanirrojim.

Nikmat sekali ya ketika kita bisa memilih, apa yang mau dilakukan dan tidak, apa yang mau dipedulikan dan tidak.

Pada titik ini, saya merasa beruntung karena diberi kemampuan berpikir dan memilah. Saya merasa beruntung saya hanya melakukan yang saya sukai.

Memang, momen sakit tidak bisa kemana-mana ditemani blurrp-blurrp ini pada akhirnya tidak terasa begitu buruk. Karena tidak terlalu banyak melihat dunia luar dan banyak sepi, otak saya jadi agak pandai memilah-milah pilihan dan keputusan. Meresapi yang dimiliki, yang diingini, dan yang sebenarnya saya kira saya inginkan padahal tidak. Dan yang paling penting, bersyukur. Bersyukur di usia saya yang 28 tahun I definitely living the live that I want, taking the right path. And that’s the greatest blessing.

Sebenarnya tulisan ini tidak jelas apa tujuannya, tapi semua yang jelas tidak akan menjadi jelas jika tidak ditemani dengan ketidakjelasan.

Jakarta yang terasa luar biasa nikmat, Mei 2013.

PS: Satu bahan utama renungan di kala sakit, betapa sehat itu penting. Berinvestasi untuk kesehatan memang harus jenderal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading nikmat at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: