enam hari untuk Malang, Bromo, dan Bali

May 14, 2013 § 2 Comments

(Waktu baca: 5-7 menit)

Sebuah perjalanan yang mendatangkan senyum hingga sekarang.

Sejauh ini tahun 2013 telah memperlakukan saya dengan sangat baik bahkan terlalu baik. Awal tahun dibuka dengan art festival Indonesia Art Festival (ARTE) 2013 yang mengajarkan banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui sebelumnya. Mengenal orang-orang baru dari beragam bidang dan ketertarikan, yang semakin menyadarkan saya kalau perbedaan itu selalu baik dan jika kita mau membuka diri akan membuat jiwa semakin kaya. Selain itu saya berkesempatan sekali mendayung dua pulau terlampaui untuk berpartisipasi dalam pameran “New Adjustment” sebagai bagian dari ARTE 2013 yang dikuratori Ade Darmawan. Lalu di bulan Februari saya melakukan pameran pertama saya di luar Indonesia tepatnya di News Agency Gallery, Sydney bersama seniman-seniman perempuan dari Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Kemudian sebuah ajakan menyenangkan pun kembali datang di awal bulan Maret, “mau nggak melakukan perjalanan ke tiga kota untuk menggambar dan bertemu orang-orang yang inspiring?”

Untuk pertanyaan seperti ini kata tidak jelas-jelas bukan pilihan.

Perjalanan yang bertajuk Escape ini pun dilangsungkan pada 22-26 April 2013 melintasi Malang, Bromo, dan diakhiri dengan Bali. Saya tidak akan bercerita panjang lebar dan terlalu mendetail soal apa saja yang saya lakukan, tapi lebih fokus pada satu hal penting yang saya pelajari bahwa sebuah perjalanan bukan hanya soal mencari keterasingan pada sekitar yang dulunya menjadi acuan saya dalam perjalanan, tetapi juga manusia yang ditemui, pembicaraan yang dilakukan, dan pergeseran nilai yang mungkin terjadi karenanya.

Jakarta dan rumah galeri di Cibubur

  • Tanggal 22 April kami semua berkumpul di Starbucks, Cilandak Town Square. Wajah-wajah mengantuk namun penuh semangat terlihat dari seluruh tim Escape yang jumlahnya sekitar 12 orang. Setelah sarapan dan melakukan obrolan pemecah kantuk (serta bergegas ke apotik terdekat untuk membeli Antimo) kami bergerak ke arah Cibubur untuk mengunjungi hunian pelukis senior, Haris Purnomo.
  • Jujur saya tidak terlalu mengikuti karya Haris Purnomo tapi mengetahui nama besar beliau dan mengenal putrinya yang berbakat. Tapi saat saya menginjakkan kaki di rumah Haris Purnomo terasa sebuah settlement dan atmosfer content yang begitu kental.
  • Saat itu di galeri personal beliau sedang disibukkan dengan persiapan pameran komunitas street art. Saya melihat satu persatu karya yang digambar langsung pada tembok tersebut dan kagum dengan fleksibilitas Haris Purnomo yang membaur dengan seniman-seniman muda dan memberikan tempat ekspresi buat mereka.
  • Saat kami semua duduk di atas kursi rotan mungil di teras beliau yang asri kalimat-kalimat yang rasanya sangat jujur dan apa adanya terluncur dari mulutnya. Beberapa yang saya ingat sampai sekarang.

“Waktu seusia kamu saya sedang gila-gilanya, saya tidak peduli apakah karya saya sesuai dengan market saat itu atau tidak. Tapi saya melakukan yang saya mau dengan sebaik mungkin.”

“Idealismelah yang menghidupi saya.”

“Yang paling penting itu adalah bagaimana memperkenalkan karya kita kepada orang-orang. Mereka suka atau tidak, itu bukan lagi urusan kita.”

“Bagi saya, mereka yang muda itu penting untuk dirangkul.”

“Kemampuan untuk berkarya tanpa peduli apakah ada yang datang dan mengapresiasi itu penting.”

  • Setelah makan siang kami pun bertolak ke stasiun kereta api Gambir, sepanjang perjalanan saya agak merutuki kehati-hatian saya dalam bertindak dan … berkarya. Semestinya bisa lebih lepas dan tidak peduli. Lebih suka-suka. Kira-kira begitu.

Bersama Haris Purnomo

Bersama Haris Purnomo

Malang dan merasa kecil

  • 23 April pagi kami sampai di stasiun kota Malang. Ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di kota yang pelan dan bersahaja ini. Dan tentu saja perjalanan dengan kereta api tidak pernah biasa bagi saya, selalu menyenangkan mendengarkan repetisi deru mesin kereta dan pemandangan sendu di saat subuh. Bahkan di malam hari saya sempat menuliskan notes pendek mengenai perasaan saya atas perjalanan kereta api.
  • Di Malang kami mengunjungi Museum Musik Indonesia yang didirikan oleh musisi dan pecinta musik senior di kota Malang. Bisa dibilang mereka adalah komunitas pertama yang fokus mengumpulkan dokumentasi musik Indonesia dari kaset, plat, dan poster.
  • Saat itu saya salut dengan semangat nothing to lose mereka, karena yang mereka lakukan murni tidak mencari profit dan hanya berbasis kecintaan pada musik semata. Sebuah ekspresi cinta tanpa syarat, yang selalu saya sukai.
  • Untuk menyambut kami komunitas tersebut menggelar sebuah konser mini dari musisi muda Malang, yang ditutup dengan acara ngobrol-ngobrol yang lebih seperti tanya-jawab. Ada sebuah pertanyaan yang jujur sampai saat ini saya sayangkan masih bercokol di dalam pemikiran pemuda daerah.

“Kira-kira apa yang harus kami lakukan agar musisi-musisi luar Jakarta tidak dipandang sebelah mata? Karena selama ini yang menonjol dan mendapat sorotan selalu saja musisi asal Jakarta.”

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Eric dengan sangat baik.

“Sebenarnya pendapat seperti itu tidak benar karena pada akhirnya yang berbicara adalah kualitas dari produk itu sendiri. Di era sekarang dimana semua orang dapat dengan leluasa dan gratis mem-publish karyanya di internet saya rasa tidak ada alasan untuk menyalahkan letak geografis. Mungkin sesimpel belum cukup berkualitas untuk mendapatkan sorotan.”

  • Lokasi, asal, dan pendidikan memang sudah terasa tidak signifikan untuk era sekarang. Saya mengenal seorang fotografer yang masih mahasiswa dan tinggal di kota Malang namun fotonya luar biasa bagus.
  • Saya juga mengenal seorang aktivis musik asal Makassar yang rajin sekali menggelar konser musik di kotanya dengan kemasan yang bagus sekali. Eric juga menceritakan pengalaman terakhirnya menjadi juri di sebuah festival musik di Bali dan salah satu finalisnya dari kota Palu, yang jelas jauh lebih kecil daripada Malang.
  • Sekarang ketika semua begitu mudah, tidak ada lagi alasan yang layak menjadi alasan.
  • Kembali ke  Museum Musik Indonesia, jika ingin berpartisipasi dalam dokumentasi musik Indonesia dan hal tersebut penting sekali. Silahkan langsung menghubungi nomor di bawah ini:

Museum Musik Indonesia

  • Selain Museum Musik Indonesia momen berkunjung ke Secret Batu Zoo juga menyenangkan. Terutama saat berada di kandang  Capybara dimana dengan santai beberapa jenis hewan duduk santai sambil menikmati matahari sore, rasanya lucu dan seperti menyaksikan dongeng binatang masa kecil ke dalam bentuk nyata.
  • Di tempat ini saya menggambar beberapa binatang, membuat catatan, dan mengambil foto menggunakan instax.

Capybara

  • Sebelum Batu Secret Zoo kami sempat singgah sebentar di air terjun Coban Rondo yang berarti air terjun janda. Khas wisata alam Indonesia ada cerita rakyat di balik air terjun ini. Tentu saja khas cerita rakyat Indonesia, kisahnya berputar pada kesetiaan dan cinta yang berakhir tragis.
  • Dari dulu saya takjub dengan kekayaan cerita rakyat Indonesia yang jumlahnya sedemikian banyak (penulis atau pencatat masa itu produktif sekali!) dan bisa begitu baik memetakan kondisi kultur dan masyarakat di zamannya. Sesuatu harus dilakukan untuk menjaga cerita-cerita rakyat itu.
  • Di perjalanan kami berhenti sebentar di bukit Panderman yang menyajikan pemandangan kota Malang. Melihat hamparan rumah yang lebih seperti jamur dan dimensi pohon yang besar sungguh sulit untuk tidak merasa kecil, saya-kamu-kami-kita hanya partikel kecil dari semesta.

Bukit Panderman

Air terjun Coban Rondo

Entrance Batu Secret Zoo

“Harimau adalah kucing berukuran besar.”

Saya, Sakti, dan Poppie.

Bromo dan kata sepi dalam 3 dimensi

Dua kali ke tempat ini sensasi magisnya tetap sama, kesempatan ketiga dan keempat dan selanjutnya sepertinya akan tetap begitu.

Full team Escape minus Eric

Full team Escape minus Eric dan Agung

Bali dan ibu Robin Lim

  • Kembali lagi ke Bali. Mungkin karena masa kecil saya dihabiskan di kota Palu, Sulawesi Tengah dan dapat melihat pantai hanya dengan berjalan kaki, kota dengan dominasi pantai tidak pernah gagal untuk membuat senang. Walaupun Bali dilengkapi dengan kepadatan manusia yang keterlaluan.
  • Kali ini pantai tidak terasa seperti menu utama karena kami berkesempatan untuk bertemu dengan ibu Robin Lim, pendiri Yayasan Bumi Sehat yang terletak di Ubud.
  • Ibu Robin Lim adalah sosok yang sudah jarang saya temui, beliau adalah tipe manusia yang melepaskan keegoisan diri dan murni melakukan hal yang giving back to the society. Mungkin keegoisan ini tidak lepas dari kultur praktis dan kepungan achievement oriented yang mendominasi manusia-manusia modern, sehingga ke-aku-an yang lebih sering terlihat.
  • Idealisme ibu Robin yang memiliki prinsip “Kelahiran seorang anak tanpa trauma dan cinta kasih merupakan sebuah kontribusi bagi dunia,” secara instan langsung saya amini. Sempat sebuah pemikiran bahwa orang tua yang “sakit” secara psikologis menurut saya sebaiknya menyembuhkan dirinya dulu sebelum memutuskan untuk memiliki dan membesarkan seorang anak, bahwa anak itu bukan hanya seonggok daging yang membesar seiring berjalannya waktu tapi seorang manusia yang pemikiran dan sikapnya tidak lepas dari pengaruh orang tuanya. Sick parents, sick child, sick human. Berhubung saya belum pernah punya suami dan anak, pendapat ini memang agak sedikit sok tahu. Tetapi mending sedikit sok tahu daripada tidak berpikir.
  • Yayasan yang didirikan ibu Robin adalah sebuah tempat persalinan non profit yang menganut pemahaman gentle birth yang bertujuan untuk memberikan proses persalinan tanpa trauma pada sang ibu dan bayinya. Berbicara langsung dengan beliau yang sering mengucapkan “I love you” benar-benar memberi energi positif bagi saya yang di Jakarta seringnya menerima asupan energi negatif lalu kembali memantulkannya pada orang lain. Dan sulit untuk tidak terharu saat menyaksikan video yang menobatkan beliau sebagai CNN Heroes di tahun 2011 (air mata saya bahkan menetes setetes dua tetes kala itu, malu-malu saya hapus, ternyata yang lain juga sedang menangis bombay):

Kenapa kita jarang mengucapkan I love you? Setiap ketemu orang biasakan mengucapkan I love you, karena cinta tidak akan pernah habis untuk dibagikan. ~Robin Lim

Ya,ya, saya menjadi agak sentimentil.

_

Escape journey by Green Sands

Liburan, jalan-jalan, keluar dari hiruk pikuk kehidupan, kabur dari realita sebentar, sampai dengan hanya sekedar untuk melihat bingkai alam yang indah adalah “Escape” bagi sebagian besar orang. Sementara bagi Green Sands; Escape itu tidak sekedar melepaskan diri dari rutinitas tetapi juga terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi hidup kita dan sekitar kita. 

Travel when possible.”

*) Seluruh foto adalah dokumentasi Green Sands.

Tagged: ,

§ 2 Responses to enam hari untuk Malang, Bromo, dan Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading enam hari untuk Malang, Bromo, dan Bali at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: