komplementer

April 10, 2013 § Leave a comment

Waktu masih sangat belia, kira-kira saya sedang duduk di bangku SD. Saya sering dibuat bingung oleh tingkah laku sepupu saya yang saat itu sedang menjadi mahasiswi (semok dan segar kiwis-kiwis) dan beberapa kali terlihat kebingungan/sedih/putus asa oleh hubungan cintanya.

Saya yang saat itu sudah bisa dibuat bahagia luar biasa dengan bermain sepeda di pantai, maraton film kartun di RCTI setiap Minggu pagi (dari Remi-lengkap dengan kacamata 3 dimensi, Candy-Candy, dan Ranma 1/2) sungguh sering dibuat merasa geli dengan tingkah sepupu saya. Beberapa kali saya mendapati tulisan puisi picisan buatannya di buku notes kuliah yang sering ia tinggalkan tergeletak terbuka di atas meja belajar (sungguh bukan salah saya). Saya sering mengejek dan mencibir setiap kali dia turut menyanyi penuh perasaan di lagu-lagu menye-menye di TV.

She put love more than life itself.

Lalu saat saya berusia kurang lebih 18 tahun saya mendapati diri saya melakukan semua hal picisan yang dilakukan oleh sepupu saya. Saya kebingungan/sedih/putus asa karena hubungan cinta. Kala itu saya sedikit menertawakan diri saya sendiri yang ternyata sama saja tingkahnya dengan sepupu saya, yang frustasi karena gagal dalam hubungan. Saya menulis puisi-puisi picisan di notes kuliah saya, mendengarkan lagu “In A Rush” dari Blackstreet dengan mata berkaca-kaca, juga sering sekali tiduran di atas ranjang sambil menerawang ke langit-langit. Entah bagaimana perasaan adik saya, Fakhri, harus melihat langsung semua hal menye-menye saya di depan mata kepala sendiri. Sungguh tabah dia.

Lalu 10 tahun sudah berlalu. Ya, 10 tahun🙂

Ternyata saya yang mengira akan menikah muda, tinggal di pinggir pantai dengan pria tampan, dan memiliki banyak sekali binatang peliharaan harus menjalani jalur lain. Jalur yang di luar rencana saya, tidak buruk malah sejauh ini sangat seru dan menyenangkan sekali. Saya masih mengalami kebingungan/sedih/putus asa karena hubungan cinta ada yang sangat norak (sumpah hanya terjadi satu kali) dan seterusnya saya lebih memilih untuk menanggapi hal ini sebagai sebuah komplementer hidup.

Karena kehidupan itu yang terbesar dari semuanya.

Manusia, perasaan, sahabat, teman hidup, hewan peliharaan, makanan, ambisi, emosi, keinginan, cinta, pasangan, meeting, teman, karya, pekerjaan, deadline, detik, pameran, idola, musik, film, komitmen, anak, benda, alam, popularitas, apalagi social media tidak berharga itu hanyalah komplementer dari semesta yang sedemikian rumit dan besar. Manusia sebagai komplementer sudah semestinya dapat memposisikan diri dalam posisi yang terbaik bagi dirinya sendiri, melakukan dan memilah-milah apa yang paling cocok baginya. Memutuskan akan menjadi komplementer seperti apa dan membutuhkan komplementer apa saja.

Dengan “mengecilkan” semua hal-hal kebendaan yang bisa disentuh tersebut semuanya terasa lebih ringan dan memiliki maksud yang tidak utopis. Tidak ada manusia yang melewati hidup manusia lainnya tanpa memberikan sebuah efek positif untuk yang selanjutnya. Tidak ada perasaan  yang singgah tanpa memberikan sebuah pelajaran yang lebih membesarkan hati. Tidak ada hal-hal buruk yang terjadi tanpa kekuatan baru untuk menghadapi hal-hal lainnya. Semuanya begitu kecil, lebih kecil dari molekul yang beterbangan di udara.

Pemahaman komplementer ini belum menghampiri otak saya di tahun 2009-2010, saat itu saya menemukan hal yang saya cintai dan memposisikannya sebagai ratu kehidupan yang lebih besar dari kehidupan itu sendiri. Padahal sama seperti yang lain, pekerjaan yang saya cintai dan membuat saya lebih hidup hanyalah sebuah komplementer dari semesta dan kehidupan. Molekul kecil yang bekerja sebagai pelengkap. Sebuah gerigi yang membuat roda besar berputar. Saat itu saya terlalu fokus dan mengalahkan komplementer lain yang sebelumnya sudah ada di kehidupan saya demi sebuah molekul baru yang menarik hampir seluruh perhatian saya. Roda saya macet. Ketidakseimbangan pun datang, mendatangkan kelelahan yang cuma bisa disembuhkan dengan menyapa komplementer lainnya. Hitam dan putih. Yin dan Yang.

Lalu di masa sekarang, sebagai manusia yang amat manusiawi dan seringkali lupa, pemahaman komplementer ini sering terlewatkan oleh saya. Terutama saat hal yang menyenangkan sedang menghampiri. Kebahagiaan memang candu namun juga cuma komplementer belaka dan bukan sumbu utama. Kemudian hal-hal di luar rencana seperti biasa bermunculan satu persatu, beberapa hal tidak berjalan sesuai dengan rencana, biasanya di momen ini saya mengingat-ngingat kembali mengenai rumusan komplementer ini. Dan ketenangan yang juga komplementer akan menghampiri saya. Semuanya hanyalah hal kecil yang berfungsi sebagai pelengkap, tidak lebih. Termasuk diri sendiri.

Kutipan yang saya rasa sesuai dan mewakili “betapa kecilnya” diri, semua hal yang dirasa, dan ragam hal di sekitar adalah sepotong lirik lagu dari Float yang berjudul Surrender:

To the future we surrender, life’s to live and love’s to love.

Mari menjadi kecil.

_

Jakarta di momen sendirian kesukaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading komplementer at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: