cerita mural

February 5, 2013 § Leave a comment

Beberapa minggu lalu saya mengerjakan sebuah proyek mural yang cukup besar di restoran fusion yang sepertinya sangat kekinian. Dengan penuh keyakinan dan semangat saya belanja cat dan segala macam keperluan berdasarkan pengalaman membuat instalasi yang cukup besar di sebuah pameran di Senayan City. Ketika tiba waktu pengerjaan barulah saya (dipaksa) sadar dan mengakui kalau cat yang saya beli salah dan sangat tidak cocok diaplikasikan pada dinding, karena bahan dasarnya minyak padahal cat akrilik akan lebih memudahkan pekerjaan.

Terus terang, saya sangat kecewa dengan diri saya sendiri. Kenapa tidak bertanya terlebih dahulu. Kenapa bisa-bisanya memutuskan hal seperti ini tanpa bertanya dulu pada ahlinya. Kenapa rasa ingin tahu saya begitu sempit. Kenapa saya harus begitu yakin dengan diri saya sendiri?

Keyakinan, memang terkadang menyesatkan. Apalagi bila keyakinan tersebut tidak berlandaskan pondasi yang kuat.

Namun partner saya dalam mengerjakan proyek ini menenangkan, “kesalahan seperti ini biasa terjadi, apalagi dalam karya mural. Warna, jenis gambar, dan luas bidang sangat mempengaruhi tingkat kesulitan. Biasanya jalan keluar akan ketemu dalam proses pengerjaan.” Saya pun menurut. Dengan tabah mengaplikasikan cat bahan dasar minyak yang licin tersebut ke atas tembok. Jujur saya kesal, karena memakan waktu yang sangat lama untuk menghasilkan sebuah garis lurus (mungkin benar saya ini freak garis). Tapi lambat laun, entah kenapa saya dapat menikmati waktu pengerjaan yang agak lamban tersebut. Atau mungkin sesederhana saya sudah beradaptasi dan terbiasa.

Beradaptasi dan keterbiasaan memang akan datang seiring berjalannya waktu. Selama keinginan mencapai titik tersebut memang ada.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan memang jauh lebih lama jika dibandingkan dengan cat akrilik. Ada beberapa drama dengan kuas dan thinner yang mesti dilewati. Ada beberapa rasa kesal yang harus ditelan. Ada perasaan marah sama diri sendiri yang harus terjadi. Ada beberapa waktu yang tadinya terasa terbuang karena kebodohan. Tapi lewat proyek ini saya jadi belajar beberapa hal berharga yang mungkin akan membuat saya lebih bisa menerima jika hal-hal yang diluar harapan. Bahwa sesulit atau seburuk apapun itu, waktu akan menyembuhkan. Cepat atau lambat bukan masalah, yang paling penting bagaimana membiasakan diri sehingga menemukan celah untuk menikmati dan tersenyum atas itu.

Lalu pada akhirnya, drama, rasa kesal, marah, dan waktu yang tadinya terasa seperti pemborosan energi kini lebih seperti perjalanan yang memang harus terjadi agar hasil akhirnya terasa manis.

Sesulit apapun aspek yang kini, sedang, atau akan dilewati, jika memang ingin menjalani pasti lambat laun akan menemukan celahnya.

mural

partner mural saya sedang mengukir urat pohon halu

Mungkin … memang, dalam prakteknya tidak semudah dalam mural. Karena yang satu ini mau tidak mau, senang tidak senang harus diselesaikan.

_

Pagi buta di Jakarta, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading cerita mural at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: