figuratif

January 5, 2013 § Leave a comment

Kemarin, ada obrolan yang sampai detik ini masih berdiam di dalam kepala saya.

_

Kenapa meletakkan figur di semua karya?

Tapi figur yang saya letakkan seringkali menghadap ke belakang (hal ini pun baru saya sadari)

Meletakkan figur membuat semua lebih mudah, emosi yang ingin disampaikan, cerita yang ingin didongengkan.

Betul juga …

Images begitu banyak di dunia ini, kenapa semua hal harus selalu disampaikan lewat figur? Sepertinya ini adalah sebuah gelombang tren yang diikuti begitu banyak orang. Tanpa sadar mungkin.

Beberapa kali ada eksplorasi ruang juga, tapi memang tetap ada figurnya. Entah cuma tempelan atau sebagai pemeran utama.

Sadar tidak sadar figur tersebut diharapkan menjadi pemeran utama, menyelesaikan karya.

Hm … mungkin sesimpel menggambar figur itu menyenangkan. Koneksi terhadap diri sendiri menjadi lebih terasa.

Banyak sekali hal yang bisa diceritakan, walau tanpa figur. Bahkan biasanya akan lebih retoris, lebih membuat berpikir. Karena maksudnya akan sedikit bias.

_

Sedari awal pola pikir “tidak ada yang benar dan yang salah” dalam metode membuat karya (dalam bentuk apapun) sudah begitu mantap menjadi prinsip. Tetapi obrolan semalam cukup menggoyahkan, cukup membuka mata, dan rasanya baru terbangun di dalam sebuah kotak dengan jendela tertutup.

Saatnya membuka jendela tersebut, menyentuh dan bermain dengan lebih banyak hal.

_

Jakarta di akhir pekan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading figuratif at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: