L

January 2, 2013 § 2 Comments

  • Seorang teman perempuan menyukai laki-laki ini, mereka menjadi dekat, berbagi idealisme serta mimpi, dan rentetan kalimat puitis saat orang-orang sedang tertidur. Membaca obrolan mereka seakan-akan sedang berada dalam salah satu setting film Michel Gondry, begitu whimsical dan tidak nyata serta membius, beberapa dengan metode yang agak berlebihan memang. Seakan-akan mereka berdua bersama-sama sedang merangkai sebuah ensiklopedia perasaan yang menyentuh dan sedikit getir, terasa amat jujur. Chemistry memang tidak saya rasakan di awal perjalanan, tapi kata seorang teman saya itu memang sedikit sok tahu dengan chemistry. Well, I just can feel it. Mereka pun semakin dekat dan menjalin intimasi yang buat saya luar biasa menghanyutkan. Lalu pada satu malam tanpa jarak waktu yang bermakna, si laki-laki menceritakan kalau ia sedang jatuh cinta, dengan perempuan lain. Hanya dalam jangka waktu dua atau tiga minggu perkenalan atau apapun itu saya agak lupa, laki-laki ini dalam seketika memutuskan kalau ia jatuh cinta. Saya tidak pernah menyangka jatuh cinta bisa se-instan itu, apalagi sebelumnya baru saja menghabiskan beberapa kantung perasaan dan momen nyaman dengan perempuan lain. Seandainya saya bisa jatuh cinta dalam kurun waktu dua minggu, semua tentu akan menjadi lebih mudah.
  • Mereka adalah favorit, tenang dan tidak menghanyutkan seperti saling mengisi layaknya potongan puzzle yang teriris sempurna dan ditakdirkan bersama. Tidak ada guncangan berarti. Yang perempuan tenang dan santai dan apa adanya, yang laki-laki pun terlihat menikmati ketenangan yang ada. Mudah ditebak, mereka memutuskan untuk bersama dalam arti sebenarnya. Mengikat diri satu sama lain dengan penuh kesadaran. Beberapa langkah sudah dilakukan, kami turut tersenyum dan bahagia. Tapi cinta itu memang barang taik yang tidak bisa diduga pergerakannya. Pada satu hari perempuan berbagi cerita kalau semua proses yang sudah terjadi itu sudah ia lupakan. Laki-laki memutuskan bahwa mereka harus berjalan masing-masing, alasannya tidak masuk di akal saya, seperti biasa. Saya tidak mengerti dengan rentetan alasan-alasan tidak penting yang bisa membuat perasaan terbengkalai. Ya, sampai kapanpun juga tidak akan ada yang mengerti. Mendengarkan kisahnya satu persatu hanya membuat saya semakin tidak mengerti, memang perempuan sendiri pun tidak mengerti. Semua ketidakmengertian ini begitu melelahkan. Bahwa garis awal dan akhir itu sebenarnya begitu melekat satu sama lain, hanya tinggal menunggu salah satu pihak memutuskan untuk membuka kenop dan keluar, menjauh dan membawa pergi semua kenangan yang ada. That easy.
  • Saya selalu memuja Tuhan, bukan sebagai penganut yang baik memang. Tapi Tuhan itu benar-benar menjadi topangan terakhir ketika semua hal tidak bisa diharapkan lagi. Ketika abu-abu sedang mendominasi. Entah dia mau menopang atau tidak, tidak peduli juga. Tapi tidak dalam kisah perempuan ini, Tuhan hanya menjadi duri dalam daging. Penghalang kebahagian. Pembunuh perasaan. Pemicu ego. Ego bahwa cinta itu memang sudah semestinya memercayai sosok Tuhan yang sama. Padahal saya percaya Tuhan dari semua agama di muka bumi ini adalah satu, cuma manusianya saja yang kelewat rajin mengotak-ngotakkan Beliau dalam berbagai wajah hanya untuk wacana duniawi yang tidak berarti. Manusia dan kebodohan, begitu melekat. Begitu tidak terpisahkan. Rasanya terlalu picik untuk mengakhiri kebahagiaan yang sudah dibangun bertahun-tahun hanya untuk sebuah ideologi yang bahkan tidak ada yang tahu apakah benar atau salah. Kenapa tidak menjalani yang jelas ada di depan mata saja. Menurut saya kebahagiaan hati itu kadang lebih sulit dicapai daripada surga. Imaji-imaji cetek seperti keluarga sakinah mawaddah memang tidak salah, tapi kalau memang kebutuhan untuk pergi ke rumah Tuhan bersama-sama adalah sedemikian penting, begitu dangkal. Saya yakin Tuhan bukanlah sosok egois yang tidak peduli dengan kebahagiaan ciptaan-Nya. Pada akhirnya, saya kok merasa Tuhan sama sekali tidak salah, karena sekali lagi, kebodohan dan manusia begitu melekat. Begitu cepat mengambil konsep sendiri tanpa sebuah analisa yang lebih dalam. Mencari alasan yang lebih masuk akal. Tidak adil untuk menjadikan Tuhan sebagai sebuah alibi. Ia terlalu baik dan welas asih untuk itu.

_

Jakarta, 2 Januari 2013

§ 2 Responses to L

  • Indah says:

    Hello there…
    nama saya Indah,
    sebenarnya sudah lama saya jadi penikmat karya Lala, – baik illustrasi maupun tulisan.
    I’m a scientist but art is my passion🙂
    Kombinasi antara teh manis hangat dan Karya Lala adalah surga kecil saat saya ingin menghentikan waktu sejenak.
    Saya sangat suka sekali…

    Namun, post ini menggerakan saya untuk berkomentar.
    Pagi ini, lagi-lagi teh manis hangat merindukan teman duet-nya, -karya anda.
    dan pagi ini post Lala membuat saya teringat akan kota yang pernah saya tumbuhkan dalam kepala saya. Yang saya tumbuhkan agar pria itu tetap tersesat disana.
    nyatanya kota itu sekarang tidak ada.

    saya sadar, Lala pasti tidak mengerti, sama seperti saya yang tidak mengerti, kenapa saya menumbuhkan kota itu dan menghancurkannya, Kenapa saya berani bertaruh menjadi arsitek itu ?
    Tak’ akan ada yang tau, tak’ akan ada yang mengerti, justru disitulah memang indahnya kisah sang teman perempuan dan pria itu kan ?

    doa saya,
    semoga teman perempuan Lala tetap berbahagia selalu.
    semoga saja ketidakmengertian yang ia rasakan adalah yang terbaik untuknya.
    karena, terkadang… tidak tahu dan bahagia itu lebih baik,
    semoga saja pandangan teman perempuan Lala akan cinta, tuhan, dan semesta belum menjadi taik. -seperti yang saya rasa
    semoga…

    salam hangat dari si teh manis,

    • Lala Bohang says:

      Halo Indah,

      Maaf saya baru baca reply-mu terima kasih ya senang sekali bisa menemani kamu minum teh hangat🙂

      Kota imaji, untuk apapun itu adalah sesuatu yang akan membantu seseorang untuk tumbuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading L at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: