adiksi

December 5, 2012 § Leave a comment

*

Mungkin bukan titik terendah dalam hidup, tapi entah kenapa terasa begitu emosional.

Jika pernah menyusuri wind tunnel mungkin seperti itu rasanya. Hembusan angin yang tidak santai dari berbagai arah, tubuh digerakkan otomatis ke kiri dan ke kanan. Keinginan berbicara pun surut karena membuka mulut sedikit saja langsung disesaki dengan angin. Ada rasa menyenangkan berada di dalamnya, mungkin sejuk, karena pengaruh angin yang berputar . Atau melihat rambut-rambut orang yang beterbangan tanpa arah lalu repot merapikan, padahal dalam seketika dihamburkan lagi oleh angin.

Kata seorang teman, “harus lebih santai.”

Santai.

Santai.

Ingin sekali menjadi santai. Tapi tidak bisa.

Senang berada di dalam kecepatan yang tidak terukur.
Senang berada di dalam ketidakjelasan yang membias.
Senang berada di dalam lingkaran berputar berulang.

Ingin berhenti, duduk santai, lalu berbincang seharian dengan kamu. Untuk menertawakan angin juga orang-orang yang masih menari di dalamnya. Ya kan keinginan untuk santai itu ada, keyakinan untuk santai yang belum ingin muncul. Seandainya sedikit mendorong. Seandainya sedikit ditarik. Sesungguhnya wind tunnel pun memiliki keinginan yang tertutup dengan kekurangajaran angin.

_

Ditulis di sebuah tempat di mana empat lima hati dipatahkan tanpa ampun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading adiksi at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: