dramatisasi ilusi

November 8, 2012 § Leave a comment

Ada dramatisasi kepemilikan dalam sebelas bulan. Lengkap dengan ilusi kebahagiaan di dalamnya. Kata memiliki saat itu terasa begitu indah, sempurna. Memiliki  dilakukan dalam metode mencekik, mengikat sampai sulit bernafas. Sungguh, tercekik dalam kebahagiaan itu ternyata begitu menghanyutkan, dalam jangka beberapa waktu mengencangkan ikatan tersebut lalu menari bersama di dalam tali-tali yang melukai kulit luar. Tapi begitu bahagia, begitu tenggelam, begitu indah. Bahkan dibayangkan sekarang pun, semua kegilaan itu begitu memabukkan, walaupun tidak ingin kembali.

Kemudian tiba pada sebuah fase kebebasan. Tali itu hilang digantikan oleh hamparan laut tanpa tepi dan ombak. Cuma ada biru, angin yang nyaris tidak terasa, dan desiran yang seperti berbisik. Semua begitu tenang dan terbersit di dalam pikiran yang lamban ini, “Inilah bahagia.”. Duduk diam lalu berkaca dengan melihat pantulan diri sendiri sambil mencari-cari yang seharusnya mengikat. Tidak ada, namun tidak apa. Sinting memang ketika terbiasa dicekik dengan cinta lalu menemui kasih yang begitu membebaskan. Sampai terkadang kesempatan untuk mencicipi yang lain datang begitu mudahnya, tapi tidak diambil. Karena menyangka inilah bahagia, ketenangan, kestabilan tanpa sedikit pun rasa memiliki. Sungguh kestabilan lebih berbahaya daripada sebuah cekikan menyiksa. Kestabilan membuat kompromi lebih besar, “iya” lebih mudah terucap. Bahkan nyaris 1,000 hari berlalu tanpa keinginan untuk mundur.

Keduanya selesai dan mendatangkan lelah yang amat sangat.

Menilik ke dalam dan menemukan biang keroknya. Otak, otak dan hati yang bersatu padu dalam merancang sebuah dramatisasi yang sebenarnya tidak penting. Normal, begitu sulit dicapai ya? Menjadi sinting itu sungguh begitu mudah daripada menjadi normal. Menjadi di tengah-tengah itu adalah opsi terakhir. Tidak terlalu tercekik tidak terlalu terbebaskan. Tidak terlalu bahagia tidak terlalu datar. Tapi sungguh sulit, siapa juga orang gila yang bisa mengontrol?

Lelah.

Dan lelah-lelah selanjutnya.

Sungguh malas.

_

Jakarta, 8 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading dramatisasi ilusi at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: