relativitas

August 18, 2012 § Leave a comment

Awal mengetahui Einstein dan hukum relativitasnya yang tersohor yang terpikirkan adalah pintu ke mana saja ala Doraemon, atau ilmu memindahkan diri seperti dalam serial White Snake Legend (ya, referensi yang sangat 90an).

Dan sampai pada hari ini, dimana saya melihat rumah di kampung halaman bagaikan kotak ajaib yang menyimpan ribuan film yang otomatis terputar setiap kali saya melihat satu tempat. Saya pun mengerti arti relativitas ala Einstein. Relativitas yang ditopang oleh memori dan kebahagiaan pada satu momen. Tidak mesti fisik yang melanglang buana mengarungi waktu (seperti pintu ke mana saja Doraemon atau Pai Su Cen). Perjalanan itu ada di dalam memori. Membangkitkan perasaan, entah senang atau bahagia saat melalui momen tersebut.

Taman di tengah rumah Opa. Mengingatkan saya akan acara bermain di pagi hari sebelum Opa berangkat bekerja, beliau jarang sekali memiliki waktu bermain di pagi hari berlama-lama untuk saya. Mungkin karena itu juga setiap melihat taman  tersebut langsung muncul adegan kami berdua sedang duduk di lantai dengan mainan peralatan masak plastik saya. Kami menggunakan daun-daun kecil sebagai piring, lalu bergaya seakan-akan sedang menyiapkan sarapan. Hari itu Opa bermain agak lama dengan saya, setelahnya saya pun memakaikan beliau kaos kaki.

Lampu merah di perempatan Gamma College. Ada Koko,Asril, Atir, Citho, dan Reynita. Kami bukanlah lima sekawan yang mengisi hari dengan berbagai kegiatan petualangan. Lebih karena dipersatukan oleh persamaan sederhana. Saya tidak bisa ikutan bolos bimbingan dengan teman-teman SMP se-almamater (mereka pura-pura berangkat bimbingan, dilanjutkan makan pisang goreng di pinggir pantai, lalu keliling kota dengan motor beramai-ramai), sedang saya terlalu takut jika kepergok Mama atau Papa saya di jalan. Saya pun bergabung bersama geng almamater lain dimana sepupu dan sahabat saya sudah lebih dahulu ada di dalamnya. Yang teringat di kepala saya tentu saja bukan jam belajarnya, tapi jam istirahat, di mana kami akan berjalan beriringan, tertawa tanpa sumber yang jelas, menyeberang jalan, lalu menghabiskan waktu dengan makan tahu isi yang besar dan enaknya keterlaluan. Kadang bermain jelangkung (yang mana saya cuma duduk ketakutan di pojokan) atau melakukan kegiatan khas remaja yang sedang pubertas seperti membeli kondom lalu meniupnya menjadi balon (tentu saja, anak pria yang melakukan ini).

Ikan bolu bakar. Di luar Sulawesi lebih dikenal dengan nama ikan bandeng. Sewaktu kecil, entah bagaimana saya menarik kesimpulan bahwa ikan bolu bakar dengan sambal dabu-dabu adalah sumber kebahagiaan almarhum Papa saya. Biasanya setiap Sabtu malam kami akan bersiap-siap, mengenakan baju yang nyaman (kaos, celana pendek, dan sendal jepit) untuk berangkat menuju pusat ikan bakar terbesar di kota kami. Namanya Kentaki (Kentara Kaki) karena orang dari jalan raya dapat melihat kaki tamu yang sedang makan. Tempatnya tidak mewah, hanya terdiri dari deretan tenda-tenda lusuh dengan sablonan berbagai jenis ikan. Tempat itu selalu penuh dengan orang, dan Papa beberapa kali tidak sengaja berjumpa dengan temannya. Yang dipesan selalu sama, ikan bolu bakar bagian kepala, sambal dabu-dabu, dan nasi putih. Kami memiliki bagian favorit yang sama yaitu perut ikan, lembek, berlemak, dan lezat sekali di lidah.

Taman depan rumah Mama. Adik saya Fakhri adalah seorang pengkhayal dan kreator ulung. Sudah terlihat sejak usia yang sangat muda saat dia masih duduk di bangku TK. Di matanya taman depan bukan hanya sekedar taman, dia dan sepupu seringkali menggelar pagelaran teater kecil-kecilan di sore hari, hanya menggunakan sprei sebagai cape (ceritanya mereka hidup di era kerajaan masa lampau), dan ya mereka juga membuat skenarionya. Biasanya ditutup dengan omelan Mama saya karena spreinya jadi kotor kena tanah.

Jalan Marjun Habi dan Diponegoro. Rumah Mama dan Opa saya cukup dekat, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu kecil saya seringkali jalan kaki ke rumah Opa dengan iming-iming es krim dan makanan kecil lain. Acara jalan kaki ini ditemani juga dengan rasa takut, karena tetangga kami di Jl. Marjun Habi memelihara anjing yang tampangnya sangat Bronx (helper kami sekali waktu pernah dikejar dan hampir digigit). Perjalanan singkat rumah Mama dan Opa ini tanpa saya sadari menjadi momen me time yang menyenangkan. Kadang saya cuma singgah sebentar hanya untuk makan puding atau kue fla (Oma saya adalah koki yang sangat handal) lalu kembali lagi ke rumah Mama. Kalau beruntung Opa akan mengajak saya ke pertokoan terdekat lalu saya akan membeli beberapa benda yang menurut Mama tidak penting untuk anak seusia saya, cologne, buku diary dengan gembok kecil, dan jepit rambut.

Dengan menuliskan ini, beberapa momen dari masa lampau mulai berdatangan di dalam kepala saya, yang akan segera saya rangkum. Salah satu alasan saya menuliskan ini adalah ketakutan saya akan lupa, menyaksikan Oma melupakan saya sudah lulus kuliah atau belum sungguh memotivasi saya merekam waktu, setidaknya apapun itu yang masih tersisa.

_

Palu, 18 Agustus 2012

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading relativitas at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: