ketidakpedulian yang bertoleransi

July 20, 2012 § 4 Comments

Titik ketidakpedulian saya yang tertinggi adalah tahun 2008. Saya melakukan yang saya suka, tanpa harap atau mendengar apa kata orang lain. Saya juga tidak memiliki keinginan terlalu banyak, entah kenapa. Lalu melantun bersama hari dan waktu, sampai ke hari ini. Saya pun menyadari, mungkin saya mendengar dan bertanya terlalu banyak. Hingga akhirnya suara yang ada di kepala pun kebingungan lalu bersembunyi di sudut-sudut gelap tak terlihat.

Saya pun mulai mengejar hening. Ketagihan luar biasa dengan perjalanan ke luar rutinitas, masuk ke alam. Tersesat di antara deretan pohon. Memejamkan mata saat mendengar debur ombak. Saya ingin kembali ke alam, kepada rasa keterasingan terhadap sekitar. Kepada tidak terlalu mengenal apa yang dilihat dan dirasa.

Pantai Petitenget, Bali, Mei 2012

Lalu datang keinginan keluarga. Menurut mereka usia saya yang sekarang sudah pantas untuk masuk ke dalam tahap pendewasaan, yang dalam kamus mereka adalah hidup yang penuh kepastian. Pasti tinggal dimana, pasti hidup dengan siapa, pasti menghabiskan sebagian besar waktu dimana. Terus terang, saya agak ketakutan. Saya kurang nyaman dengan kepastian akan segala sesuatu. Saya pengejar segala sesuatu yang asing, yang membuat mata dan hati saya terkejut.

Ini bukan tulisan seorang wanita dalam quarter life crisis. Karena quarter saya telah lewat, dan pikiran ini telah bercokol semenjak saya remaja. Tulisan ini adalah bentuk keberanian untuk mendengarkan keinginan saya yang sebenar-benarnya, yang mana tidak selalu dilakukan oleh semua orang. Memang agak memusingkan dan menyusahkan.

Terkadang saya berpikir, seandainya saya terlahir sebagai seorang gipsi, bebas mengelana dengan sesama gipsi, binatang, dan manusia kerdil. Mencium bau udara di seluruh benua dan mengecap udara asin dari hamparan laut pantai-pantai yang masih perawan. Bukan tanpa alasan cerita masa kecil yang masih jelas teringat sampai sekarang adalah Rona Anak Sang Penyamun dan Sirkus Pak Galliano. Saya masih hafal deskripsi karavan para gipsi dalam kisah Sirkus Pak Galliano. kecil – cukup – penuh warna. Atau petualangan Rona saat menyusuri hutan lebat yang terhampar tepat di depan gerbang puri tempatnya tinggal, lengkap dengan kuda Unicorn, kurcaci penyanyi, dan monster yang hanya muncul di kala kabut menyesaki hutan. Ya, Kartini memang hebat, tapi saya juga terlalu mengagumi Pippi Longstocking dan kekuatannya mengangkat kuda dengan kedua tangannya sendiri.

Seorang manusia tentu saja boleh berkeinginan ini dan itu, tetapi dalam praktiknya hidup adalah rentetan bentuk toleransi tanpa henti yang mau tidak mau harus dilakukan. Membahagiakan orang yang seumur hidupnya telah melahirkan, berusaha membahagiakan, dan memenuhi kebutuhan saya.

Jika … seandainya … bisa lepas tanpa menghiraukan toleransi saya akan mengepak satu tas berukuran sedang lalu menyusul adik saya di negeri nun jauh di sana, ya ternyata saya tidak segipsi yang saya kira. Mencoba menjadi pelayan cafe kecil sambil melukis setiap hari. Berteman dengan musisi jalanan atau pemain biola atau bintang teater lokal, lalu berjalan-jalan di akhir minggu untuk menyesap udara di beberapa negara tetangga. Tanpa menghiraukan apa itu jodoh, keturunan, dan pekerjaan.

Dan setelah beberapa perjalanan kemarin. Bali, Dieng, dan Yogyakarta.

Setengah berharap semoga dia yang rasanya paling saya inginkan untuk menjadi pendamping juga memiliki secuil jiwa gipsi di dalam kepatuhannya terhadap hidup dan waktu. Rasanya kegipsian yang sempat tertidur mulai menyeruak ke luar.

Semoga. Semoga.

_

Jakarta, 20 Juli 2012

Tagged:

§ 4 Responses to ketidakpedulian yang bertoleransi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading ketidakpedulian yang bertoleransi at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: