antara post holiday syndrome dan liburan setelahnya

May 30, 2012 § Leave a comment

Thursday, May 31 2012
1:23 PM

Empat hari tiga malam di Bali, merasa jiwa ini selaras dengan alam, slow pace, indah sekali. Ya?

Kembali ke kota Jakarta saya heran tidak ada post holiday syndrome dalam jiwa, apa tanda betah di kota ini tapi nggak mau ngaku? Pura-puranya suka dengan keselarasan alam tapi betah di kota. Entahlah.

Bali tanpa Kuta dan Legian adalah keseimbangan. Duduk berlama-lama di pantai yang sepi, sambil baca buku lalu akhirnya ketiduran adalah hari yang sempurna buat saya. Oh, dan tentu saja melihat pendar oranye di hari senja, bukan main hidup rasanya.

Kembali ke malam ini, deadline yang menumpuk karena nekad liburan membuat saya kembali kurang tidur, mengeluh? Rasanya tidak. Ini hanya satu bentuk melawan lupa. Saya menuliskan ini sekarang agar saya tidak lupa bahwa hari ini saya masih merasakan sisa-sisa alam dibarengi deadline yang bikin kurang tidur. Beberapa waktu lalu sempat merasa ‘berlebihan’ jika harus menulis apa-adanya-suka-suka-gue-di-sini karena pura-pura bego kalau yang baca tulisan di sini hanya saya sendiri, sudah tidak berhasil. Tapi apa daya menulis di atas kertas menjadi demikian sulit sekarang … kemalasan? Mungkin saja. Bukan, saya cinta lingkungan (bohong).

Sampai saya memutuskan untuk melawan lupa, ya saya pelupa akut, bahkan saya sudah melupakan menu makan siang saya hari Jumat lalu (emang siapa juga yang masih ingat?) apakah itu Nasi Pedas Ibu Andika atau roti dingin dari pesawat?

Pameran Re.Claim, Galeri Nasional.

Sepupu saya kirim message, 1 Juni ini dia kembali ke Jakarta, kuliah S2 nya di Paris sudah selesai. Saya senang, ingin cepat-cepat ketemu. Lalu tertegun.

Masih ada di ingatan 2 tahun lalu waktu farewell dengannya, lalu sekarang 2 tahun kemudian dia sudah S2 dan sempat mengecap kehidupan di Paris, jauh dari semua kemudahan dekat orang tua, berita politis tidak penting, dan akan pulang untuk menikahi pacarnya. WOW. Saya? Sudah berumur 27 tahun (!). Ini bukan persoalan malas tua, takut menua tanpa pencapaian. Tapi lebih kepada saya punya teori kalau generasi saya (90an) dan gaya hidup tidak sehatnya sungguh berkemungkinan kecil untuk berumur panjang, bukannya saya mau hidup seratus tahun. 60-70 tahun maksimal? Atau jauh lebih pendek daripada itu kalau Dia menghendaki.

Mengingat waktu berjalan cepat dengan sangat keterlaluan, apa tidak sebaiknya melakukan apapun itu yang dimau?

Misalnya.

Jatuh cinta lagi.
Selaras dengan alam lagi.
Lari-lari kecil setiap pagi.

Entah.
Setidaknya dengan mencatat hal ini sekarang saya tidak lupa kalau saya pernah berpikir seperti ini. Kira-kira begitu.

_

Foto dari sini (karena saya kehilangan card reader saya-alhasil foto-foto jamuran di kamera. rr)

Hampir lupa,

Biar isi dan judul tulisan relevan, liburan selanjutnya adalah 8 Juni ke Dieng untuk Float. Kali ini mau menyelaraskan diri dengan pegunungan dan musik syahdu. Sementara … kembali ke deadline.

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading antara post holiday syndrome dan liburan setelahnya at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: