Ketergesaan yang tidak perlu

May 15, 2012 § 2 Comments

Berjalan tergesa. Berlari. Terburu-buru. Pencapaian.

Adalah kesan yang saya tangkap dari TVC di atas. Tentu saja tulisan ini tidak berusaha mengelak fakta bahwa Asia memang sedang giat-giatnya mengejar ketinggalan di bidang teknologi dan ekonomi.

Kembali pada tergesa.

Sebagai penduduk kota Jakarta selama kurang lebih lima tahun lamanya, resmi sudah saya kehilangan gaya hidup rileks dan menikmati waktu seperti ketika saya masih berdomisili di kota Bandung. Efek menyesapi nikmat hari yang saya pelajari selama delapan tahun di kota kembang tersebut, pupus begitu saja dalam durasi satu tahun menetap di Jakarta. Kejam? Tentu saja tidak, Jakarta adalah kota mewujudkan mimpi dan setahu saya tidak ada mimpi yang mudah dicapai. Dan itu adalah pendapat saya satu tahun yang lalu.

Saat ini tergesa menjadi momok kreativitas, sebagai seseorang yang menggantungkan hidup pada kualitas otak kanan. Hal ini tidaklah berdampak baik. Cynical dan introvert, adalah dua teman baru yang akhir-akhir ini mulai muncul. Tentu saja saya lawan dengan sekuat tenaga, seringkali dengan menggambar seperti ini atau menulis suka-suka di jurnal pribadi. Singkatnya, ketergesaan ini mulai menggerogoti mental, juga tidak perlu disebutkan lagi faktor kemacetan dan situasi kota yang tidak kondusif. Ya, saya terdengar mulai klise.

Ketika mengintip World Happiness Record, empat besar yang menduduki posisi negara paling bahagia di dunia adalah Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Belanda. Dengan satu kesamaan prinsip: kualitas hidup No.1 yang lain pasti mengikuti. Setengah berharap Indonesia ada dalam daftar 10 besar tentu saja gagal total. Sebagai penganut paham ‘kalau nggak sibuk malah pusing’ dan ‘sibuk dan tidak sibuk sama capeknya’ saya menyadari jam kerja 9 pagi – 6 sore dilanjutkan pekerjaan sesuai passion dari jam 7 malam sampai tidak terhingga, tentu saja Jakarta tidak ada dalam daftar tersebut. Kebiasaan ‘bekerja atau mati’ ini saya yakini tidak hanya dialami oleh saya. Bahkan keempat tetangga saya di kantor menjalani fase kerja yang sama. Bukannya menyesal tapi alangkah baiknya keseimbangan itu diusahakan. Merunut fakta bahwa Belanda merupakan negara dengan total jam kerja paling rendah di dunia (1,378 jam per tahun) jika dibandingkan dengan saya 8,640 jam per tahun tidak termasuk akhir minggu, membuat saya ingin segera mengepak koper dan terbang ke sana. Ah, seandainya saya seimpulsif itu.

Menuliskan paragraf di atas membuat saya mendengar teriakan para career coach, “Melakukan passion itu anugerah, tidak pantas diberi apapun selain syukur.” Ada benarnya, tapi ada salahnya. Passion di kamus saya adalah ‘cinta tanpa syarat’ yang tentu saja muncul karena kenyamanan, dan kenyamanan itulah yang sedang saya maknai.

Ada baiknya mencontek metode menjadikan arsitek sebagai walikota yang dilakukan oleh Belanda, aplikasi hemat waktu dan energi yang amat cerdas. Di Indonesia, Malang menjadi contoh nyata dari keberhasilan aplikasi arsitektur ala Belanda yang humanis, efisien, dan indah. Saya tidak akan membahas teoritis di sini, tapi ketika menghabiskan waktu di Malang bulan Desember kemarin, buku ide saya terisi penuh, oleh sketsa dan tulisan. Semua terasa begitu manusiawi.

Langit Malang

Pintu gebyok Jawa di hotel Tugu

Und Corner di hotel Tugu, favorit saya

Penataan kota yang lebih baik = menghilangkan macet = meniadakan ketergesaan = kualitas hidup yang lebih baik = kreativitas = produktivitas.

Sesederhana itu.

§ 2 Responses to Ketergesaan yang tidak perlu

  • Lala, saya sangat suka sekali dengan bahasan mu di artikel ini. Salah satu backset the emerging economic power house (Asian Countries Singapore, China, South Korea) dan diikuti oleh Malaysia, Indonesia, Phillipines memang tidak lain adalah alih-alih yang dibahas di sini. Ini fase yang memang tidak bisa (atau mungkin sulit untuk) tidak dilewati. Nevertheless I adore how acurately on the spot your elaboration is. I could not agree any less.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ketergesaan yang tidak perlu at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: