1 detik

December 14, 2011 § 3 Comments

Seringkali hati ini tersenyum dalam sepi membayangkan kematian. Bahwa wujud kematian membuat apapun yang dimiliki saat ini tidak bernilai. Pencapaian, benda, dan apalagi uang.

Bahwa cuma kebahagiaan hatilah yang layak dikejar semasa masih dapat mencicipi kehidupan.
Bahwa melihat dunia dengan konsekuensi tidak memiliki seonggok deposito itu tidaklah mengapa.
Bahwa mengecup bibir yang sebenarnya terlarang tetapi dicinta sepenuh hati sah adanya.
Bahwa berlari dari satu langit mimpi ke langit lain dalam hitungan menit tidak ada yang melarang.

Kesadaran akan kematian itu membebaskan. Semua rasa dari belenggu semu yang bahkan tidak akan menjadi bagian dari 1 detik menjelang kepulangan ke rumah-Nya. 1 detik yang akan merangkum semua kenangan terbaik, cinta, kasih sayang tak bersyarat, tawa lepas, kenikmatan dari hal sederhana, sahabat yang ada di hati, tali keluarga, dan kamu.

“Death must be so beautiful. To lie in the soft brown earth, with the grasses waving above one’s head, and listen to silence. To have no yesterday, and no tomorrow. To forget time, to forgive life, to be at peace.” ~Sylvia Plath

_

Jakarta, 14 Dec ’11 | untuk mereka yang telah menemukan lokasi bahagia sesungguhnya.

§ 3 Responses to 1 detik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 1 detik at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: