tentang titik nyaman yang berserakan*

December 10, 2011 § Leave a comment

*)  tapi terkadang lupa diamini, atau sesimpel tidak disadari.

Titik nyaman pertama

Waktu ada di perut ibu. Berbaring anteng tanpa impian dan daya khayal.

Titik nyaman kedua

Waktu jadi bayi. Lapar, sakit perut, kepanasan tinggal ‘oek’. Mimpi pun sepenuhnya berperan murni sebagai bunga tidur semata.

Titik nyaman ketiga

Waktu jadi siswa berseragam. Stress maksimal soal PR yang lupa dikerjain, jatah bolos yang melampaui batas, terlambat upacara, atau lupa pakai atribut dasi-topi. Di luar itu makan minum gratis, pacaran juga belum memikirkan ribetnya (keharusan) menikah.

Titik nyaman keempat

Waktu mengalami era kebebasan menjadi mahasiswa. Aktivitas pacaran masih lebih seperti petualangan daripada komitmen dengan seabrek kewajiban. Mencari kesenangan dalam keseharian adalah wajib walaupun kantong selalu kempes.

Titik nyaman kelima

Bekerja. Menghasilkan uang. Liburan tanpa perlu izin. Gonta ganti Memilah milih pasangan yang ada di depan mata maupun yang harus diusahakan. Sedikit selingkuh bibir (jangan sampai hati). Berteman sambil naksir, berteman sambil keki. Berlari kencang mengejar mimpi yang merongrong tiap bangun pagi.

Titik nyaman keenam

Entah, belum sampai ke sana.

Jakarta, 10 Desember 2011 | saat cuaca terlihat sedang jatuh cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang titik nyaman yang berserakan* at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: