tentang saya yang memikirkan saya lainnya

November 25, 2011 § 2 Comments

(durasi baca: 1-2 menit)

Jika merdeka adalah sesuatu yang diperjuangkan dengan darah dan air mata pada masa lampau. Maka kemerdekaan saat ini lebih bersifat tidak kasat mata, susah disentuh, dan dideskripsikan wujudnya.

Dan pikiran yang merdeka adalah salah satu PR yang tampaknya paling berat, untuk saya, dan mungkin kamu.

Kadang ada saatnya saya merasa begitu merdeka,
Tapi saat saya merasa seseorang ‘mengecilkan’ saya lewat perkataan maupun tindakan, saya merasa pikiran saya yang merdeka ternodai. Ketika saya melihat satu sosok sebagai sosok manusia yang ‘lebih baik’ atau ‘lebih kurang’ daripada saya, saat itu saya merasa berpikiran kerdil. Atau mungkin ketika melihat seseorang yang begitu mendewakan manusia lain yang padahal sama-sama makan nasi, berak, dan pada akhirnya mengunjungi neraka bersama-sama, saya merasa penjajahan pikiran itu memang tidak berbatas.

Wilayah penjajahan pikiran jauh lebih luas daripada sistem koloni yang menjatuhkan banyak nyawa manusia.

Harga diri
Pola pikir
Prinsip
Visi dan misi
Tujuan hidup

Mengerikan, ketika seseorang memberikan satu ‘harga’ atas dirinya sendiri berdasarkan hasil perbandingan diri sendiri atas orang lain. Entah itu berupa materi, kekayaan, prestasi, wujud fisik, tempat tongkrongan, pergaulan, atau status sosial.

Hits dan tidak hits. Berprestasi dan tidak berprestasi. Kaya dan tidak kaya. dst.

Bukanlah tanpa alasan seorang manusia kerap disebut sosok individual yang harus memiliki kualitas dan sikap individuality.

Individuality (or selfhood) is the state or quality of being an individual; a person separate from other persons and possessing his or her own needs, goals, and desires. Being self expressive. Wants to be as independent as possible from society.

Individual lain atau aspek eksternal yang ada di luar diri kita, tidak memiliki hak sama sekali untuk mendeskripsikan atau memberikan label khusus. Makanya saya tidak pernah mempercayai sistem kasta, dan juga pembagian kelas berdasarkan hal-hal yang menurut saya absurd.

Buat saya pembagian manusia itu cuma ada 2.
Baik dan tidak baik.
Jujur dan tidak jujur.

Penggolongan berdasarkan hits, jumlah teman, selera musik, pekerjaan, status sosial adalah omong kosong busuk yang semestinya tidak perlu mengambil ruang dalam otak. Untuk manusia yang berkarya akan saya berikan apresiasi tapi bukan berarti orang tersebut patut didewakan di atas diri sendiri. Mengagumi atau mengapresiasi itu memiliki makna yang berbeda dan jauh lebih terhormat daripada mendewakan.

Setiap individual telah diberikan ruang untuk memaknai diri, berpendapat, mencintai, hidup, dan berkarya sesuai kapasitas. Gunakan ruang tersebut sebaik mungkin dan jangan biarkan ruang lain menginterupsi ruangmu sendiri, begitu juga sebaliknya.

Saya adalah saya.
Dan kamu adalah kamu.
Tanpa kasta dan kelas.
Tanpa penggolongan semu.

Kita semua manusia dengan pikiran merdeka.

§ 2 Responses to tentang saya yang memikirkan saya lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang saya yang memikirkan saya lainnya at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: