peluk yang salah alamat

July 10, 2011 § 4 Comments

Sungguh, yang terjadi sebelum ini cuma berupa bias-bias debu dan asap hitam.

Lorong itu panjang dan berkonsentrasi pada dua warna. Coklat dan hitam. Aku berjalan cepat, lebih tepatnya setengah berlari. Nafas begitu memburu tapi anehnya tidak ada satu titik keringat pun yang mengucur di tengkuk maupun belakang telinga. Aku kering, sekering udara yang menyesaki lorong sempit tanpa aroma.

Terdengar langkah cepat di belakang, aku tidak menoleh, aku ingin tapi leherku tidak ingin. Aku berlari kencang lalu tiba-tiba berhenti tanpa berpikir. Seakan otak pun terkaget dengan keputusan yang diambil seketika itu. Aku diam membiarkan langkah kaki cepat di belakangku mendahului tanpa wujud. Cuma terasa dera butiran debu di pipiku yang kering. Aku pun berputar arah, dalam kecepatan yang tidak terukur waktu.

Tertangkap oleh mataku yang sebenarnya tidak sadar, bangunan dengan gaya arsitektur Spanyol yang meninggalkanku ke belakang  dalam bentuk garis panjang seakan aku sedang berada di atas kereta kecepatan cahaya. Aku merasa sedikit kosong dan khawatir, aku tidak tahu kenapa aku berputar arah. Bukankah setiap manusia semestinya selalu maju ke depan, entah dengan kecepatan lambat, sedang, maupun tergesa.

Berhenti di depan pintu yang terbuka, aku masuk ke dalam. Perempuan berambut panjang legam duduk di sana, tampak sibuk mempersiapkan sesuatu di lantai. Dia sedang berbincang dengan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya.

Aku ingin maju tetapi kakiku tidak ingin. Sungguh terkutuk tubuh ini, tidak mau lagi melaksanakan perintah otak. Tidakkah mereka tahu kalau otak diciptakan untuk menjadi Tuhan bagi tubuh. Otak adalah daging kecil mudah hancur yang justru paling berkuasa, kaki dan tangan kokoh bersama tulang tetapi tidak punya hak untuk memutuskan apapun. Aku pun memaksa kaki untuk bergerak, “Ikut atau kutinggalkan kau selamanya di lantai busuk itu!” gertakku. Kakipun bergerak dengan tingkat ogah yang maksimal.

Wajah itu disana, terlihat familiar tapi aku tidak menemukan sebuah nama pada otak. Tampan, dan terlihat kurang tidur, seperti biasa.

Ekspresinya berubah, kesedihan yang bercampur benci. Dia bergegas melanjutkan kegiatannya bersama perempuan berambut panjang. Memasukkan baju, kuas, papan kayu, dan dua ekor kucing ke dalam koper. Dia tampak bersiap-siap untuk pergi ke negara yang amat jauh. Perempuan berambut panjang itu mendelik tajam ke arahku, lalu berkata, “Kamu tidak akan pernah puas dengan dia atau siapapun, kamu tidak berhak atas kebahagiaan yang telah di berikan.”

Dan aku pun teringat, dia. Laki-laki yang mencintaiku.

Kami berdua berbaring berhadapan tanpa menyentuh. Matanya kosong dan dalam seperti samudera yang pernah aku baca di dongeng Ariel Putri Duyung. Aku berbicara panjang, banyak tanpa memberikan jeda untuk bernafas. Aku bahkan tidak tahu kalimat apa yang aku keluarkan, cuma teringat kata “Sayang.”, “Ayolah.”, “Jangan benci.”, “Kita.”. Aku bisa melihat hatiku memalingkan muka saat pembicaraan itu terjadi, seakan dia sangat malu dengan yang sedang aku lakukan.

Aku terus berbicara seperti esok akan kiamat. Mata yang tadinya kosong terisi air bening, tidak biru seperti lautan tapi bagai kristal yang telah diasah seharian.

Aku terus berbicara, “Kalau kau tidak lagi menginginkanku, aku akan pergi dengannya semata-mata karena wajahnya mirip denganmu.”

Otak dan hati pun bertengkar penuh amarah, sementara mulut cuma bisa menuruti perintah otak.

Dia mendekat, menyentuh bahuku. Kristal itu telah berubah menjadi sungai bening, membelah pipinya yang ditumbuhi jambang halus. Dia memberikan sebuah peluk, tidak erat tapi lebih kepada ekspresi menyerah kalah dalam perang.

Aku tenggelam dalam dada kurusnya yang bidang, otak tersenyum penuh kemenangan dan hati menangis sambil meronta ingin keluar dari tubuhku. Dalam peluk aku merasa hampa.

Dia melepaskan peluk dan menjauh, aku terhenyak. Wajahnya bukan lagi dia yang mencintaiku, tetapi kamu. Yang aku cinta.

***

Jakarta, 10 Juli 2011

§ 4 Responses to peluk yang salah alamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading peluk yang salah alamat at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: