wanita dan monster di kepalanya

March 20, 2011 § 8 Comments

Dimulai sejak pertengahan tahun lalu, banyak teman perempuan saya yang melepas masa lajangnya. Ada yang menikah setelah berpacaran cukup 1 tahun saja (padahal sebelumnya dia menjalin hubungan dengan mantan pacarnya selama 5 tahun lalu putus di tengah jalan), ada yang menikah dengan pria yang tadinya tidak pernah dilirik barang seujung rambut, dan ada yang menikah dengan pria yang pernah dipacari selama satu minggu-putus-pacaran 6 bulan dan tanpa tedeng aling-aling langsung menikah.

Berada di posisi mengetahui sedikit banyak proses pacaran sehingga pernikahan itu terjadi, tanpa sadar saya menarik kesimpulan bahwa ketiga teman saya ini tidak menikahi pria yang memenuhi kriteria panjang mereka. Yes my dear, we all have those silly long list. Bahwa pria yang akan kita pacari atau jadikan suami harus memenuhi syarat A, B, C, D dan seterusnya.

Ternyata daftar panjang tersebut tidak banyak gunanya di kehidupan nyata. Karena teman-teman saya justru terlihat lebih bahagia ketika akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama pria yang notabene tidak memenuhi setengah dari daftar panjang tersebut. Dan dari sekian banyak daftar yang pernah saya intip, hampir semua wanita memiliki banyak persamaan check list. Mereka menginginkan pria yang kuat dan ‘cowok’ yang jika dialih bahasakan menjadi bahasa dunia nyata=bad boy.

Jujur, bad boy entah kenapa memiliki daya magnet yang luar biasa. Saya sendiri hampir 4 kali jatuh ke dalam lubang yang sama (baca:bad boy), yang satunya hampir karena saya cuma khilaf selama satu hari dan langsung bertobat (don’t ask). Bad boy ini belum tentu mereka yang melakukan hal-hal nakal seperti narkoba ataupun main perempuan *ayolah, ini sudah 2011*. Konteks bad boy di sini lebih kepada mereka yang memiliki kemampuan menguasai, setengah mati cuek, apabila dia adalah personil band atau musisi akan lebih OK lagi, dan yang paling utama dapat membuat kita para wanita cenat-cenut dan kembang kepis menarik perhatian mereka. Like it or not, almost every women memiliki monster ini, kenapa monster? Karena kita sadar memiliki hal ini di dalam kepala, namun tidak menyadari kalau dia begitu jahat sampai menutupi mata hati. Sampai di sini jika ada yang masih tidak mengerti, then you’re a very lucky lady dan dipersilahkan meninggalkan ruang rapat.

Sebenarnya saya lebih suka menuturkan kisah teman-teman perempuan tidak lajang saya yang telah disebutkan di atas, tapi rasanya tidak etis mengingat mereka telah bersuamikan pria-pria baik itu, lebih baik saya menceritakan monster di kepala wanita dari sisi fiksi.

Malam Sabtu kemarin saya baru saja menyelesaikan film The Painted Veil and I just realize how much I love Edward Norton, OK ini nggak nyambung. Intinya ada seorang perempuan bernama Kitty, upper class society yang tidak kunjung menikah karena merasa belum menemukan pria yang dapat menaklukkan hatinya (sounds familiar right?), sampai dia bertemu Walter yang sebenarnya tidak berhasil menaklukkan hatinya tapi datang pada saat yang tepat (baca: Ibu yang mendesak/memaksa anak perempuannya agar lekas menikah) sehingga akhirnya Kitty menyetujui pernikahan mereka. Walter adalah tipe pria tidak neko-neko yang merasakan love at the first sight pada Kitty (sounds familiar too right?).

Kitty and Walter

Singkat cerita Walter memboyong Kitty dari London ke Shanghai, dan di negara asing ini Kitty akhirnya menemukan cinta yang selama ini dia cari-dengan pria lain, tentunya. Pria ini memiliki kualitas yang akrab dengan our long silly list tadi yaitu tampan, mempesona, charming, ‘cowok’ banget, dan memiliki aura bad boy yang membuat wanita langsung jatuh hati. Sedangkan Walter yang kalem, tidak banyak bicara, serius, sensitif dan harus mematikan lampu saat having sex tentu bukan tipe pria yang mampu menggetarkan hati wanita dengan mudah. Saya tidak akan menceritakan keseluruhan film pada tulisan ini, karena kamu yang belum pernah menonton film ini wajib mencarinya segera di lapak-lapak yang tersebar di seantero kota Jakarta, dan harus usaha karena memang agak jarang. Pada akhirnya Kitty mencintai Walter dengan sepenuh hati, dan menyadari bahwa pria yang sempat dijadikan cinta olehnya tidak lebih dari seorang pria yang mencintainya dengan menggunakan alat kelamin, tidak lebih dan tidak kurang. Endingnya mungkin tidak happy, tapi sangat mengena di hati saya karena Kitty berhasil membunuh monster di kepalanya dengan cara yang indah.

Contoh kasus lain yang menohok tentu saja ada pada maha karya Jane Austen, Sense and Sensibility. Saya merasa harus menulis sebuah postingan panjang untuk film ini, karena meninggalkan banyak kesan yang menjadi bahan pemikiran (kenapa sih otak saya ini doyan banget terbawa suasana?). Film ini sederhana sekaligus kompleks tidak dengan cara norak made in Sinetron Indonesia tentunya. Cinta segitiga Marianne, Willoughby dan Colonel Brandon adalah contoh keperkasaan monster di kepala seorang wanita. Monster itu membuat sistem logika macet dan hati tidak dapat merasa dengan semestinya.

Marianne and guess who?

 

Marianne and guess who? Part 2

Untuk yang belum pernah menonton Sense and Sensibility, sila tebak yang mana Willoughby dan Colonel Brandon. Momentum penuh drama kebahagian, romantisme dan penuh tawa dengan siapa. Situasi sulit, susah hati dan memang untuk menyusahkan dengan siapa. Easy.

Marianne adalah sosok wanita muda yang penuh semangat, youthful, selalu ingin mencoba hal-hal baru, nekat and a little bit silly. Buat Marianne jatuh cinta adalah sebuah permainan seru, harus penuh gejolak naik dan turun, tidak boleh datar seperti air sungai, dan kudu sarat ombak yang sebenarnya tidak perlu. Singkat kata Marianne loves drama so much (just like we’re when we were young right?). Dan Willoughby adalah sosok pria yang paling tepat untuk memuaskan hasrat drama dari semua tipe wanita di muka bumi ini. Dia bisa tiba-tiba membawa sekuntum bunga tanpa alasan yang jelas, membacakan puisi romantis sambil menatap lekat-lekat seperti lem besi, menghamburkan perlakuan manis dengan mubazir kesana kemari, dan tentu saja mengerahkan aura cowok ‘banget’ yang dia miliki dalam setiap momentum yang dia punya.

Sedangkan Colonel Brandon adalah sosok pria membosankan yang datar, dewasa, tidak mengerti apa kegunaan perlakuan manis berlebih, dan buta dengan cara memancarkan aura ‘cowok’ yang dia miliki, tentu saja tidak pernah dilirik Marianne barang sedikit pun. But as usual, life will always show you my dear. Bahwa Willoughby adalah tipe pria yang menyukai gejolak dan drama, dan seterusnya akan mencari drama-drama lain, termasuk menghamili seorang wanita muda, meninggalkannya tanpa sopan santun, disambung dengan meninggalkan Marianne tanpa basa-basi lalu menikahi seorang wanita kaya raya atas nama kehidupan nyaman sampai mati. Dan saat Marianne patah hati sampai berkeping-keping, di sinilah dia menyadari keberadaan Colonel Brandon yang datar dan membosankan itu di sampingnya, tidak pernah pergi barang sedetik pun (ya ini perbatasan tipis antara cinta dan bodoh). Selama ini hati Marianne telah dibutakan oleh monster di kepala sekaligus menutup matanya dari Colonel Brandon yang tidak pernah bergeming barang satu mili pun. Monster di kepala Marianne pun dibunuh oleh sang Drama King Willoughby sampai mati tak bersisa, lucky her Colonel Brandon was always waiting. Kalau nggak, monster itu mungkin akan tertawa geli penuh kemenangan sampai keluar air mata🙂

And that’s that. Bukan berarti kamu (kalau memang punya loh) harus segera membunuh monster di kepala, tapi setidaknya menyadari keberadaan monster tersebut seharusnya akan cukup membantu. Selamat untuk wanita yang telah membunuh monster di kepalanya, baik yang disadari maupun tidak. Untuk saya sendiri, sepertinya monster itu telah lama mati kurang lebih 2,5 tahun yang lalu dan semoga tidak kembali datang menyusahkan kepala dan hati saya.

We’re women should stick together. –Peacock

§ 8 Responses to wanita dan monster di kepalanya

  • oh oh tentunya monster yang itu memang menawan sekaleh😀 untungnya saya tidak pernah sampai dibantai habis oleh monster itu karena sayangnya saya tidak pernah memiliki seorang walter atau kolonel seperti embak embak di pelem :)) beruntungnya, saya punya sahabat-sahabat barbar yang siap ikut tarung versus monster monster bajaingan dan sebagainya itu😛
    it IS awesome having women sticking up for one another!
    and i loooooove edward norton tooo :”>

  • Alin says:

    Aku suka bangeeeet Painted Veil! Gemes banget Edward Norton-nyaaa😀
    Selama masih jomblo, melihara monster dlu ah*lho ihick

  • yoshi fe says:

    nice thoughts.
    kalo dari sisi cowok, banyak banget tu temen gue yg nungguin cinderella; yang tentunya juga gak akan kunjung tiba.

    • Lala Bohang says:

      Thanks!
      Serius, gue kira selama ini laki-laki cuma mencari perempuan seperti Samantha di Sex & The City. Sosok manis, lemah berdebu dan kurang make up seperti Cinderella kirain nggak masuk kategori :p

  • Tyka says:

    “Sedangkan Colonel Brandon adalah sosok pria membosankan yang datar, dewasa, tidak mengerti apa kegunaan perlakuan manis berlebih, dan buta dengan cara memancarkan aura ‘cowok’ yang dia miliki”

    saya tipikal penyuka pria seperti Colonel Brandon🙂

  • nath says:

    tulisanmu yg lumayan panjang ini, menyenangkan untuk dibaca, lala:)
    nice to know ur works: tulisan&gambar, semuanya unik:) smoga kmu berkenan ku-tautkan di blogku yg masih amat sederhana^^’
    salam kenal,
    nath.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading wanita dan monster di kepalanya at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: