#30haribukanuntukmencaricinta

October 20, 2010 § Leave a comment

Beberapa minggu yang lalu tepatnya tanggal 19 September 2010 (dengan sadar) saya memutuskan untuk ikut serta dalam kegiatan #30harimenulis yang lumayan tenar di kancah perkicauan burung-burung biru yang maha bawel. Saat itu yang ada di dalam pikiran saya adalah menulis tanpa henti selama 30 hari adalah perkara mudah, tidak ada sulit-sulitnya acan (kata orang Sunda mah).

Yang terjadi adalah, saya hanya menulis 2 kali dari keharusan 30 kali yang telah berakhir kemarin. Dan untuk itu saya agak merutuki diri saya sendiri, bukan karena kegagalan mencapai angka 30 tapi lebih kepada kedangkalan saya yang telah menganggap enteng sebuah sikap berlabel “konsistensi” yang ternyata sulit dicapai.

Konsistensi itu berat karena saya atau kamu telah memilih untuk melakukan hal yang sama terus-menerus tanpa memiliki bayangan sama sekali atas imbalan yang akan diterima pada akhir perjalanan.

Itulah sifat dasar manusia teman, melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu juga (lebih cepat lebih baik). Saya tidak akan mencoba-coba munafik untuk memungkiri hal ini, setiap kali tangan atau hati ini memberi maka air liur akan membuncah di tenggorokan membayangkan imbalan yang akan diterima. Oh shame on human!

Well, kembali ke #30haribukanuntukmencaricinta.

Hari pertama saya begitu bersemangat dan berhasil menyelesaikan satu tulisan yang bercerita tentang tanda baca titik. Perasaan saya saat mengerjakan tulisan itu adalah bersemangat dan senang.

Hari kedua saya sangat sibuk dan tenggelam dalam pekerjaan dan hal-hal lain yang lebih penting, let’s say hang out dan ketawa ketiwi bersama teman-teman di café terdekat. Sehingga ketika sampai di kamar, yang ada hanyalah secuil energi untuk cuci muka, cuci tangan kaki seadanya dan langsung tepar dilanjutkan ngiler di kasur beserta bantal kesayangan.

Hari ketiga saya lupa kalau saya telah membuat janji kepada diri saya sendiri untuk menulis selama 30 hari penuh, blame my cruel jomponess on this *ngeles.

Hari keempat saya ingat, tapi saya pasrah terhadap keluhan otak saya yang bilang, “Udah deh, gue lagi malas mikir malam ini! Let’s watch a DVD and eat indomie!” dan saya jawab dengan senang hati, “Ok!”

Hari kelima saya lupa kenapa *sambil ngetok kepala.

Hari keenam saya menulis lagi, kali ini saya mengerjakan tulisan ini begitu terburu-buru seakan-akan saya ada janji kencan dengan Channing Tatum untuk menonton Step Up 3 di Setia Budi 1 (dekat dari Mampang soalnya). Singkat kata tulisan di hari keenam adalah tulisan yang saya buat semata-mata agar rasa bersalah karena telah melewatkan 5 hari dari 30 hari yang saya janjikan agak sedikit berkurang.
Hari ketujuh dan sampai hari ini, saya tidak pernah menulis lagi. Dari yang asalnya rasa bersalah terasa cukup mengganggu dan pada akhirnya saya pun tidak merasa ada yang salah dengan rasa bersalah tersebut.

Dan pemikiran ini pun datang tanpa kendali, untuk konsisten menulis selama 30 hari penuh saja susahnya minta ampun, apalagi konsisten untuk memiliki volume kasih yang sama untuk pasangan, anak, pekerjaan and you name it lah, all those adult stuff.

Konsisten dalam mimpi, konsisten dalam hubungan pertemanan, konsisten dalam hubungan dengan pasangan, konsisten dalam hubungan keluarga, konsisten dalam bekerja, konsisten dalam bersikap, dan hal-hal lain sekitar kita yang membutuhkan sentuhan konsisten tapi mungkin belum kita sadari.

Konsisten itu hampir selalu terasa melelahkan dan menjemukan (dalam segala konteks), jarang sekali dipenuhi dengan keriaan dan tawa seperti saat kamu sedang nongkrong untuk membunuh waktu (literally) dengan teman-teman keriaan kamu.

Selalu akan ada hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan.
Selalu akan ada pria menarik lain yang bikin hati ini gemes pengen selingkuh fisik (doang).
Selalu akan ada to do list yang merongrong minta diberi check mark dilanjutkan to do list tahap 2.
Selalu akan ada PING! lucu di malam hari dari pria yang lumayan lucu minta diberikan bahan obrolan *aw tempting.
Selalu ada tumpukan DVD yang melambai-lambai minta ditonton segera.
Selalu ada kasur kesayangan super nyaman yang memanggil tubuh yang mulai rontok karena dimakan kemalasan berolahraga.
Selalu ada deadline yang semakin menghimpit dan memerintahkan untuk segera diselesaikan.
Selalu ada mimpi-mimpi baru yang muncul dan minta untuk direalisasikan juga.

Kabar baiknya adalah menjadi manusia yang konsisten itu bisa dilatih dan dibiasakan.
Mari kita mulai berlatih sedari sekarang bersama-sama.

Note : If you want to, let’s kill this #30harimenulis together! *sambil lap keringet dan berpikir ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #30haribukanuntukmencaricinta at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: