adik bungsu

June 22, 2010 § 6 Comments

Untuk ibu dan ayah,
Apakah yang sedang kalian lakukan ketika berusia 25 tahun seperti aku sekarang ini?

Maaf jika aku  mengagetkan kalian dengan sepucuk surat yang datang tiba-tiba. Aku tahu kalau selama ini kalian menganggap aku adalah anak yang tidak terlalu banyak bercerita, sebenarnya aku memiliki banyak sekali kisah dan pertanyaan yang ingin aku sampaikan kepada ayah dan ibu. Tapi aku tidak pernah menemukan kalimat dan waktu yang tepat untuk mengutarakannya.

Kembali pada pertanyaanku di atas, apakah yang sedang ayah dan ibu lakukan ketika berusia 25 tahun? Apakah kalian juga merasa bingung dengan apa yang ingin kalian lakukan pada hidup kalian atau ayah sudah tahu kalau ayah ingin menjadi seorang pegawai kantoran biasa tanpa ambisi apapun. Bagaimana dengan ibu? Aku tahu kalau ibu pernah menjadi desainer furniture berbakat, apa yang membuat ibu memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga? Apakah ibu memang menginginkan hal tersebut atau ada penyebab lain yang tidak kuketahui? Jika kalian sedang merasa bingung kemanakah tempat kalian untuk sedikit membagi rasa bingung itu? Apakah kakek dan nenek cukup terbuka untuk mendengarkan cerita-cerita kalian tentang kebingungan akan kehidupan? Atau mungkin kalian memiliki sahabat yang sangat memahami kalian luar dan dalam? Jujur, sahabat seperti itu sungguh sulit ditemukan sekarang ini,  semua orang hanya sibuk memikirkan dirinya masing-masing.
Jika kalian sedang merasa putus asa, entahlah … mungkin karena baru mengalami putus cinta yang amat menyedihkan atau mengalami kegagalan dalam pendidikan atau karir kemanakah kalian akan pergi untuk mendapatkan sedikit kelegaan dalam dada?
Aku bingung, aku merasa begitu sendirian di dunia ini. Mungkin ayah benar, kalau aku adalah anak yang tidak memiliki semangat hidup. Ayah mengucapkan kalimat itu satu kali saja, tapi terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku sampai sekarang. Semoga ayah masih ingat, saat itu aku baru saja mengundurkan diri dari olimpiade matematika antar SMP se-Jakarta, padahal saat itu aku ditunjuk menjadi perwakilan sekolah. Bukannya aku tidak memiliki semangat hidup, tapi jika aku mengikuti perlombaan itu beban di pundak ini akin menjadi terlalu berat.

Kak Tara juga mengikuti perlombaan yang sama 2 tahun sebelum aku ditunjuk menjadi peserta, dan dia berhasil keluar sebagai juara Nasional. Juara Nasional! Aku tidak yakin kalau aku sanggup menyamai prestasi kak Tara. Aku masih merekam dengan baik raut bangga yang terukir pada wajah ayah dan ibu, kalian bahkan membelikan kak Tara rumah boneka lengkap dengan isinya padahal saat itu kondisi ekonomi keluarga kita sedang kurang baik. Aku menangkap sorot mata ayah yang seolah-olah berkata, “Kamu anak laki-laki harus bisa lebih baik dari ini!”.

Setelah itu aku belajar seperti orang kesetanan, semata-mata karena aku juga ingin membuat ayah dan ibu menatap aku dengan sorot mata bangga. Aku ingin mendapatkan hadiah atas keberhasilanku. Aku mendorong diriku sedemikian rupa agar bisa masuk ke SMP yang sama dengan kak Tara, yang merupakan salah satu SMP terbaik di Jakarta. Entah kenapa, sekeras apapun aku berusaha aku tidak pernah sehebat kak Tara. Kak Tara adalah satu dari segelintir orang-orang beruntung yang dianugerahkan otak yang cemerlang, dia bisa bermain-main seharian penuh tapi tetap mendapatkan nilai terbaik dikelasnya, sementara aku harus berusaha mati-matian hanya untuk mendapatkan nilai yang cukup untuk masuk rata-rata kelas. Seandainya ayah bisa mengerti, kalau setiap manusia diberikan kemampuan yang berbeda.

Ayah,
Bukannya aku iri dengan kak Tara, aku sangat menyayanginya lebih dari yang ayah ketahui, kak Tara seperti sedikit cahaya dalam hidupku yang sepi. Aku hanya merasa diperlakukan tidak adil, aku selalu merasa dipandang dan diperlakukan sebagai anak yang tidak spesial, aku seperti ban serep.  Aku hanyalah seonggok anak manis yang akan selalu patuh dengan setiap perkataan ayah dan ibu. Waktu kak Tara menolak mentah-mentah saran (yang lebih pantas disebut perintah) kalian untuk kuliah di fakultas kedokteran, ayah menghibahkan harapan tersebut kepadaku tanpa bertanya terlebih dahulu. Dan aku si anak manis tidak kuasa untuk menolak, padahal sejak remaja aku tahu kalau aku ingin belajar sastra Indonesia, aku ingin menjadi seorang penulis.

Ayah,
Kenapa ayah tidak pernah meluangkan waktu untuk ngobrol denganku dari hati ke hati. Ayah cuma sibuk dengan ikan peliharaan ayah, yang cuma bisa mangap saat diberi makan. Kita sempat ngobrol panjang lebar beberapa kali tapi sayang sekali topiknya hanya berkisar pada ikan peliharaan ayah, kondisi negara ini, dan obrolan basa-basi lainnya. Ayah tidak pernah bertanya tentang apa bidang kegemaranku, ayah tidak pernah membahas cerpen buatanku yang dimuat di beberapa media, ayah tidak pernah bertanya siapa pacarku saat ini, ayah tidak pernah bertanya apapun tentang hidupku. Aku tidak mengerti, sebagian besar teman-temanku sangat memuja ayahnya bahkan beberapa menganggap ayahnya adalah seorang pahlawan layaknya John Lennon. Sedangkan aku? Tidak peduli seberapa kerasnya aku mencoba, aku tidak pernah bisa mengagumimu. Rasa peduli yang aku punya untukmu hanya seperti salah satu kewajibanku dalam menjalani hidup. Maaf jika pernyataanku menyinggung perasaanmu ayah, tapi kadangkala kejujuran yang menyakitkan dibutuhkan untuk mengungkapkan hal yang kita inginkan.

Ayah, ibu …
Aku ingin bertanya, apa itu cinta?
Apakah kalian benar-benar merasakan hal itu dalam hati? Sebab aku mulai berpikir kalau cinta adalah hal yang semu, hanya fiktif belaka. Cinta hanya labelisasi yang diciptakan oleh lagu-lagu pop cengeng serta film-film layar lebar yang menjual happy ending untuk dua orang anak manusia yang terjebak dalam sebuah hubungan. Aku ingin sekali merasakan cinta yang sesungguhnya, kalau kak Tara tidak usah ditanya, sepertinya dia sudah menemukan cinta sejatinya. Dirinya sendiri. Aku sungguh sangat bahagia untuknya.
Kalian tentu ingat dengan Sheril, perempuan cantik yang pernah aku undang untuk makan malam bersama kita semua di hari ulang tahun kak Tara. Sheril adalah perempuan yang sangat dewasa dan cerdas, dia sangat tertarik dengan dunia sastra, mungkin itulah salah satu faktor yang membuat aku bisa menjalin kasih dengannya. Aku dan Sheril bisa ngobrol berjam-jam mengenai tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma, Sutardji Colzoum Bachri, Umar Kayam, dan Pramoedya Anantatoer. Aku mengira aku telah jatuh cinta pada Sheril, bahwa aku telah menemukan teman jiwaku, seperti ayah dan ibu saling menemukan satu sama lain. Tapi pada suatu hari rasa itu lenyap seperti asap yang ditiup angin, hilang tanpa bekas dan menyatu dengan udara. Aku sudah berusaha keras mencari-cari rasa yang aku punya untuk Sheril ke seluruh sudut jiwaku, tapi aku tidak berhasil menemukannya, rasa itu hilang tanpa sebab dan alasan.

Aku menjalin hubungan dengan banyak perempuan setelah Sheril, tapi semuanya sama saja, rasa yang aku punya hilang tanpa sebab, dengan kurun waktu yang semakin singkat. Pada suatu hari aku merasa amat marah lalu mengobrak-ngabrik udara, berusaha mengacaukan mereka yang selalu menyembunyikan rasa. Aku tidak berhasil, aku seperti kehilangan kemampuan untuk mencintai orang lain.

Ibu,
Apakah engkau bahagia?
Setiap saat aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.
Semua teman-temanku yang pernah bertemu denganmu selalu mengatakan kalau ibu memiliki wajah yang sangat ramah dan menyenangkan. Mereka tidak tahu dan bahkan engkau pun tidak tahu kalau aku sering memergoki ibu sedang menangis, ketika sedang sendirian mencuci piring di dapur, ketika sedang menjemur pakaian di halaman belakang, bahkan kadang-kadang ketika sedang menyusui aku yang masih bayi. Ibu tidak akan pernah mengira kalau seorang bayi mampu mengingat hal seperti itu bukan? Aku ingat ibu selalu menangis dalam diam, hanya terlihat guliran bening tanpa henti mengalir di pipimu. Kenapa ibu menangis? Ayah terlihat sangat mencintaimu dan menjalani perannya sebagai pemimpin rumah tangga dengan baik. Kak Tara? Kakakku yang satu itu tampaknya tidak memiliki cacat sama sekali. Aku? Aku akan melakukan apapun untuk menghentikan tangismu.

Ayah, jangan diam saja apakah ayah mengetahui sebab kesedihan ibu? Jika ayah tahu tolong beritahukan padaku. Aku tidak ingin melihat bulir air mata itu mengalir lagi di pipi ibu.

Atau karena keberadaan Sonya?
Sonya hanyalah sebuah keberadaan tanpa makna, dan aku yakin keberadaannya akan ditelan oleh sang waktu sebelum ibu menyadarinya. Ibu tidak pantas menangis untuk seorang Sonya, dia tidak berarti. Maaf atas kelancanganku untuk bertanya tentang Sonya, aku tahu kalau Sonya adalah satu dari sekian banyak rahasia yang ibu simpan rapat yang seharusnya tidak aku ketahui. Mungkin ibu lupa kalau aku adalah manusia biasa yang berbagi dan berinteraksi dengan manusia lainnya, rahasia yang tidak seharusnya aku ketahui kadang-kadang datang menghampiriku tanpa aku minta. Saat ini raut wajahmu pasti sedang dirundung oleh awan kelabu, jika itu memang keinginanmu aku tidak akan pernah lagi menyebutkan nama itu.

Ibu,
Ibulah satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang tahu kalau aku tidaklah sekuat penampilan luarku. Aku adalah pria yang tergila-gila dengan olahraga lari, semata-mata karena lari dapat membuat masalah dan pikiran aneh yang di dalam otakku luruh dan pergi entah kemana. Setelahnya aku merasa diberi kekuatan baru, dan otak yang cukup kosong untuk diisi masalah dan pikiran aneh yang lain. Hanya ibu yang tahu kalau aku menangis saat aku tidak berhasil menjadi juara kelas saat kenaikan kelas ke 3 SMP sementara kak Tara berhasil mendapatkan nilai ujian akhir SMU paling tinggi se-Jakarta Selatan. Hanya ibu yang tahu kalau aku menangis 3 malam tanpa henti saat aku meninggalkan Sheril. Kak Tara tidak pernah mengetahui semua ini, jika tahu dia pasti akan tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya memerah seperti udang rebus. Kadang aku merasa jiwaku dan kak Tara tidak sengaja tertukar oleh malaikat pengantar jiwa. Jiwa kak Tara seharusnya ada di dalam tubuhku dan jiwaku adalah milik tubuh kak Tara. Kak Tara begitu tegas dan berani, sedangkan aku terlalu perasa dan penuh rasa takut. Aku merasa berada di dalam tubuh yang salah. Dan ini karena kelalaian malaikat serampangan itu!

Jujur aku merasa lebih lega setelah menulis surat untuk ibu dan ayah, setidaknya beberapa cerita dan pertanyaan yang seringkali mengganggu tidurku sudah aku tumpahkan di surat ini. Maaf jika surat ini terlalu panjang, aku memang tidak pandai merangkai kata ketika sedang bertatap wajah, tapi aku bisa merangkai ribuan kata pada lembaran-lembaran kertas kosong.

Aku selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan ayah, ibu dan kak Tara. Jika ada kata yang dianggap lancang dan tidak pantas untuk dituliskan di sini aku mohon maaf. Aku hanya merasa harus menumpahkan semua yang aku rasa untuk kebaikan diriku sendiri dan semoga kebaikan kita semua.

Tama

***
Tama membaca ulang seluruh isi pikirannya yang telah berubah wujud menjadi 5 lembar kertas A4, lalu melipat lembaran-lembaran putih itu menjadi satu bundel dengan seksama.  Setelahnya Tama membuka laci meja tulis dan melemparkan lipatan tersebut ke pojok laci bersama dengan bundelan-bundelan kertas lainnya yang tampak mulai menguning.

Tama membaringkan tubuhnya di dipan, lalu menatap langit-langit kamar yang warnanya mulai  memudar.

*
Jakarta, Mei-Juni 2010

§ 6 Responses to adik bungsu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading adik bungsu at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: