Jermal

June 19, 2010 § 4 Comments

]

Sederhana. Tanpa perlu membahas feminisme dan perlawanan atas poligami, toh persoalan poligami atau tidak adalah persoalan masing-masing orang, kalau si istri keberatan dipoligami tinggal minta cerai kalau diam saja berarti ikhlas. Tanpa perlu menunjukkan buah dada atau pergulatan seksual pria dan wanita. Tanpa perlu scoring dari musisi ternama.

Kau ambil dari aku, jadi punyamu. Aku ambil lagi dari kau, jadi punyaku. –Jaya

> Dan logat Sumatera yang kental itu semakin menyempurnakan sensasi-entah-apalah-itu dari film ini🙂

§ 4 Responses to Jermal

  • minidoor says:

    belum nonton🙂
    entah kenapa, aku menunggu Lala bikin review tentang Sex and the City 2.. hihi😀

  • nike says:

    Gue belum nonton film ini tapi serasa udah nonton berkalikali karena waktu itu
    Film ini jadi topik di program gue n jd dpt kesempatan liat potongannya. Potongannya
    aja sktr 1/2 jam, plus behind the scene-nya. Jadi kayak udah nonton :p
    Film ini ngasih setting yg mungkin asing buat sebagian besar penonton. Sebuah jermal
    di tengah laut, menambah sensasi yang nggak cuma beda tapi juga terisolasi.
    Para aktor anak-anaknya setau gue banyak yg bukan asahan sekolah/kursus akting. Benar-benar
    anak pantai :p yg beneran aktor cuma dua orang dewasa (didi petet dan satu orang lg yg bisu ya?)
    Gue belum sempat nonton film ini secara full..:( waktu di
    bioskop keburu ilang huhu padahal film ini pasti bisa ngasih perspektif lain lagi dr film Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jermal at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: