Laksmi

May 23, 2010 § 9 Comments

… ciuman singkat yang ternyata lebih dari cukup untuk membuatku mabuk sekaligus mendorong benih-benih itu untuk tumbuh subur sampai mencuat keluar merobek-robek seluruh tubuhku tanpa ampun.

Namanya Laksmi tanpa ada embel-embel nama belakang. Wajahnya berbentuk hati dibingkai dengan rambut hitam legam sebahu yang jarang tersentuh sisir lengkap dengan sepasang mata kucing yang selalu berbinar dibatasi oleh hidung mungil yang melengkapi kesempurnaannya. Saat ini kulit kuning langsatnya terlihat kecoklatan karena terbakar sinar matahari, Laksmi bukan perempuan yang takut kulitnya menjadi hitam, menurutnya alam terlalu indah untuk dihindari.

Laksmi, entah sudah berapa kali namamu aku teriakkan di semua mimpi-mimpi saat jiwaku telah terlelap, tidak peduli seberapa kuat aku melawan keinginan itu.

Saat ini kamu sedang bahagia, terlihat dari mata sipitmu yang berbinar seperti matahari di musim panas. Tanpa sadar aku pun menyunggingkan senyum tipis atas kebahagiaanmu, walaupun kebahagiaan itu tidak datang dariku. Tapi aku melihat jelas kalau mata pria itu tidak tulus Laksmi, apakah kamu tidak menyadarinya? Aku tahu itu bukan mata yang bermandikan cinta, mata itu hanyalah bentuk lain dari nafsu birahi yang siap melahapmu ketika matahari ditelan tanpa ampun oleh sang rembulan. Pria itu tidak akan memberikan pelukan hangatnya ketika kamu merasa kedinginan, dia hanya ingin menelanmu bulat-bulat. Itu saja.

Tiba-pandangan kita beradu, aku salah tingkah tapi berusaha keras untuk terlihat normal. Kamu tidak boleh melihat aku salah tingkah karenamu. Tidak boleh! Tidak! Aku menyunggingkan senyumku yang paling normal untukmu, kamu tersenyum balik. Indah sekali. Seluruh ototku terasa mengeras. Kepalaku terasa berdenyut karena gairah yang tertahan. Kamu menyodorkan sekeranjang anggur segar ke arahku sambil bertanya tentang jadwal acara nanti malam, aku menjawab seperlunya lalu langsung pamit ke toilet.

Aku mencuci wajah dan tanganku yang tidak kotor lalu menatap ke arah pantulan cermin. Aku tidak lebih buruk dari pria yang saat ini sedang duduk di sampingmu, bahkan aku bisa dibilang memiliki wajah yang cukup menarik terbukti dari panjangnya daftar mantan pacar yang hatinya berhasil aku patahkan. Sayang aku tidak punya keberanian untukmu, lagipula aku telah bertunangan dengan adikmu. Aku terlanjur menerima cintanya, apa kata keluargamu nanti?

Langkahku terhenti karena pemandangan dari meja. Laksmi sedang mencium pria di sampingnya dengan penuh hasrat, semua yang duduk di meja terlihat tertawa terbahak-bahak, ciuman itu seakan ikut melumatkan hatiku menjadi kepingan-kepingan kecil. Aku menguatkan diri lalu melangkah pelan menuju kursi sambil terus menatap lantai, berharap pertunjukan kecilmu telah selesai ketika aku sampai. Tawa itu masih terus membahana ketika aku duduk, dan kamu masih berciuman penuh hasrat saat aku mendongakkan kepala. Setelah selesai kamu mengambil botol kosong yang menjadi kaki tangan dari permainan kesukaan kalian sekaligus penyebab terjadinya ciuman kotormu tadi. Kamu memutarnya sambil tertawa senang. Laksmi … Laksmi … Laksmi aku teringat pertama kalinya aku mendengar namamu terbang ke udara. Aku teringat permainan kita yang pertama, yang menyebabkan aku merasakan perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Hari itu hari Sabtu, adikmu yang baik mengajakku untuk menghadiri acara barbeque di rumah kalian. Aku bukanlah tipe orang yang pernah membawa kekasihku ke rumah untuk diperkenalkan ataupun sebaliknya. Entahlah … setan apa yang merasuki tubuhku sehingga hari itu aku mengiyakan begitu saja undangan adikmu untuk datang ke perayaan ulang tahunmu. Adikmu terlihat luar biasa senang karena sebelumnya aku tidak pernah mau datang ke rumah kalian. Buat aku perkenalan keluarga adalah langkah besar dalam satu hubungan, perkenalan keluarga biasanya berujung pada pernikahan. Dan aku tidak pernah menginginkan pernikahan.

Laksmi katamu. Aku pun menyambut tangan halusmu yang menjulur. Saat itu juga aku menghafalkan bentuk wajahmu beserta seluruh isinya. Aku terpesona tapi aku menahan diri, aku membunuh bibit rasa yang terasa menggelitik di dasar perutku. Aku memeluk adikmu dengan erat untuk mengingatkan bibit-bibit bodoh ini, mereka mati. Aku lega.

Pesta ulang tahunmu meriah, bebas. Orang tua kalian sedang di luar negeri, akupun menjadi semakin santai menikmati pesta. Aku menelusuri foto-foto yang berjejer rapi di atas meja panjang berwarna putih, kamu, adik, ayah, dan ibumu. Kalian terlihat bahagia, terlihat begitu seimbang dan penuh cinta. Aku mendesah iri, keluargaku adalah keluarga yang pincang, aku terlahir tanpa ayah. Seumur hidup aku tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari seorang ayah, aku hidup berdua bersama ibuku sejak kecil hingga dewasa. Tiba-tiba kamu menarikku ke lantai dua. Beberapa temanmu ada di sana membentuk sebuah lingkaran besar. Aku bertanya dimana adikmu, dan kamu hanya tertawa lepas lalu memaksaku untuk duduk. Botol itu berputar cepat dan berhenti tanpa perhitungan, kemanapun botol itu mengarah kalian saling berciuman, antar pria, pria dan wanita, antar wanita. Kalian tertawa keras seperti orang gila sambil menghisap benda-benda yang aku tidak tahu apa dan sebelum aku sempat menyadari apa yang terjadi kamu dan aku sedang berciuman, ciuman singkat yang ternyata lebih dari cukup untuk membuatku mabuk sekaligus mendorong benih-benih itu untuk tumbuh subur sampai mencuat keluar merobek-robek seluruh tubuhku tanpa ampun.

***

Sekarang botol itu mengarah padaku, semua orang tertawa senang termasuk kamu. Aku melihat sekeliling dengan bingung, bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan. Kamu naik ke atas meja dan mencondongkan tubuh ke arahku sambil tertawa histeris, kain pantaimu tertarik ke bawah sehingga hampir memperlihatkan sebagian buah dadamu. Beberapa detik sebelum kebodohan itu terjadi aku tersadar dan langsung mendorong tubuhmu dengan keras. Kamu malah tertawa senang. Laksmi … Laksmi … Laksmi perempuan yang tidak pernah bersusah hati. Aku bergegas melangkah keluar dengan rasa sesal kenapa harus bereaksi keras seperti itu. Dari luar restoran terdengar suara tawamu, kekasihmu, kekasihku, dan kalian semua yang nyaring membelah udara.

***
Kita harus menikah. Katamu.
Tidak. Kataku.
Lalu?
Ya dijalani saja …
Dijalani bagaimana? Tanyamu.
Ikuti saja jalannya. Jika di jalan itu tidak tertulis pernikahan maka jangan dilakukan.
Bagaimana kalau kita yang tulis sendiri?
Tidak boleh, pernikahan harus tertulis bukan sengaja dituliskan.
Kamu dan aku diam.
Kita berciuman lalu melanjutkan malam penuh peluh.

***
Aku menghembuskan asap putih itu ke udara lalu memandang pilu ke arah lautan biru yang terbentang luas. Aku teringat ibuku yang sangat menginginkan seorang cucu laki-laki. Ibuku tahu aku tidak pernah ingin menikah, tapi tubuhnya yang renta dan terlihat semakin rapuh membuat keinginanku semakin hari semakin goyah, seperti ombak yang tabah menerpa karang tanpa henti agar berbentuk sesuai keinginan sang laut. Aku meninju tembok semen di sampingku sampai tanganku terasa perih. Aku menghisap nikotin dalam-dalam, membayangkan racun itu memasuki seluruh rongga tubuhku dan membunuh semua benih-benih yang tumbuh dengan suburnya karena Laksmi. Laksmi … aku tidak tahu apa yang kamu rasa, tapi aku tahu kalau akhirnya aku merasakan cinta.

Di tengah lamunan sekelebat bayangan hitam mendekatiku. Dengan sigap aku menghindari tangan yang ingin merampas paksa batang putih ini dari tanganku. Aku mengenali lalu mencium tangan itu, tangan orang yang mencintaiku. Aku dan dia tertawa.

Kenapa kamu masih merokok? Katanya mau berhenti.
Ini yang terakhir. Aku berbohong.
Laksmi mau menikah.
Sama pria aneh itu? Jantungku terasa berhenti.
Kamu tertawa. Pria itu tidak aneh, cuma … eksentrik. Namanya juga seniman.
Aku pura-pura sibuk memadamkan api dari batang putih.
Sepertinya mereka saling mencintai, lagipula Laksmi sudah terlalu lama menjadi petualang sudah saatnya dia berlabuh. Dia sudah menemui tulisan itu di jalannya. Kamu memandangku, dalam.

Aku melihat ke arah laut biru yang tampak damai, tanpa beban dan pretensi untuk menjadi apapun selain menjadi laut itu sendiri. Laut tidak memiliki beban untuk sekolah, untuk sukses, untuk menikah, untuk memiliki anak cucu, untuk memberikan warisan … seandainya aku adalah laut.

Aku memandangmu. Tersenyum.
Aku telah menemukan tulisan itu dijalanku.
Aku hamil.

Jakarta, 24 Mei 2010

§ 9 Responses to Laksmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Laksmi at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: