tentang jogging

May 19, 2010 § 4 Comments

Jogging pertama yang saya lakukan di muka bumi ini adalah pemanasan lari keliling lapangan sebelum latihan rutin tim basket perempuan (yang terkenal cukup ganas) di masa SMP nan bahagia. Setelahnya saya tidak pernah sudi menyentuh kegiatan penuh keringat itu sampai saya berpacaran dengan seorang penggila lari yang kerap “memaksa” saya untuk melakukan jogging (minimal 5 putaran) di lapangan Sabuga tiap Sabtu pagi. Saat itu saya merasa amat tersiksa dan kerap merutuki pacar saya dalam hati walaupun kami berhasil mempertahankan hubungan kami sampai 1 tahun lamanya (dan ya, hampir setiap weekend dia berhasil menyeret saya ke Sabuga).

Sekarang ini saya berubah 180 derajat, saya memandang jogging sebagai kegiatan relaksasi yang paling ampuh. Saya tidak lagi memerlukan pacar yang akan “memaksa” saya untuk lari keliling Gelora Bung Karno (ceritanya udah pindah ke Jakarta) di Sabtu atau Minggu sore, bahkan kadang-kadang kalau sudah kebelet pengen jogging di saat weekdays saya bela-belain bangun di pagi buta dan jogging di jalanan umum (yang memang sangat tidak nyaman). Buat saya jogging bagaikan kegiatan meditasi bagi penganut agama Buddha dan kegiatan shopping bagi ras shoppaholic yang menyembah Becky Bloomwood dengan religius.

Jujur sampai sekarang saya masih bingung dari mana efek ajaib itu berasal.
Apakah …
Pepohonan hijau yang rindang beserta burung-burung kecil yang luar biasa banyak itu
Pemandangan pasangan kakek nenek bergandengan tangan, keluarga kecil lengkap dengan anjing lucu
Playlist Ipod saya yang memainkan Telefon Tel Aviv non stop (hampir selalu)
Sensasi memabukkan Pocari Sweat yang melewati kerongkongan setelah lari 5 putaran
Entahlah, yang jelas setelah jogging saya benar-benar merasakan k e b a h a g i a a n
Bukan dalam bentuk absurd, atau berdasarkan hukum relativitas Einstein.
Tapi kebahagiaan murni 24 karat, tanpa campuran.

Sabtu sore kemarin saya kembali melakukan relaksasi rutin saya berbekal Ipod, sepatu lari dan handuk kecil siap untuk merasakan kebahagiaan 24 karat.

Alhamdulillah, saya mendapatkan lebih dari itu entah berapa karat.

Pertama seorang teman “mengunjungi” saya untuk melakukan ngobrol ringan sembari lari-lari kecil. Seketika saya merasa menjadi wanita-wanita too good to be true Sex & the city di adegan jogging sore bersama di Central Park New York sambil ngobrol semua hal nggak penting. It feels good, walaupun saya dan teman saya cuma berdua dan kebetulan kami memiliki kelamin yang berbeda.

Kedua, saya mendapatkan satu pemikiran selewat (like usual) yang memberikan dampak lumayan untuk menendang otak kecil saya. Bahwa semua manusia-manusia di muka bumi ini ibarat planet, meteor dan segala isi dalam tata surya, sudah memiliki tugas dan gugusan masing-masing.

Berkaitan dengan jogging
Semua makhluk berkeringat yang Sabtu sore kemarin ada di Gelora Bung Karno tampak sibuk di “gugusan” masing-masing. Ada yang mewajibkan diri untuk lari 7 putaran tanpa berhenti (sampai wajah mereka merah seperti kepiting rebus), ada yang lari demi anjing tercinta sehingga terlihat lumayan tersiksa, ada yang semata-mata untuk sedikit menggerakkan pantat yang kelamaan menempel di kursi kantor, ada yang bertujuan untuk membakar lemak dilanjutkan dengan menelan satu porsi nasi goreng bakti ati ampela + telur ceplok setelahnya. Semuanya konsisten bergerak di gugusan masing-masing tanpa mengganggu gugusan orang lain.

Berkaitan dengan hidup nan riang ini …
Ada seorang teman saya yang mematok gugusan dia di muka bumi ini adalah menjadi lulusan S2 di luar negeri lalu menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka. Ada juga seorang teman yang lain yang berlari di gugusan kelompok yang tidak pernah mau bekerja kantoran dan keukeuh (in a good way) ingin menjadi sutradara video klip dengan caranya sendiri. Ada juga seorang teman yang lulusan akuntansi tapi malah berkecimpung di gugusan gambar menggambar tanpa rasa sesal setitik pun.

Intinya kan sama, lari keliling Gelora Bung Karno … eh … gugusan kehidupan. Ada yang lari-lari kecil di tempat dulu, ada yang pemanasan dulu, dan ada juga yang langsung lari terbirit-birit.

Menuliskan topik ini, saya jadi teringat komentar seorang teman di salah satu tulisan saya di masa lampau, “Objek dan topik tulisan lo kok sering berkisar di topik yang agak-agak sama ya la?”
Dulu saya belum punya jawaban, dan saya pun langsung merasa rendah diri serta kurang kreatif (dibandingkan dia yang insan dunia periklanan itu) karena cuma bisa menuliskan topik yang kurang lebih sama.

Tapi sekarang saya sudah punya jawaban, “Gugusan saya memang di sini, gimana dong?”

Atau seperti kata Diela Maharani

What matters to me doesn’t matters to you. What matters to you doesn’t matters to them. What matters to them doesn’t change anything.

So be it, anything you like😀

§ 4 Responses to tentang jogging

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang jogging at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: