isi kepala tidak ada yang sama

May 10, 2010 § 11 Comments

Begitu juga dengan dua orang anak manusia yang saling mencintai dan telah merasa cocok luar dalam.

Tidak peduli sebesar apapun rasa cinta yang dimiliki oleh dua insan tersebut, dua kepala adalah dua hal berbeda yang tidak mungkin memiliki pendapat yang sama untuk semua hal sepanjang karir mereka sebagai suami istri dan sampai akhirnya dipisahkan oleh maut atau pihak ketiga *knock on wood.

Cocok, bisa. Sama … tidak mungkin.

Berangkat dari pemikiran yang datang tiba-tiba tanpa diundang ini, saya pun jadi bertanya-tanya. Apakah kitab suci menuliskan bahwa sepasang suami istri wajib menggabungkan privasi mereka dalam satu kamar yang sama? Membayangkan hal ini saya jadi jengah. Maaf, bukannya saya individu super egois yang tidak ingin membagi ruang privasi saya dengan pria yang saya jadikan pendamping hidup. Tidur bersama memang harus dilakukan, mengingat kegiatan tersebut untuk menjaga kegiatan ngobrol santai malam hari yang biasanya dilanjutkan dengan aktivitas penuh peluh suami istri untuk menghasilkan manusia-manusia junior yang semoga nantinya akan sepandai Sri Mulyani. A girl can dream right?

Menurut pemikiran sok tahu saya biarlah kamar bersama menjadi ruang sakral untuk kegiatan yang memang harus dilakukan bersama-sama. Tetapi alangkah menyenangkan jika masing-masing tetap memiliki ruang privasi untuk bercakap-cakap dengan diri sendiri.

Mengutip kata orang bijak, seorang manusia baru bisa mencintai manusia lain apabila sudah berhasil memahami dan mencintai dirinya sendiri.

Dalam pernikahan antara dua anak manusia, pengenalan terhadap diri sendiri cenderung berkurang atau malah berhenti sama sekali karena masing-masing terlalu sibuk mengenal lebih dalam pasangan masing-masing. Dan (mungkin) inilah yang membuat pondasi atas rasa cinta itu goyah, entahlah … sampai saat ini saya belum menikah dan ini hanyalah  hasil pengamatan lingkungan sekitar. Maaf kalau agak sok tahu🙂

Sampai detik ini saya merasa amat beruntung, karena orang yang saat ini menjadi pasangan saya (semoga seterusnya. Amin.) adalah tipe orang yang sangat memahami pentingnya keberadaan ruang bagi diri sendiri.

Bahkan pasangan seniman lagendaris Diego Rivera dan Frida Kahlo memiliki rumah terpisah yang dihubungkan oleh sebuah jembatan kecil, jembatan ini mereka sebut “cinta”. How beautiful is that?🙂

Putih untuk Diego dan biru untuk Frida

§ 11 Responses to isi kepala tidak ada yang sama

  • nikenike says:

    kita sempet bahas ini selewat ya waktu itu, dan ya saya termasuk yang setuju dengan menghargai ruang masing-masing. dari dulu, ibu saya selalu mengingatkan hal ini.
    mungkin saya nggak akan mempraktekkan dua rumah terpisah seperti Kahlo atau Burton, tapi dengan cara yang lebih sederhana..:)
    yah, saya juga sok tau sih mengingat saya juga belum menikah :p

    • Lala Bohang says:

      Well saya juga gak mau 2 rumah terpisah neng. selain berat di ongkos capek jalannya hehe …
      mungkin saya dan pasangan akan punya ruang kerja/privasi/bengong masing2🙂 that’s all
      dan ya kita ini perempuan2 sok tahu hahahaha

  • minidoor says:

    saya juga setuju dengan pentingnya kita mempunyai dan tetap menjaga ruang bagi diri sendiri. bukankah dengan mengenal dan mencintai diri sendiri, kita pun dengan tanpa keharusan, bisa mengenal dan bahkan lebih mencintai keberadaan pasangan kita?

    yah, tinggal tunggu prakteknya aja sih saya😀

  • dikantor kebetulan gwa dikelilingi perempuan-perempuan yang setelah menikah pun masih seru dengan traveling dan passion kerja sendiri. bahkan yang satu, yang masih pengantin baru cerita, dia seperti berada didalam “long distance relationship” saking dua-duanya begitu sibuknya dengan kerja masing-masing. the husbands are so cool that they never mind when their wives are kidnapped for some girls’ nite out with dear friends. they’re all very loving and solid couple.
    mungkin justru karena itu ya, jadi sempat ada ruang buat kangen dan penasaran lagi…ketimbang “terjebak” dengan orang yang tidak ada semangat atau cita-cita sendiri dan hanya memusatkan seluruh perputaran universalnya kepada sang kekasih…*pret… ilfil deh😛
    ekekekekeke

    • Lala Bohang says:

      wah perempuan di sekelilingmu keren2 sekali. I love them already *lebay

      well, meletakkan kebahagiaan kita sbg manusia pada satu orang lelaki terlalu berat untuk diri kita sendiri dan (tentu saja) berat sekali untuk lelaki itu🙂
      *toss!

  • Karina says:

    entah kenapa saya juga merasakan hal yang sama *melihat dari lingkungan dan keluarga saya. ketika dua orang manusia hidup satu atap (menikah) dan “hanya” hidup menjalani perannya saja, cinta yang menautkan dua orang itu akhirnya lama-lama memudar, yang tersisa hanya, ya itu tadi, hidup menjalani peran, sebagai ibu, istri, nyonya rumah, penghuni di rumah nomer sekian sekian…tapi tidak menjadi diri sendiri.

    oh betapa saya tidak menginginkan hidup seperti itu. dan saya pun setuju dengan kelimat terakhir mu diatas itu “meletakkan kebahagiaan kita sbg manusia pada satu orang lelaki terlalu berat untuk diri kita sendiri dan (tentu saja) berat sekali untuk lelaki itu”

    cheers ^_^

  • Lala Bohang says:

    Menjalani peran memang sulit karena itu berarti “memerankan” sesuatu dan bukan apa adanya menjadi “diri sendiri”. saat ada cinta bisa berjalan tidak berlawanan arah dengan diri sendiri simpan cinta itu, kalo bisa sih selamanya😀
    toss Karina!

  • gogochan says:

    Jujur saja, saya baru tersadar. Ibu saya sempat seperti itu. Terkungkung dengan perannya hanya sebagai ibu dan istri. Tapi sepertinya belakangan ini dia sudah mulai memiliki perannya lagi sebagai diri sendiri, walaupun dia sendiri seperti tidak menyadari bahwa proses itu sudah berjalan. And i’m amazed.
    Ini juga menjadi pembelajaran bagi saya pribadi. Menjadi diri sendiri sekaligus menjalani berbagai peran itu memang sulit. Jika sedikit tidak seimbang, maka saya takut kesasar di salah satu ‘jalan’. Semoga dengan menjadi adanya diri sendiri dengan lebih baik, saya bisa menjalani peran-peran saya dengan baik juga.
    Btw, rumah Diego dan Frida itu memang sungguh indah.

  • […] credit: lala bohang. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading isi kepala tidak ada yang sama at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: