mari melakukan detox (dengan sadar)

May 5, 2010 § 3 Comments

Di tempat terakhir saya mengadu nasib ada satu masa dimana hampir semua ibu-ibu yang kebetulan memiliki berat badan berlebih sepakat untuk melakukan detox masal atau yang biasa saya sebut “penyiksaan terhadap diri sendiri”.

Jadwal rutin “penyiksaan terhadap diri sendiri” tersebut dibuka dengan jus wortel dan sayur mayur di pagi hari, dilanjutkan mengunyah kentang rebus hambar, lalu jus buah (tanpa gula tentunya) di sore hari, ditutup dengan makan sayur rebus tanpa garam di malam hari (dengan menuliskan saja perut saya sudah mual).

Setelah melakukan penyiksaan tersebut selama 10 hari tanpa berhenti, akhirnya ibu-ibu yang (sayangnya tetap memiliki berat badan berlebih) itu bebas merdeka dari segala menu penyiksa. Dengan gagah mereka semua langsung memesan nasi padang, kikil, ayam bakar, dan kuah santan super banyak untuk menu makan siang. Tak heran, 2 minggu kemudian mereka pun kembali ke bentuk asal sebelum melakukan “penyiksaaan terhadap diri sendiri” bahkan beberapa terlihat lebih “mengembang” dari sebelumnya. Dari sini saya menyimpulkan kalau kegiatan “penyiksaaan terhadap diri sendiri” itu mereka lakukan semata-mata agar mereka dapat memangkas beberapa kilo lemak dari tubuh mereka dan (siapatahu) akan terlihat lebih kece, that’s all. Tidak kurang tidak lebih.

Berbeda dengan seorang ibu pemimpin yang masih cantik dan sehat di usianya yang tentu saja tidak lagi semuda saya *ah!. Dia melakukan detox tersebut dengan sangat anggun, tidak pernah menampilkan mimik tersiksa seperti ibu-ibu lain jika harus menelan jus dengan bau dan rasa super ajaib itu dan tidak pernah mengeluh dengan keharusan untuk  menghindari segala macam makanan lezat yang sebenarnya kapanpun bisa dia telan. Setelah penyiksaan panjang tersebut berakhir dia tidak ekstrim dengan langsung menelan nasi padang komplit dengan kikil dan kuah santan, dia hanya melahap menu seimbang yang tidak mengandung lemak tidak berguna dan begitu seterusnya. Dari sikapnya ini saya dengan mudah menyimpulkan kalau dia melakukan proses detox pure untuk menjadi dia yang lebih baik, tanpa paksaan atau hidden agenda untuk mengurangi berat badan atau menjadi agak kece, sehingga proses tersebut tidak terlihat seperti “penyiksaaan terhadap diri sendiri”.

Untuk saya sendiri, kenapa saat itu saya tidak ikut-ikutan melakukan kegiatan tersebut?

Menurut saya masih banyak hal lebih penting untuk saya detox dibanding racun-racun dalam tubuh yang memang berasal dari makanan dan minuman favorit saya, toh saya mengkonsumsi mereka dengan kesadaran penuh!

Berbeda dengan racun-racun yang telah saya konsumsi atau miliki tanpa kesadaran penuh, dan hal-hal tersebut dengan manisnya bercokol di segala aspek kehidupan saya. Mereka ada di dalam lemari pakaian saya, berwujud pakaian-pakaian yang tidak pernah saya gunakan selama 6 bulan bahkan 1 tahun terakhir tapi nggak pernah cukup rela untuk menghibahkan mereka. Mereka yang ada di YM friend list saya berupa “teman-teman” yang tidak pernah saya ajak ngobrol selama 5 tahun terakhir entah karena apa (?!!@#$). Mereka yang ada di rak sepatu saya berwujud sepatu-sepatu high heel berbagai warna dan model sisa-sisa zaman masih “ngantor serius” yang dikhawatirkan akan segera lapuk dimakan lembab udara dan rayap. Mereka juga ada di lemari (yang semestinya lemari pakaian) majalah saya, berupa tumpukan super tinggi majalah-majalah fashion yang sudah jadi guilty pleasure saya selama 4 tahun terakhir. Mereka ada di otak saya, berupa pemikiran pesimis, tidak yakin atas diri sendiri, penyesalan tidak berguna atas masa lalu dan kadang-kadang berwujud pemikiran super antagonis atas orang lain *sigh. Mereka juga banyak sekali terdapat di dalam khayalan saya, ya saya seringkali membayangkan hal buruk yang semestinya jangan pernah dibayangkan. Mereka juga terdapat di friend list FB saya, berupa orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu saya kenal tapi karena-kami-punya-20-mutual-friends akhirnya saya approve dan hasilnya seringkali memberikan komentar tidak penting. Mereka juga ada di twitter dengan koleksi keluhan yang super banyak dan amat kreatif. Mereka juga ada di beberapa kebiasaan “tidak peduli sekitar” saya yang semakin akut. Dan cukup sudah pembeberan atas racun diri sendiri ini. Saya agak malu soalnya, sungguh.

Sejujurnya saya ingin segera melakukan detox, tapi saya takut setelahnya saya malah “balas dendam” dengan makan nasi padang komplit dengan kikil, ayam goreng cabe hijau, santan, dan sambel hijau super banyak (air liur pun menetes) karena saat ini saya masih kurang ikhlas dan tidak sepenuhnya sadar. Saya ingin detox dengan kesadaran penuh, yang ternyata tidak semudah yang saya kira.

Agar saya dapat membuang semua racun tanpa sesal

Yang saya tahu, saya akan
Dan jika saatnya tiba saya akan melakukannya dengan (sok) anggun juga.

Demikian sekilas latar belakang kegiatan detox dan daftar racun yang ingin saya detox dari kehidupan kecil saya.

Kalau racun di hidup kamu apa?

§ 3 Responses to mari melakukan detox (dengan sadar)

  • boleh ngga ya menganut paham imunisasi… si racun lama-lama akan membuat kebal dan lebih kuat ekekekeke…
    tapi sepertinya kurang oke ya kalo kebalnya terhadap penyadaran diri supaya mulai mengobati inferiority complex yang sudah mengakar dari masa kecil + rasa benci terhadap pekerjaan karena merasa gagal menjadi praktisi yang sakses sekeren stefan sagmeister waw o waw + tenaga yang dihabiskan meratapi sepatu-sepatu ysl dan chloe yang tentunya mustahil untuk dibeli saat ini namun begitu amat diidamkan karena diperkirakan bisa menambah nilai kekerenan diri yang sesungguhnya tidak demikian deh ah + ketakutan setiap mau mulai menggambar karena yakin sekali bahwa setiap gambar bagus yang pernah terhasil itu karena kebetulan atau hoki berat aja deh aw jadi kali ini belum tentu hoki lagi ah nyet + + +
    sekian curcolnya, dan sepertinya dengan membaca tulisan lala ini jadi selangkah lebih dekat kepada kesadaran yang ditunggutunggu ituh… min amin! :”D

    • Lala Bohang says:

      WOHO comment kamu menohok aku ms.romanova hahaha …

      it seems like we have the same “kusut otak” lucky us!😀
      – merasa gagal jadi praktisi sekelas sagmeister : well … my sagmeister is yuko shimizu, in this case dia baru mulai menggambar serius di usia 30 tahun. jadi tidak ada kata terlambat. siapa tahu kita akan menjadi seperti idola kita di usia 35 (yg penting jadi). SEMANGAT!SEMANGAT!
      – YSL dan Chloe : saya berhenti mengharapkan mereka 1 tahun yang lalu, biarkan mereka menginspirasi saja *kelu dan nangis bombay
      – Gambar bagus : WELLLLLLLLLLLLL … BAGIAN INI SAMA BANGET! *sigh gimana ya? satu2nya cara adalah dengan terus menggambar tidak peduli bagus atau jelek (membijakkan diri)

      Nyok mulai detox kalo emang udah ikhlas🙂

  • debu says:

    Lakukan puasa daud atau senin kamis: langsing, sehat plus dapat pahala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading mari melakukan detox (dengan sadar) at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: