tentang seonggok chat via YM

April 27, 2010 § Leave a comment

Hari ini dibuka dengan stretching ringan agar aliran darah saya tidak semacet biasanya dan semoga berdampak pada daya pikir, dilanjutkan dengan beres-beres kamar yang sebenarnya sudah cukup rapi (emang doyan), mandi, lalu mulai ngutak ngatik kerjaan sembari cek-cek email, FB, twitter dan sebangsanya.

Waktu cek email saya dapat message via Twitter dari seorang teman, dia minta YMnya di add. Singkat cerita. Saya online. Meng-add dia. Dan kami pun melakukan chat riang di siang hari.

Awalnya teman saya ini cuma tanya-tanya soal blogging. Bla bla bla ini dan ini ina itu. Katanya dia pengen mulai nge-blog, langsung naluri “mau tahu” saya muncul. “Emang mau nge-blog tentang apa?” dan jawaban dia tidak memuaskan dahaga saya yang memang sulit dipuaskan ini. Setahu saya, teman saya ini adalah manusia yang sangat berbakat di bidang kreatif, apapun itu kalo disentuh olehnya jatuh-jatuhnya bakal kece berat dan saya (ngaku dosa) rada iri dengan kemampuannya. Yang membuat saya agak bingung adalah dia mau nge-blog mengenai hal yang sama sekali bukan “medan”nya.

Dengan tidak sopannya saya terus bertanya dan mengorek. Dan ternyata dia memang berniat untuk beralih ke medan lain, yang jauh berbeda dari medan yang saat ini dia tekuni.

Hati kecil saya agak senang sebenarnya, karena itu berarti akan berkurang satu orang super kreatif di dunia kreatif yang sudah sumpek ini. Tapi hati kecil saya yang lebih kecil lagi sangat menyayangkan keputusan itu karena talenta dia terlalu besar untuk dialihkan. Untunglah hati kecil saya yang lebih kecil menang, saya pun berkoar-koar soal teori Outliers, dan lain sebagainya berharap dia mempertimbangkan lagi keputusannya itu. Tapi jawaban singkat darinya membuat semua pengungkapan teori itu menjadi sia-sia …

Gue merasa harus STOP dan ‘kembali’ ke akar gue. Kalau nggak sekarang dan sesuatu yang nggak diinginkan terjadi, gue akan hancur.

Akar dalam pengertian teman saya ini adalah keluarga, kota asal, dan tradisi. Dia merasa harus berhenti melakukan apa yang dia lakukan sekarang untuk ‘mengalah’ sebentar kepada esensi hidup yang jarang saya, kamu dan kita sadari keluarga. Saat itu juga saya langsung merasa kecil dan menjadi Malin Kundang versi 2010, saya yang tidak memiliki bakat sebesar teman saya bisa super keukeuh untuk mencapai impian saya walaupun itu membuat mama saya agak ketar-ketir karena takut anak sulungnya tidak hidup dengan layak. Saya juga keukeuh tinggal berjauhan dari keluarga inti saya untuk hal yang bernama impian itu tadi. Saya keukeuh tinggal sendirian di kota macet dan super panas ini … untuk  i m p i a n.

At the end. We can’t have it all.

Semua ini soal pilihan, memilih. Sampai saat ini saya masih berharap akan adanya kemungkinan yang bisa menjadi jalan keluar terbaik untuk semua pihak. Impian. Keluarga. Esensi. Bisa berjalan setidaknya berdekatan, karena mereka tidak mungkin beriringan apalagi bergandengan.

Beruntunglah kamu yang saat ini masih tinggal serumah atau setidaknya satu kota dengan keluarga intimu. Tidak perlu SLJJ, YM, SMS atau Skype hanya untuk sekedar bertukar cerita tentang hari. Please … be thankfull for that. I envy you.

Note:
Di akhir chat siang tadi teman saya bilang dia hanya akan “menunda” bukan 100% STOP. Well pernyataan dia membuat saya agak lega. Semoga teman saya ini akan memiliki family time yang menyenangkan dan (akhirnya) membuat orang tuanya tersenyum senang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang seonggok chat via YM at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: