tentang si Eli

April 26, 2010 § 10 Comments

Kadang-kadang hati saya menjadi super sensitif tanpa pemberitahuan lebih dulu, kalau sudah begini saya akan mudah terharu dan mengeluarkan stok air mata saya untuk alasan yang kurang kuat.

Dan tadi malam, saya kembali menjadi makhluk super sensitif ketika menonton The Book of Eli yang konon kata sebagian besar teman saya “Bagus banget!”.

Awalnya kesan pertama yang saya dapat di awal film ini adalah “Film ini semacam I’m legend wannabe ya?” karena pemeran utama yang sama-sama berkulit hitam dan bumi yang sudah hancur luluh lantah tak berbentuk sebagai inti cerita. Tapi semakin larut dalam cerita, semakin sadarlah saya kalau film ini bukan sekedar film action-baku tembak-bunuh-tusukzombie biasa. Buktinya saya menghamburkan stok air mata saya lebih boros dari biasanya, bahkan saya menangis saat Eli ditembak oleh Opa Dracula dalam slow motion yang sebenarnya agak lebay.๐Ÿ™‚

Ada satu dialog yang sampai detik ini masih terngiang-ngiang di kepala saya, yaitu sewaktu Solara yang super kece bertanya kepada Eli bagaimana kehidupan di bumi sebelum hancur lebur seperti sekarang, yang dijawab dengan bijak oleh Eli :

People had more than they needed. We had no idea what was precious and what wasn’t. We through away things people kill each other now.

Jawaban Eli dengan suksesnya membuat saya (hampir) mengeluarkan air mata dan langsung teringat pada tumpukan sepatu saya yang luar biasa banyak dan sebenarnya tidak terpakai semua, celana hitam saya yang jumlahnya 6 potong, adik-adik saya, nyokap, opa oma, para sahabat dan pacar yang sedang ketiduran di sebelah kursi saya karena ngantuk berat (jangan salah, ketika Ice Age 2 pun dia tertidur).

Singkat kata, kalimat itu membuat saya merasa sebagai orang paling boros dan mubazir di dunia.๐Ÿ˜ฆ
Tapi untuk membagi-bagikan para sepatu dan celana itu rasanya saya tidak tega. Well, setidaknya saya ‘hanya’ berlebihan di dua hal itu.

Kembali ke persoalan stok air mata, saya menangis bombay tanpa henti saat kakek dan nenek pemakan daging manusia yang tinggal adem ayem di rumahnya mati ketembak sama opa Dracula. Saya nggak tega melihat dua orang yang tua bersama harus mati tragis seperti itu, di luar fakta mereka adalah pasangan kanibal. Mereka berdua pantas untuk kematian yang lebih layak dan menyenangkan.

Saya memberi 8 (skala 0-10) untuk film ini.
Do watch this movie!

§ 10 Responses to tentang si Eli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang si Eli at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: