seandainya sekolah di negara ini seperti Tomoe Gakuen

April 13, 2010 § 5 Comments

Toto-Chan | Image from here

Punya mata, tapi tidak melihat keindahan;punya telinga, tapi tidak mendengar musik;punya pikiran tapi tidak memahami kebenaran;punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah.

Dikutip dari Toto-Chan : Gadis Cilik di Jendela

Kalau beberapa dari kamu merasa ada di “pekerjaan/jurusan pendidikan yang salah” sama seperti saya yang dilanjutkan dengan kekesalan kenapa bisa dan bagaimana cara keluar dari lingkaran setan ini?

Jawabannya terletak pada masa pendidikan kita semua selama 12 tahun penuh saudara-saudara. SD yang menyiksa kita yang masih manis tanpa dosa dengan Ebtanas (di zaman saya loh), SMP yang melakukan pembunuhan masal dengan UN (di masa kini), dan SMU yang membuat sebagian besar murid menjadi kehilangan fokus mau jadi apa 5 tahun ke depan dengan UAN dan UMPTN.

Merunut pada jawaban di atas, saya dan kamu semua yang kebetulan seangkatan atau 5 tahun di atas/di bawah saya akan merasa terlambat karena sudah terlanjur melewati masa 12 tahun yang laknat itu. Ya teman … kita semua telah berada di dalam lingkaran setan yang diciptakan oleh sistem pendidikan negara kita sendiri.

Ada dua (+1) pilihan untuk kita :

  1. Pasrah, sudahlah ya apa boleh buat dan tetap menjalani lingkaran setan ini dengan khidmat.
  2. Memberontak, bodo amat mau jadi apa yang penting senang dengan angkat kaki dari lingkaran setan goblok ini.
  3. Ambil jalan tengah dengan kawin sama orang kaya dan untuk selanjutnya tidak perlu pusing mikirin cara menghasilkan duit (Nia Ramadhani contoh suksesnya).

Dan ada 2 pilihan saja untuk sistem pendidikan negara ini :

  1. Tolong Ibu/Bapak yang terhormat agar giat bekerja dan segera merevolusi sistem pendidikan agar tidak lebih banyak manusia dengan life quarter crisis akut bercokol di tengah masyarakat, ya karena terjebak di lingkaran setan itu tadi. Puhlease!
  2. Lakukan dulu pilihan No.1

Dari Tomoe Gakoen ada beberapa hal yang tersangkut dengan manisnya di otak saya :

  • Bahwa setiap anak adalah spesial, mereka memiliki interest dan “kekuatan” masing-masing. Tidak bisa dipukul rata semua harus jenius Matematika atau cas cis cus ngomong Inggris. Jadi tolong jangan paksa lagi anak-anak untuk lulus dari sekolah dengan syarat pintar Matematika, Bhs. Inggris, Kimia, Fisika, Akuntansi, Sosiologi, dan bahkan saya sudah tidak ingat saking banyaknya.
    Mereka bukan mesin, mereka adalah manusia yang memiliki bakat masing-masing, dan tugas kalian untuk mencari tahu apa kelebihan mereka dan memaksimalkan itu. Tidak terlalu sulit bukan? Daripada kegiatan kalian selama ini yang selalu memaksa jenius seni untuk jago Matematika. Oh come on …
  • Jangan mendidik anak-anak dengan cara yang “menakutkan” itu bukan cara yang efektif, bahkan cara itu cenderung membunuh rasa ingin tahu dan keberanian untuk melakukan berbagai hal. Tolong  jangan menyiksa psikis yang masih dalam masa pembentukan. Anak-anak bukanlah hewan peliharaan yang harus merasa “takut” terhadap majikannya. Lagian apakah ada yang rela diingat sebagai orang yang killer (mengingatkan saja arti killer adalah pembunuh).
  • Belajar tidak harus mengurung anak-anak selama 6 jam penuh (dan sekarang ada yang 10 jam. SINTING!) di dalam ruang kelas yang rapi dan kaku. Belajar ada di alam bebas, tidak perlu kaku, dan mengutip jargon Nike “Just do it”. Teori bisa basi dan dilupakan tanpa bekas, tapi pengalaman adalah hal yang selalu menjadi pelajaran yang berharga. Mengajar yang baik adalah sedikit teori dan langsung praktek, tanpanya jerih payah kalian cuap-cuap yang hanya akan berwujud seonggok nilai (yang kadang-kadang berwarna merah).

Dan sepertinya itu saja yang ingin saya sampaikan untuk saat ini. Semoga ketika saya sudah menghasilkan junior saya di negara tercinta dan amat kaya ini, profesi yang dianggap “berkelas” bukan hanya dokter, arsitek, presiden, BOD apapun, dan artis sinetron (blah!). Karena segala hal yang dilakukan dengan sepenuh hati dan rasa cinta pasti akan menghasilkan totalitas dan hasil yang memuaskan.

Tolong Bapak/Ibu bimbinglah anak-anak yang memiliki otak segar dan hati terbuka luas itu untuk menemukan hal yang mereka cintai dan bimbing mereka untuk percaya terhadap diri mereka sendiri. Setelah itu terjadi, tidak ada keraguan lagi untuk negara merah putih tercinta ini untuk menggantikan China sebagai negara adidaya dunia.

Small step for a change.

(dan ini sedikit selipan yang bingung mau diletakkan di mana)
Jika kamu sudah membaca Toto-Chan kamu pasti tahu kenapa Toto-Chan dikeluarkan dari sekolahnya yang lama. Dan saya menemukan kutipan yang mengagumkan ini :

So her mother had to find another school for her and what she worried about was not her child weird behavior but the school to suit her child.

Oh my, I love Toto Chan’s mother🙂

§ 5 Responses to seandainya sekolah di negara ini seperti Tomoe Gakuen

  • primaindesire says:

    whoaa.. iya! saya berpikir hal yang begitu hebat ketika membaca Toto chan itu..
    well tp hanya sebatas memimpikan karena pada akhirnya, inilah yang ada di sini.
    sistem sekolah yang seeprti ini yang ada..

  • Iya gue sampai saat ini masih iri setengah mati sama Toto Chan dan sibuk membayangkan akan jadi apa dia setelah dewasa ^.^
    Tidak semua org seberuntung dia bukan?

    Bisa kok merubah, coba aja jadi menteri pendidikan🙂

  • whoaaa.. emang mba. untuk merubah sesuatu, kita harus masuk, menjadi bagian dari bidang yang mau kita rubah itu.. tapi kalau saya yang jadi menteri pendidikan.. apa kata duniaa?? hhaha

    mba aja deh kalau gitu.. hehehe
    tulisan2 mba bagus2 pasti mba cocok *hiiihi

    (membicarakan akan jadi menteri berbekal toto chan doang? hehehe kita bener2 pemimpi ya mba ;P)

  • […] terpesonanya dengan buku ini saya sampai bikin postingan khusus di sini. Seandainya SD saya seperti Tomoe Gakuen, saya yakin tidak akan berada di posisi bingung ingin jadi […]

  • semua berawal dari mimpi, bukan lagi dalam angan, sulit bukan berarti tidak mungkin,😀
    semangat untuk belajar yang lebih baik!
    itulah semangat yang ditransferkan pada setiap pembaca totto-chan, termasuk saya.
    bahwa bukan hard skill yang utama, soft skill pun merupakan ppartner kesuksesan seseorang [dewasa].
    saya merasa diingatkan kembali bahwa belajar adalah mengerti , meamhami dan bisa melakukan inovasi, bukan sekedar juara dan ranking dalam kertas. bukan hanya pujian dan hadiah setelah kelulusan. lebih dari itu, belajar adalah untuk kita lebih banyak pemahaman tentang sesuatu, terimakasih tetsuko-san, mr. kobayashi,dan semua yang mendukung Tomoe Gakkuen😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading seandainya sekolah di negara ini seperti Tomoe Gakuen at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: