I don't wanna live in Revolutionary Road

April 10, 2010 § 2 Comments

You want to play house you got to have a job. You want to play nice house, very sweet house, you got to have a job you don’t like.

Kutipan di atas berasal dari Revolutionary Road salah satu dari sekian banyak film yang sangat berkesan buat saya. Sudahkah kamu menonton film ini? Jika belum, saya sangat menganjurkan untuk membeli DVDnya dan jangan sampai hanya teronggok berdebu di samping DVD player, like I did 🙂

Saya sudah menonton film ini beberapa bulan yang lalu, tapi masih sangat membekas. Entahlah …
Apakah karena reuni apik dari Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet, ataukah tema mendasar tentang “menjadi orang yang spesial” yang kerap kita miliki di hati dan pikiran masing-masing (akuilah).

Seperti biasa, apabila saya terkesan pada sebuah film saya tidak akan membahas film itu dari sisi “serius” seperti sinematografi atau pendalaman mengenai skenario. Saya lebih suka membicarakan kesan keseluruhan, pesan dan dampak yang terjadi pada pola pikir saya akibat film tersebut.

Being special
It’s not what we’re thinking about ourself, it’s what other people think about us

Frank dan April Wheeler (Leonardo & Kate) adalah pasangan muda good looking yang (tampaknya) melewati masa muda yang penuh dengan mimpi dan keberanian. Ingin melihat dunia, ingin menjalani kehidupan tertentu, mencapai hal-hal 1,2,3, dst, dan tentu saja menjalani kehidupan dengan cara yang “hidup”, ring a bell? Inilah pemikiran yang mungkin saya, kamu dan kita semua miliki saat kita semua masih menjadi mahasiswa bahagia yang dihidupi oleh orang tua masing-masing, life seems very easy. Seiring berjalannya waktu, hidup menjadi sebuah realita yang pada akhirnya akan dijalani dengan kenyataan. Frank dan April Wheeler tetap menjadi pasangan muda good looking yang terlihat sangat serasi satu sama lain, tetapi semua hal yang mereka inginkan pada akhirnya hanya menjadi mimpi.

Setelah menikah Frank bekerja sebagai karyawan di kantor yang sama dengan (alm.) Ayahnya, setiap hari dia menjalani rutinitas yang sama, bangun pagi, berangkat ke stasiun kereta api (mereka tinggal di daerah suburb Inggirs), masuk kantor bersama dengan orang-orang yang berpakaian sama dengannya dan menjalani pekerjaan yang sama sekali tidak dia sukai. April adalah seorang ibu rumah tangga yang menjalani rutinitas dengan mengurus anak-anak dan suaminya serta menghabiskan hari dengan membereskan rumah dan berbincang basa-basi dengan teman wanitanya.

And the story goes …

Dengan kehidupan yang “normal” itu, April yang pada dasarnya memiliki jiwa yang bebas akhirnya memberontak dan ingin mengakhiri kehidupan yang mereka jalani untuk akhirnya memulai kehidupan yang “pantas mereka miliki”. Pada awalnya Frank sangat excited dengan tawaran April, karena dia merasa kehidupan yang “normal” ini tidak sesuai dengan karakter mereka yang “spesial”.

Mereka pun menyusun rencana gateaway dari kehidupan mereka yang sekarang. Saat Frank dan April menceritakan rencana ini kepada teman kerja dan kolega, tidak ada yang mempercayai keberanian mereka dan hal-hal yang selalu ditanyakan adalah, “Lalu bagaimana cara kamu mendapatkan uang di sana?”, “Apakah kamu akan benar-benar meninggalkan semua yang kamu miliki sekarang?”, “Kenapa bisa begitu yakin bahwa nantinya kehidupan yang kalian miliki akan lebih baik?” dst … dll … dsb. Tapi inti dari hal-hal tersebut adalah (mungkin) sedikit iri karena tidak mempunyai cukup keberanian untuk hal yang sama.

Change, everyone wants it
Fear, everyone has it

Frank dan April luar biasa senang dengan reaksi orang-orang dan semakin yakin dengan pilihan mereka, dan di sinilah alur cerita bermain. Mendekati rencana kepergian mereka Frank dan April mendapatkan hal-hal yang “mengejutkan” dan di luar rencana. Hal-hal tersebut membuat Frank agak goyah dari keyakinannya untuk meninggalkan kehidupannya. Pertengkaran besar terjadi bertubi-tubi antara mereka berdua, pertengkaran itu mengenai hidup, mimpi, keinginan untuk menjadi spesial, dan keberanian. Salah satu ucapan April di salah satu pertengkaran mereka yang sangat teringat oleh saya adalah :

I wanted IN. I just wanted us to live again. For years I thought we’ve shared this secret that we would be wonderful in the world. I don’t know exactly how, but just the possibility kept me hoping. How pathetic is that? So stupid. To put all your hopes in a promise that was never made. Frank knows what he wants, he found his place, he’s just fine. Married, two kids, it should be enough. It is for him. And he’s right; we were never special or destined for anything at all.

As for me, I thought I would be wonderful in the world, but this sentence makes me scared. Oh really … life is unpredictable.

Film ini mengingatkan saya, bahwa semua manusia memiliki ambisi pribadi yang mungkin tidak akan bisa dipahami oleh keluarga, teman-teman, dan bahkan pasangan hidup serta anak-anaknya. Ambisi bisa saja tidak terwujud karena sempat “mengalah” atas satu hal dan bahkan untuk kepentingan orang lain, ambisi itu bisa saja tidak melibatkan orang-orang yang paling kita cintai. Satu hal yang sering kita lupa adalah ambisi itu tidak akan pernah mati walaupun sudah dibunuh dengan cara paling sadis sekalipun. Dia akan terus hidup di dalam diri kita, dan akan meledak sewaktu-waktu. It’s your choice, your decision, make it happen or not. No regrets.

Satu kesalahan Frank dan April, mereka melakukan hal yang akan mereka lakukan adalah untuk dianggap spesial oleh orang lain, dan mendapatkan pengakuan. Sehingga ketika datang hal tidak terduga mereka “goyah” dan menjadi tidak yakin dengan hal yang mereka percaya. Well, itulah kita, manusia yang selalu haus akan pengakuan dan pujian (admit it)😀

Ingin dianggap spesial oleh orang lain memang perlu, tapi pada akhirnya melihat diri sendiri sebagai orang yang spesial jauh lebih penting (dan cenderung lebih sulit)

One thing, saya benci dengan akhir film ini. Kenapa? Karena terlalu nyata untuk dijadikan ending sebuah film Hollywood dan agak sulit diterima oleh pemikiran pisces seperti saya🙂

Please, watch this movie!

§ 2 Responses to I don't wanna live in Revolutionary Road

  • so true! seeing yourself as something special IS harder. all the praises from the world won’t mean a thing at the end of the day when i’m alone, it’s gonna be between “me” and “me”. and “me”‘s a cruel bitch.😛
    loveee yer writing! you sure know how to put words together and make them so yummy!
    *jadi pengen nonton filmnya!

  • ME is my biggest enemy😀

    nontonlah segera! semoga kamu sukaaaa
    makasih sudah singgah dan membaca dan memberikan komentar atas saya yang belajar menulis ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading I don't wanna live in Revolutionary Road at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: