Mereka* hanya menjual mimpi kosong

March 14, 2010 § 2 Comments

Pada satu masa di kota metropolitan bernama Jakarta, hiduplah seorang gadis manis yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang reporter di salah satu majalah lifestyle ternama. Gadis ini berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dan mengenyam pendidikan di sekolah yang tidak spesial sama sekali.

Tapi tanpa disangka pada suatu hari, seorang anak konglomerat kaya yang memiliki 20 perusahaan besar jatuh cinta kepadanya. Anak konglomerat kaya itu seakan digelapkan penglihatannya dari socialite-socialite muda cantik yang membawa Hermes atau Birkin bag kemana-mana dan mengenakan high heels pembunuh bersol merah. Anak konglomerat kaya itu secara ajaib jatuh cinta dengan seorang reporter biasa yang sehari-harinya menjalani hari via Busway dimulai dari Stasiun Kota dan berakhir di Jl. HR. Rasuna Said, reporter biasa yang membeli Zara ketika ada Year End Sale sebesar 50%, dan tentu saja sama sekali tidak pernah difoto untuk dipajang di majalah belakang bersama socialite lain yang rambutnya disasak setinggi sarang burung perkutut (kalaupun burung perkutut memang punya sarang) sambil mengenakan gaun yang tidak matching sama sekali dengan warna sepatu dan perhiasan.

Tapi itulah yang terjadi dalam hidup ini, anak konglomerat itu jatuh cinta tanpa alasan yang jelas dan mereka pun hidup bahagia sampai maut datang memisahkan.

End of story

Are you still buying this shit?

I still … because I love to read. Dan saya membeli cerita-cerita busuk ini via novel-novel yang saya kira akan menghilangkan dahaga saya akan bacaan.

Hasilnya … saya kasihan dan menjadi semakin haus.

Ternyata kisah Cinderella si upik abu dan Pangeran tampan belum berakhir (dan mungkin akan terus berlanjut sampai maut memisahkan bumi dan semesta). Kisah Cinderella ini memang so good to be true, impian semua wanita yang memiliki kehidupan standar, biasa saja, dan harus bekerja 8 jam sehari untuk membayar semua kebutuhan pokoknya. Apakah mungkin seorang Pangeran sempurna jatuh cinta dengan perempuan yang tidak meni-pedi 10 kali dan personal spa sekujur tubuh 5-10 kali setiap bulan? Shitty. I won’t buy them anymore.

Negara ini memang dijajah puluhan tahun oleh Belanda dan Jepang. Tapi penjajahan ini ternyata belum kunjung berhenti sampai sekarang, bahkan penjajahan ini jauh lebih parah karena telah melakukan ekspansi ke penjajahan pola pikir dan cara bersikap.

Cerita Cinderella itu semu kawan. Dongeng dibuat tidak untuk menjadi nyata, kecuali kamu artis sinetron luar biasa cantik seperti Nia Ramadhani atau artis papan atas nan ayu seperti Dian Sastrowardoyo. And believe me … it’s not easy for them to achieve their position. Tahukah kamu ada berapa puluh bahkan ratusan artis cantik dari papan atas maupun papan cuci yang harus disingkirkan untuk mendapatkan sang putra mahkota? Well … I can’t imagine.

Sadarkah kamu bahwa sebagian besar buku-buku yang beredar di negara yang amat saya cintai ini adalah buku-buku yang berisi mimpi kosong. Buku yang mengajarkan kalau tidak peduli se”biasa” apapun kamu, pada suatu hari akan datang keajaiban yang mengantarkan kamu untuk melangsungkan pesta pernikahan di Hotel Mulia yang menelan biaya sampai Rp 200 miliar atau mas kawin berupa rumah seharga Rp 20 miliar?

Dimanakah buku-buku yang mengajarkan apa itu arti kerja keras, dan bermimpi serta berusaha untuk menggapainya? Dimanakah buku-buku yang mengajarkan bahwa wanita harus kuat dan tegas sekaligus lembut terhadap pendampingnya? Dimanakah cerita yang bisa menginspirasi dan membuat pembacanya “terbangun” dan langsung melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri? Dimana? (tentu saja buku-buku ini mengejarkan dengan cara yang menyenangkan dan tidak membuat risih seperti Mario Teguh ataupun motivator pemaksa lainnya)

Saya hanya menemukan Dewi Lestari, tulisannya menginspirasi dengan cara yang unik. Tapi bukunya adalah bacaan untuk wanita dewasa dan bukan konsumsi pokok wanita-wanita muda yang nantinya akan membentuk negara tercinta ini 6 tahun ke depan.

Saya menemukan sosok-sosok fiktif yang kuat ini pada Stargirl, Pippi Langstrump, dan Anna. Tapi mereka adalah barang impor, bukan milik kita sendiri. Ah! Kita punya Bawang Putih dan Bawang Merah yang sebenarnya akan lebih ciamik apabila mereka di mix dan menjadi satu sosok perempuan kuat yang baik hati. Sayang … mereka diciptakan berpuluh-puluh tahun yang lalu dan anak zaman sekarang tidak terlalu suka dengan hal-hal yang tidak up to date dan kurang edgy. Mungkin Cut Nyak Dien atau Kartini lebih berharga untuk dibuat versi novel popnya, kembali ke pernyataan sebelumnya mereka kurang edgy dan kekinian jika merujuk pada generasi facebook dan twitter. Atau adakah tangan ajaib yang sanggup memberikan hawa edgy yang menyegarkan kepada mereka? Please raise your hand.

Bacaan penuh mimpi omong kosong ini mengakibatkan rasa capek yang luar biasa.

Bukannya saya bilang saya bisa menulis jauh lebih baik dari mereka (because I belive I’m not), bukannya saya bilang saya memiliki ide menulis yang lebih brilliant dari mereka. Tapi saya berani bilang … membaca terlalu banyak kisah Cinderella tidak baik untuk pola pikir saya (dan juga kamu).

Maafkan,
Saya cuma menginginkan lebih banyak Dewi Lestari dan jika memungkinkan ada 10 penulis baru yang bisa menghidupkan karakter wanita kuat seperti Stargirl.

Oh …
Dan tolong buku-buku yang cuma bisa mendongeng alat kelamin dan sex dengan cara yang sama sekali nggak “sastra” dimusnahkan saja.

*) Jika ada kesamaan karakter dan cerita itu hanyalah kebetulan belaka. Dan lagipula ini hanyalah racauan di blog gratisan.

§ 2 Responses to Mereka* hanya menjual mimpi kosong

  • nikenike says:

    ikut setuju Lala🙂
    miris banget sebenarnya dengan cerita-cerita seperti itu. membuat para perempuan menunggu ‘pangeran-pangeran’ tampan yg memahami wanita dan tau bagaimana cara menyenangkan perempuan. di dunia nyata? errrr, laki-laki yg benar2 paham wanita kalo bukan player ya…gay, and gay is a girl’s bestfriend.
    iya, kita butuh tulisan2 yg nyata. apa yg kamu tulis tadi masih mendingan daripada yg pernah aku baca. udah perempuannya cantik, sukses…cowonya juga…come on..

  • Lala Bohang says:

    Ayo Nike tulis buku yang membuat hati ini tidak miris🙂
    Klo emang pangeran tampan itu benar-benar ada saya mau pesan 1. Mereka adalah solusi mudah u/ segala kesulian hidup (baca:finansial/keinginan banyak)

    Sepertinya saya pernah baca buku yg kamu baca itu deh … perempuan cantik, sukses + pria tampan, sukses … *HAHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mereka* hanya menjual mimpi kosong at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: