hari yang biasa saja

February 12, 2010 § 4 Comments

Saya pulang kantor pukul 4 sore dengan hati riang karena Sabtu besok saya cuti (sistem Sabtu libur di kantor saya masuk-libur-masuk-libur. jangan komentar). Sampai di Griya Bambu saya langsung mandi air hangat dan duduk manis menonton Volver sampai tuntas (great movie!).

Setelah nonton saya bingung, akhirnya saya membereskan lemari pakaian yang sudah (super) awut-awutan. Saat merapikan lemari saya akhirnya memutuskan akan membeli satu lemari lagi (oh well … bagian ini juga jangan komentar).

Selesai

Bengong sebentar

Saya mulai meraup tumpukan DVD yang berhamburan dimana-mana, dan menemukan CD rekaman nyanyian adik saya zaman kami berdua masih tinggal bersama di Bandung dengan mesranya. Setelah menemukan CD itu, saya menemukan benda lain dari masa lalu, yaitu seamplop penuh photo box (now you can laugh at me).

Call me lame,
Tapi di zaman saya masih muda (hm …), saya doyan sekali dengan yang namanya photo box. Saya lihat satu demi satu, ada yang bersama teman-teman, ada yang bareng sepupu-sepupu, ada bersama mantan A, B dan C *LOL.
Benda kecil itu membangkitkan banyak sekali memori masa lalu, kebangkitan memori itu ternyata tidaklah terlalu buruk. Umumnya memori yang muncul adalah memori-memori indah yang memberikan rasa bahagia.

Saya ketagihan,

Saya pun mulai membongkar jurnal-jurnal lama yang memang sengaja saya simpan rapi karena saya yakin seberapa cupu atau culun tulisan saya di masa itu, mereka adalah salah satu harta saya yang paling berharga.

Kaget

Membaca hal A, menyadari kalau saya pernah merasakan perasaan B. Lalu muncul rasa rindu akan beberapa hal, akan hal-hal yang sayangnya nggak mungkin lagi kejadian di masa sekarang. Masa sekarang jauh berbeda dari masa dulu. Bahkan saya jadi sadar kalau isi otak saya … dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Bukan berarti saat ini saya lebih pintar dari beberapa tahun lalu, tapi saya merasa kalau (ternyata) isi otak saya yang agak ngejelimet ini pernah sangat sederhana dan tidak neko-neko.

Saya punya keinginan. Tapi itu adalah keinginan murni dari hati, bukan karena orang lain.
Saya punya teman. Tapi teman itu murni orang-orang yang memang membuat saya merasa berarti.
Saya punya kesedihan. Tapi kesedihan itu adalah rasa yang memang memiliki sumber.

Sekarang semuanya terasa abu-abu. Ada keinginan yang sebenarnya tidak terlalu diinginkan, tapi kenapa bisa jadi keinginan? Ada juga teman yang rutin ditemui padahal sama sekali tidak membuat diri ini terasa berarti. Kesedihan pun kadang muncul tanpa sebab dan undangan.

Well,

Apakah kamu di luar sana juga merasakan hal yang sama?
Saya tidak mau bilang kalau saya sedang mengalami life quarter crisis. Itu terlalu drama. Itu hanyalah pembenaran dari ilmu psikologi untuk orang-orang yang memang “krisis” tanpa sebab yang jelas. Saya menyimpulkan mungkin saya terlalu jarang menyapa Tuhan sehingga hati ini menjadi kurang pasrah dan ikhlas akan situasi yang tidak bisa dikendalikan.

Berjanjilah kamu (baca:saya), untuk berusaha bahagia dan menjadi “sederhana”.

§ 4 Responses to hari yang biasa saja

  • minidoor says:

    dari kemarin sebenernya udah mau komen ini.. hehe..

    hmm, saya juga suka buka-buka jurnal lama. dan kapan itu, baru sadar… ternyata 1 jurnal saya bercerita untuk 1 pria yang saya suka… saya udah punya… ngg, berapa yah tepatnya… yang pasti lebih dari 5 jurnal (saya punya jurnal dari jaman sma), jadi tebak saja, sudah berapa pria yang dengannya saya jatuh cinta (kasmaran, tepatnya) hehe… dan sampai sekarang, saya juga masih menulis seperti, “Dear Diary…”😀

    serius, menulis jurnal memang menyenangkan.. ada kelegaan tersendiri ketika selesai berbagi disana. di jurnal itu juga, tempat saya menyimpan photo box ^^
    dengan muka dan ekspresi yang… oh, ternyata saya bisa manis dan lucu jg jaman muda dulu.. hihi😀

    masa lalu memang menyenangkan untuk dikenang… mengingatkan betapa lugunya kita saat jatuh cinta dan membaca kembali kata-kata sahabat yang kita tulis di jurnal, ketika kita patah hati untuk pertama kalinya ^^

    saya setuju di kalimat terakhir, dan seperti itulah yang coba saya lakukan sekarang… untuk berusaha bahagia dan menjadi sederhana🙂

    • Lala Bohang says:

      Kok baru kebaca😦 maaf
      Kamu hebat sekali masih menulis dear diary saya iri hehe …
      Jurnal terakhir saya zaman kuliah yang mana cuma keisi 1/4 sisanya terdampar di multiply yang kemudian lanjut ke wordpress

      Emang sih menulis di jurnal akan jauh lebih jujur daripada nulis di blog, makanya suka lebih “kerasa” kalo dibaca ulang *mulai berpikir ingin nulis jurnal lagi

      Selamat berusaha ya😀

  • nikenike says:

    ah Lala..
    i feel you my dear
    aku juga pernah, ehmm maksudnya sering, merasa seperti ini.
    mungkin dulu hidup terlihat hitam putih, jadi mudah untuk kita menentukan sikap. sekarang, setelah melewati segala bentuk pengalaman yang senang-sedih-aneh-pahit-asam-gajelas, semua jadi terasa abuabu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading hari yang biasa saja at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: