I love you, Julia

December 31, 2009 § Leave a comment

(it’s gonna be a very long posting … but it just had to be)

Setiap kali selesai menonton sebuah film dan berpendapat “Film ini bagus!” maka akan ada dua kemungkinan :

1. Saking sukanya saya akan langsung menuliskan opini saya tentang film itu (setidaknya itu penting bagi saya)
2. Saking sukanya saya akan langsung menontonnya lagi, lalu lagi … lalu lagi … dan lagi dan lagi … (inilah yang terjadi pada film (500) days of Summer) dan (selalu) lupa untuk menulis tentang film itu

Julie & Julia adalah film yang berakibat pada kemungkinan pertama, yang mana semakin jarang terjadi🙂

Film ini BAGUS. Nuff said … really inspiring in many ways.

Saya selalu menyukai cerita/novel/film yang bercerita tentang ‘perjuangan’ seseorang mencari ‘dirinya’. Dan akibat tambahan yang saya dapatkan dari film ini adalah … saya ingin bisa memasak … bukan sekedar bisa tapi saya ingin bisa memasak seperti Julie & Julia. Well who knows? Mybe someday I can cook a  Beef Bourguignonne or mybe a real deal dessert like Chocolate Soufflé. Oh my husband will be the luckiest man on earth then. *LOL

Enough about recipes and food.

Kembali kepada film. Background film ini standar … tentang seorang wanita di usia 29 yang ‘masih’ diserang mid life quarter crisis (yeah I know, 29 it’s not a quarter anymore) but that’s what happen now. Semua orang memperpanjang masa mid life quarter crisisnya sampai usia 30 tahun (bahkan lebih). Itu bukan tanpa sebab.

Apakah kamu menyadari kawan? Sekarang ini kita (baca : generasi sekarang) semakin dituntut untuk memiliki multi achievements. Sukses di kantor/pekerjaan slash menjadi seorang profesional yang ‘megang’ di bidangnya slash ibu/bapak rumah tangga yang baik slash memiliki hubungan yang hangat dengan keluarganya slash memiliki kehidupan sosial yang ‘meriah’ slash tetap harus pandai dan update dengan lingkungan sekitar dan isu-isu dunia slash being fashionable (melihat jumlah fashion blogger dalam negeri yang makin menjamur, well beberapa memang OK beberapa … just skip them. Sorry) slash punya account di jejaring pertemanan online dan aktif slash punya agenda acara yang seru setiap weekend and so on … and so on (saya bisa membuat postingan khusus untuk ini).

Achievement … hard enough.
Multi achievements … crazy.

Kondisi ini digambarkan dengan baik di adegan Julie melakukan pertemuan rutin dengan 3 teman baiknya di sebuah restoran. Terlihat, 3 teman Julie adalah multi achiever, mereka sukses, lengkap dengan gadget masing-masing, berurusan dengan uang yang (amat) banyak, dan profilnya sudah dimuat di berbagai media dan tentu saja … memiliki blog dengan hits luar biasa.

Sedangkan Julie … just a common people. Dulu dia bermimpi untuk menjadi penulis, tapi tidak berhasil. Lalu dia mencoba hal B, tidak berhasil, lalu dia mencoba hal C dan tetap … tidak berhasil. Pada ahirnya dia memilih untuk menjadi pekerja biasa yang menghabiskan harinya di balik cubicle untuk mengangkat telepon.

Akhirnya dia mencoba … memasak. Karena itulah hal satu-satunya yang selalu dia lakukan dalam situasi hari seburuk apapun, dan karena memasak adalah seperti her very own Zen. Julie is a big fan for Julia Child, seorang chef ternama dari Amerika yang menulis buku lagendaris Mastering the Art of French Cooking yang merupakan kumpulan resep dan cara memasak menu Prancis (yang konon maha sulit itu) untuk wanita Amerika yang servantless. (Oh … I love this word :))

Julie pun memutuskan untuk memasak seluruh menu yang ada di buku Julia Child dan menulis seluruh pengalamannya di blog. Julie memberi deadline 1 tahun untuk menyelesaikan proyek pribadinya tersebut (karena dia tidak tahan untuk menyelesaikan ‘sesuatu’ dalam hidupnya). Deep in her heart, Julie berharap dari konsistensinya tersebut dia akan menjadi seseorang.

Di awal … blognya tidak menunjukkan tanda-tanda kesuksesan apapun. Tapi dia terus melakukan proyeknya karena dia merasa ‘harus’. It just had to be.

Setelah 1 tahun,
Julie akhirnya mendapatkan apa yang dia mau. Diulas di The New York Times, yang diikuti dengan dibanjiri tawaran untuk talk show, menulis buku, membuat versi film dari blognya, and so on and so on …

Dan tentu saja orang-orang (lain) hanya melihat hasil akhir dari sukses Julie. Tapi mereka tidak melihat bagaimana Julie mendapatkan kesulitan dalam rumah tangganya karena proyek ini, bagaimana Julie sakit dan tetap ‘keukeuh’ untuk memasak dan menyelesaikan targetnya, bagaimana ibunya memandang proyek ini ‘sebelah mata’ dan mengungkit kegagalan masa lalunya. Dsb … dsb …

Julie get her success by doing her own thing. And believe in it (and of course … finished it). That’s all.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading I love you, Julia at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: