banyak MAU atau satu MAU, silahkan pilih

October 28, 2009 § 2 Comments

(mengingatkan saja : ini adalah postingan yang panjang tapi layak baca)

Kata beberapa orang bermimpi adalah sebuah kewajiban, karena tanpa mimpi seorang manusia tidak akan kemana-mana alias mentok a.k.a mandek dalam hidup.

Iya, itu memang benar. Mimpi akan membuat seorang manusia memiliki tujuan dan akhirnya berusaha untuk mencapai mimpinya. Tanpa mimpi hidup akan terasa begitu gamang dan tidak berarti (well for some people YES?)
Tidak akan ada seorang Albert Eisntein dan Mark Zuckerberg yang saat ini berhasil membuat umat manusia mampu membuat nuklir dan ketagihan dengan kehidupan facebook (yang sebenarnya kurang nyata).

And the story goes …

Dari teman-teman yang saya miliki, ada yang termasuk tipe satu mau dan banyak mau. Apakah itu? Lanjutkan membaca …

Tipe satu mau adalah tipe orang yang hanya memiliki satu mimpi dalam hidupnya, dia tidak peduli dengan apa komentar orang lain dan tetap bersikeras dengan mimpinya seabsurd dan seaneh apapun itu. Seiring waktu dan kekerasan hatinya, akhirnya orang pun mempercayai mimpinya. Pada kenyataan yang saya alami, tipe orang-orang ini pada akhirnya (cepat atau lambat) akan mendapatkan mimpinya.

Adalah seorang teman yang menceritakan tentang temannya yang berkuliah di HI Unpar. Sejak awal kuliah orang ini cuma memiliki satu cita-cita, menjadi news anchor di Metro TV. Titik. Tanpa embel-embel apapun. Padahal dengan modal tampang yang menjual dia bisa saja ikutan casting film atau kompetisi putri kecantikan yang amat menjamur itu. Tapi tidak ada yang dia gubris, dia cuma sibuk bermimpi tentang Metro TV sambil melakukan semua hal yang diperlukan untuk menjadi seorang news anchor handal. Sebutkan saja … kemampuan bahasa, wawasan yang luas dan bla bla bla. Saat masih menjadi mahasiswa, bermimpi dan bercerita, ada teman-teman yang percaya dengan mimpinya dan ada yang tidak.

Dia tidak peduli, dia terus bermimpi dan tidak pernah berganti mimpi barang satu kalipun. Lulus kuliah … Metro TV membuka kesempatan untuk menjadi seorang news anchor dan dia langsung mendapatkan apa yang dia mau. Sekarang dia telah menjadi salah satu news anchor terbaik yang dimiliki Indonesia, Chantal Delaconcetta.

Saya merasa tidak perlu menambah cerita jenis ini lagi, di sekeliling kamu pasti banyak sekali cerita seperti itu. Menambah cerita seperti ini lagi hanya akan membuat jari-jari tangan saya pegal tanpa arti. Mereka semua memiliki kesamaan … terobsesi dengan satu MAU.

Well … soal tipe banyak mau. Saya tidak akan jauh-jauh mencari contoh.

Saya sendiri

Sejak balita saya suka menggambar. Saya tidak terlalu suka boneka dan nyanyian. Saya cuma suka menggambar dan buku mewarnai. Di bangku TK fokus saya tetap satu, menggambar. Karena saya merasa tidak ada hal lain yang membuat saya senang seperti saat saya menggambar. SD sampai pertengahan SMP saya cuma suka menggambar.

Kesalahan saya adalah … saya mulai berubah menjadi sesosok manusia banyak mau di awal SMU.

Teater, jurnalistik, majalah dinding, buku tahunan, mabuk organisasi ini-ina-ita-itu, dan club menulis adalah kegiatan yang saya gilai saat SMU. SEMUA memiliki kadar yang sama besar. Saya jatuh cinta dengan teater dan menulis. Saat itu saya memiliki dua MAU. MAU bermain teater sampai tua dan bahkan sempat berpikir ingin masuk STSI sekaligus MAU menjadi penulis feature handal.

Hasilnya ketika SPMB pilihan universitas dan jurusan saya absurd sekali …

Pilihan pertama : Kimia ITB (alasannya sederhana, saya suka Kimia karena guru saya asyik sekali)
Pilihan kedua : Agronomi Unpad (alasannya satu, sepertinya seru membuat buah tomat memiliki rasa seperti buah durian)
Pilihan ketiga : Fikom Unpad (alasannya … semua orang memilih ini juga sepertinya)

Saya lolos ke Agronomi, juga lulus di Arsitektur Unpar. Saya bingung, karena saat itu saya tidak tahu saya ingin apa (bodoh). Salah satu Om menyuruh saya kuliah double karena menurut dia kedua tempat itu bagus, untungnya saya tidak menuruti karena saya pasti akan menjadi orang yang tidak punya MAU sama sekali saking sibuk kuliah.

Masuk ke masa kuliah (saya pun memilih Arsitektur, karena … terdengar lebih artsy aja haha), saya kembali menggambar (karena memang harus) tapi saya pun menggambar atas nama tugas kuliah dan tidak memakai hati. Hasilnya … bagus tapi saya tidak pernah menganggap itu sebagai kesenangan. Dan saat kuliah adalah masa-masa saya giat sekali menulis, saya bahkan berhasil menyelesaikan 1 draft novel yang sekarang entah kemana. Saya sangat mengikuti perkembangan penulis-penulis Indonesia dan melahap buku-buku Seno Gumira Ajidarma tanpa lelah. Itulah MAU saya yang ketiga. Mau menjadi penulis non fiksi absurd sarat makna seperti Seno Gumira Ajidarma …

Bekerja. Capek. Mandek ide menulis. MAU menjadi penulis pun hilang sudah. Malas berpikir. Tenggelam ke dalam arus kehidupan tanpa hasil. Menghadapi beberapa hal menyakitkan. Bercerita ke seorang teman. Saya … disuruh menggambar.

Tapi ini bukan sekedar menggambar tanpa tujuan. Dia menyuruh saya melakukan hal ini rutin setiap hari tanpa jeda. Dia mengingatkan saya tentang tujuan. Saya pun melakukan, tanpa lelah, tanpa absen … mengejutkan! Saya merasa BAHAGIA. Saya merasa memiliki tujuan setiap harinya, saya merasa berharga karena saya memiliki satu hal yang harus saya lakukan.

Lalu saya pun merenungi semua yang sudah lewat. MAU yang amat banyak itu. MAU yang berganti seenak musim yang berganti di tanah Eropa dan Amerika. MAU yang tidak memiliki benang merah antara satu dan yang lain. MAU yang menumpuk tanpa arah. MAU yang tidak pernah berdiam di benak saya lebih dari satu tahun.

Akhirnya sekarang saya memutuskan untuk berdamai. Saya melepaskan MAU-MAU saya itu satu demi satu. Sedih. Iya. Sekaligus lega luar biasa.

Peduli setan saya terlambat, terlambat start lebih baik daripada tidak sama sekali bukan?

Saya sudah berdamai dengan MAU-MAU saya dan memilih satu MAU yang ternyata tidak pernah meninggalkan saya, semenjak saya balita.

Kalau kamu ingin jadi penulis, publicist handal, fashion designer, pemilik butik, terkenal, kaya, punya 10,000 follower di twitter, memiliki blog dengan 10,000 hits perhari. Pilihlah satu. Berakhir di usia 35-40an dengan banyak MAU tanpa satupun MAU yang terealisasi akan sangat menyakitkan. Percayalah …

Jadi,
MAU kamu apa?

§ 2 Responses to banyak MAU atau satu MAU, silahkan pilih

  • alidz says:

    pas banget! belakangan ini gw ngerasa gw kurang ambisius. hampir semua temen gw ngejar beasiswa ke luar negeri dan kerjaan prestisius. tapi gw merasa puas dengan kerjaan gw yang sekarang – dengan gaji biasa saja – dan gak minat ngejar kuliah lagi. salah gak sihhh kalo gw cuma pengen hidup gw gak neko2?

  • Lala Bohang says:

    hihi …
    bukannya gw menyarankan lo untuk jadi orang ambisius
    gw juga tidak ambisius kok, gw cuma sangat haus dengan satu aktivitas saat ini … menggambar. dan itu membuat gw terus melakukan itu tanpa sadar tanpa ambisi yg berlebihan

    kalau memang teman2mu berhasrat u/ s2 beasiswa di luar, mungkin itu bukan hasrat lo saja …
    yang penting lo tau apa hasrat lo. dan itu gak perlu sama dgn orang lain.TITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading banyak MAU atau satu MAU, silahkan pilih at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: