tentang hal-hal kecil yang rutin

October 22, 2009 § Leave a comment

Masa menyenangkan saat masih mengenakan rok abu-abu panjang itu, saya teringat rutinitas ‘antri telepon’ waktu anak-anak kost-an mulai (belajar) pacaran. Saat malam tiba dan pacar-pacar yang malang itu diberi nada tunggu lagu Garuda Pancasila versi komplit. Rutinitas ke Yogya department store untuk belanja bulanan sabun mandi dan kawan-kawannya yang ditutup dengan minum es cendol Elizabeth. Cemas menunggu detik-detik menuju masa SPMB, bukan … bukan soal belajarnya yang seru, tapi saat kami semua berkumpul dan membicarakan tentang masa depan yang cenderung berwarna abu-abu disitulah letak keasyikannya.

4 tahun lamanya saya menelan pendidikan kuliah, di antara sekian banyak malam yang dipenuhi gulungan-gulungan kertas gambar kerja, maket dan berbagai macam tugas yang membunuh raga. Sekarang-sekarang ini saya seringkali teringat dengan kegiatan makan bakso malang gerobak yang kami lakukan pada sore hari tenang di Bukit Resik 2. Malam hari saat dingin mulai menusuk tulang, kami pun memakai jaket masing-masing, lalu melangkahkan kaki ke warung roti bakar terdekat dan menelan roti-roti penuh lemak itu tanpa memperdulikan kadar kalorinya.

Di lantai 14 saya mengingat 1 ekor kura-kura peliharaan saya yang R.I.P karena dia tidak sengaja (ke)masuk di dalam instalasi pendingin gedung dan menghilang begitu saja tanpa bekas. Saya juga masih teringat jelas dengan batagor kuah di belakang gedung itu (dan patah hati setengah mati saat mengetahui tidak ada batagor kuah di Jakarta *sigh). Jangan lupakan saat-saat menaiki lift barang saat shift malam dengan perasaan deg-degan dan berusaha keras mengacuhkan rasa takut.

Bekerja di tengah bapak-bapak itu dan  pria-pria dewasa itu. Belajar tentang apa itu arti dari mencintai dan dicintai (yang ternyata maknanya amat sangat jauh, jangan sampai kamu tertipu) sehingga sekarang saya sudah jauh lebih pandai dalam persoalan ini. Meeting mingguan itu, di saat semua orang terlihat mencari posisi yang paling ‘nyaman’ dan tidak penuh dengan gangguan. Es podeng, mpek-mpek, dan bakwan malang pada pukul 4. Sholat di mesjid yang adem minta ampun saat suasana butek mulai membuat otak membeku tanpa ampun.

Kadang …
Saya mengharapkan terjadi hal-hal BESAR dalam hidup saya, yang menurut saya akan bisa terkenang dengan baik di dalam memori dan tak terlupakan. Tapi ternyata memori ini tidak membutuhkan hal-hal yang se-BESAR  itu untuk bisa dikenang. Justru hal-hal kecil yang berhasil menempel dengan super lengket di dalam memori. Mereka boleh berupa hal kecil tapi akan sering dilakukan karena membuat alam bawah sadar ketagihan dengan sensasi yang ditimbulkan.

Hal-hal kecil itu yang memang membuat hari-hari terasa pantas untuk diberikan hadiah berupa senyum dan tawa tanpa beban. Hal-hal kecil itu bisa berasal dari kehadiran seseorang, rutinitas YMan setiap jam 10 malam atau menu favorit makan siang di jam istirahat kantor.

Saya selalu merindukan hal-hal kecil itu ketika masa mereka sudah lewat dan saya sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa mengecapnya lagi. Ya … itulah letak kebodohan saya yang luar biasa. Tapi hari ini saya sedang berusaha untuk mengingat semua hal-hal kecil yang sudah diberikan orang ini , kamu, dan mereka dalam beberapa bulan terakhir. Dan … sayapun tersenyum lebar dan berjanji dalam hati untuk selalu menikmati setiap detiknya.

Terima kasih Tuhan untuk hal-hal kecil itu, tanpanya hal-hal BESAR akan terasa tidak berarti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang hal-hal kecil yang rutin at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: