tentang si komersil dan si idealis

June 22, 2009 § 4 Comments

Saya mungkin bukan orang yang teramat sangat capable untuk menuliskan topik ini, tapi lama-lama tangan saya jadi gatel untuk menuliskan hal ini. Oh well … saya tidak akan menuliskan hal ini dengan serius tapi dengan super duper santai.

Setelah lumayan terobsesi dengan dunia gambar menggambar satu tahun terakhir ini, saya jadi menyadari kalau ternyata banyak sekali orang yang jago menggambar tapi tidak dianggap di dunia persilatan gambar menggambar itu sendiri. Kenapa? Bisa saja si jago itu ada di lingkup pertemanan yang salah atau memang tipe orang yang nggak jago menjual dirinya sendiri.

Sedangkan ada yang karyanya cenderung tidak terlalu ‘wah’ tapi amat sangat go national. Hal ini terjadi karena dia pandai sekali mengemas dirinya sendiri sehingga laris ‘terjual’, berkawan dengan orang-orang yang tepat, dan melempar dirinya ke kancah gambar menggambar pada saat yang tepat.

Rasa frustrasi dari orang-orang jagoan tapi tidak terlihat  ini cukup mengusik pikiran saya, syukurnya saya bukan jagoan sehingga saya tidak memiliki masalah apabila saya (masih) tidak terlihat. Rasa frustasi yang saya lihat itu seperti kejengkelan luar biasa yang tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Kalau mau sok akribs dengan para dedengkot penting dari dunia yang disebut ‘perkawanan yang tepat’ itu takutnya malah dituduh social climber, tapi kalau mau sok cool akibatnya nggak bakal ada yang nolongin, serba salah emang. Mau menenggelamkan diri dengan menggambar dan mempertajam skill juga sia-sia, karena karya itu harus ada yang mengapresiasi, harus ada yang memberikan komentar. Kalau berkarya hanya untuk dilihat sama diri sendiri sih, sama juga bohong.

Selain itu dari kelompok-kelompok artist ini ada yang berperan sebagai si komersil dan si idealis. Si komersil memang berprofesi sebagai artist profesional (alias pekerja) sedangkan si idealis berprofesi sebagai artist murni (yang tidak dipengaruhi oleh kebutuhan finansial sedikitpun). Perbedaannya sangat jelas di sini, yang berprofesi sebagai artist murni tidak perlu mengais uang setiap bulan untuk mencari sesuap nasi, sedangkan artist profesional harus melacur kemana-mana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi tidak ada yang salah dengan keduanya, semestinya tidak perlu ada kelompok yang merasa lebih minor karena kedua kelompok ini sama-sama manusia yang doyan berkarya, hanya saja dengan latar belakang dan tujuan yang berbeda. Tidak perlu memandang lebih rendah atau lebih tinggi, intinya sih begitu …

Beberapa kali saya membahas hal ini dengan kawan-kawan saya, yang mana pembahasan ini akan berakhir di jalan buntu. Kawan saya beberapa kali melemparkan pertanyaan yang sulit dijawab yaitu “Apakah mau menjadi artist yang menerima pesanan atau artist  yang menggambar apapun yang disukai?”

Sayapun tidak pernah bisa menjawab. Ada kawan saya yang berprinsip kalau dia tidak akan merubah cara dia menggambar hanya untuk dapat duit, tapi ada juga kawan saya yang berprinsip gambar apapun akan dia garap selama ‘ganjarannya’ sesuai. Dan akan saya catat lagi di sini, kalau kedua kawan saya ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, tujuan hidup semua orang berbeda-beda dan tidak ada yang sama. Itulah yang harus dipahami dengan benar.

Makanya, kalau ada orang yang mengklaim dirinya punya style. Sayapun akan bertanya-tanya dalam hati, apakah itu style yang memang berasal dari hati, atau style yang menurut dia komersil?

§ 4 Responses to tentang si komersil dan si idealis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang si komersil dan si idealis at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: