Le scaphandre et le papillon*

May 22, 2009 § 2 Comments

*) The diving bell and the butterflies

Sebelumnya saya pernah membaca tentang film ini di sebuah majalah fashion terkemuka, dan saat itu juga saya langung memiliki ‘niat’ untuk menonton film ini. Seiring waktu dan kesibukan-kesibukan yang beberapa berarti dan beberapa tidak, niat saya untuk menonton film ini pun menjadi terlupakan, sampai pada suatu hari saya sedang berbincang via YM dengan seseorang yang menceritakan tentang film ini and lucky me dia memiliki DVDnya.

Nyaris satu bulan kotak DVD itu tergeletak begitu saja di rak TV saya, bukan … bukannya saya malas menonton tapi ya itu tadi ada beberapa kesibukan yang berarti dan tidak berarti yang menelan habis semua hari-hari saya. Sampai akhirnya kemarin ketika cuaca di luar hujan dan kamar saya sedang terasa begitu nyaman, sayapun membuka kotak DVD itu dan meletakkan kepingan CDnya di dalam DVD player hitam kesayangan saya.

Sejak permulaan film saya langsung menyukai film ini karena film ini mengambil sudut pandang orang pertama, kedua film ini adalah film Prancis dan saya selalu memiliki perasaan spesial terhadap bahasa Prancis yang menurut saya amat fashionable itu, ketiga wanita-wanita di film ini semuanya memiliki wajah dan karakter yang menarik, keempat film ini mengangkat kisah nyata dari editor in chief Elle Magazine Jean Dominique Bauby yang meninggal karena stroke setelah sebelumnya lumpuh berkepanjangan.

Saya tidak akan menceritakan isi cerita dari film ini, karena rasanya akan kurang adil bagi kamu yang mungkin belum menonton. Saya hanya akan (berusaha) berbagi tentang kesan yang saya dapat dari film ini …

Tentang melakukan ‘sesuatu’

Kalau kamu sedang sakit yang menyebabkan kamu tidak dapat menggerakkan seluruh anggota tubuh kamu kecuali kelopak mata, apakah yang akan kamu lakukan?
Saya mungkin ingin segera mati, atau mungkin ada yang pasrah saja atau mungkin ada yang tidak mau membayangkan dsb … dsb …

Tapi tidak dengan Jean-Do.

Awalnya dia ingin mati. Tapi lalu semangat hidup dia tumbuh karena dia menyadari bahwa daya imaginasi dan memori masa lalunya tetap ada dan hidup. Dalam kondisi tidak dapat melakukan apapun Jean-Do menulis buku (ya buku!), kalau kamu ingin tahu cara dia menuliskan bukunya di kondisi tubuh lumpuh total kamu harus menonton filmnya.

Rasa yang timbul dalam hati saya ketika menyaksikan seorang lumpuh menulis buku adalah malu. Malu karena saya yang masih sehat wal’afiat dengan organ tubuh lengkap pun tidak memiliki keinginan dan kemauan sekuat Jean-Do untuk melakukan sesuatu. Bagaimana dia menghargai semua hari yang dia lewati dan menangkap makna dari semua hal di sekitar dia, dan bagaimana dia tetap menertawakan hal-hal lucu dalam kehidupan sehari-harinya yang sebenarnya jauh dari lucu itu.

Jean-Do yang lumpuh total saja masih ingin melakukan dan membuat ‘sesuatu’, karena daya imaginasi dan memori yang dia punya terasa lebih dari cukup untuk membuat dia berkarya. Dan apa kabar kita, saya, kamu dengan semua kemudahan yang kita punya tapi terus menerus melewati hari tanpa makna dan tujuan yang jelas? Atau memang benar, kalau sekarang ini manusia tidak memperdulikan esensi hidupnya lagi? Bahwa sekolah, kawin, bekerja, beranak pinak dan pada akhirnya mati sudah lebih dari cukup? Bahwa ‘tujuan hidup’ sebenarnya bukanlah hal yang perlu dicari tahu?

Tentang mencintai seseorang

Di hari pertama Jean-Do dijenguk oleh istrinya, perawat rumah sakit mengatakan, “Ini kejutan dari saya, istri yang kamu cintai datang menjengukmu.”
Dan Jean-Do menyelutuk dalam hati, “Dia bukan istri saya, dia hanyalah ibu dari anak-anak saya.”

Lalu saya membayangkan dan berkhayal sendiri,
Pernyataan Jean-Do yang seperti itu tidak mungkin tanpa sebab karena saya sangat memegang istilah ‘tiada asap tanpa api’ tiada akibat tanpa sebab, semua orang yang pada akhirnya menikah pasti memiliki rasa cinta di dalam hati yang seiring berjalannya waktu dan beberapa kejadian, rasa cinta tersebut ada yang semakin besar tapi ada yang malah hilang seperti asap. Sehingga pada akhirnya hubungan pernikahan itu tetap terjalin semata-mata agar anak-anak memiliki ayah dan ibu yang lengkap. What a mess!

Mungkin istri Jean-Do sudah melakukan sesuatu yang membuat cinta yang dimiliki oleh Jean-Do hilang seperti asap, mungkin ada kejadian-kejadian buruk yang tidak berhasil mereka lewati dengan baik.

Membayangkan pada suatu hari nanti saya akan melewati fase ini, membuat saya agak sakit perut. Tentu saja saya tidak ingin menjadi seorang istri yang di mata suaminya ‘hanya’ ibu dari anak-anaknya.

Tentang menjadi seseorang yang ‘remarkable’

Dulu saya bukan tipe orang yang sadar ‘karakter’, saya memandang naif bahwa semua manusia sama baiknya dan sama kerennya. Tapi semakin mengenal banyak orang dan berinteraksi dengan mereka, sayapun jadi amat menyadari kalau karakter manusia itu benar-benar ‘nyata’.

Ada orang yang berkarakter sangat kuat sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang disekelilingnya
Ada orang yang berkarakter sangat lemah sehingga walaupun dia berada di satu acara orang-orang tidak menyadari keberadaannya
Ada orang yang berkarakter annoying sehingga kapanpun dan dimanapun dia berada orang-orang akan langsung berjalan menjauh
Ada orang yang berkarakter menyenangkan sehingga dia selalu mendapat undangan untuk datang ke event apapun itu

Jean-Do, editor in chief  Elle … tidak mungkin tidak memiliki karakter yang kuat. Karena setahu saya untuk menjadi seorang editor in chief apalagi majalah sepowerfull Elle pasti memiliki kualitas yang levelnya lebih tinggi dibanding orang-orang ‘biasa’. Seorang editor in chief adalah orang yang memiliki jiwa kepemimpinan, sekaligus kreatif, sekaligus pandai bergaul, sekaligus cerdas menangkap peluang, sekaligus harus memiliki fashion taste yang bagus (merujuk ke majalah Elle), sekaligus memiliki sedikit sekali rasa capek, dan juga pandai berbicara dan mempengaruhi orang lain. Pastinya Jean-Do di masa tubuhnya masih berfungsi dengan baik, dia adalah orang yang remarkable.

Bukti kalau Jean-Do adalah orang yang remarkable sangat nyata terlihat di film ini, orang-orang di sekitar Jean-Do semasa dia sakit dan lumpuh semuanya merasa ‘terpengaruh’ oleh keberadaan Jean-Do. Orang yang dapat mempengaruhi orang lain di saat dia lumpuh dan tidak dapat berbicara pastilah orang yang sangat istimewa.

Untuk menjadi seseorang yang remarkable tentu saja menyenangkan. Jika saya dan kamu ingin menjadi seseorang yang remakrable kita harus sama-sama memulai dari sekarang, karena akan banyak profit (in a good way) yang akan kita peroleh dibandingkan menjadi orang pemalu, jaim, minder dan ‘kosong’.

Karakter diri adalah sesuatu yang bisa kita bentuk dan pelajari sendiri. Tinggal niat sama usahanya saja …

Selanjutnya dan selebihnya silahkan langsung mencari DVDnya. Oh saya lupa! Film ini tidak tersedia dalam bentuk bajakan kamu harus hunting DVD originalnya.

§ 2 Responses to Le scaphandre et le papillon*

  • Tidak hairan keinginan untuk menulis buku kini kian meluas. Ada yang begitu prolifik dan menghasilkan sehingga melebihi lima buah buku dalam setahun. Di Malaysia, ketika jumlah buku dan penulis tidak begitu banyak, penulis dapat menganggap diri mereka bertuah kerana mempunyai bakat dan kemahiran untuk menulis.

  • Lala Bohang says:

    Wah terima kasih (saya anggap comment anda sebagai pujian)
    kemahiran untuk menulis adalah berkah tinggal niat dan usaha yang keras yang akan membuat kemahiran tersebut ‘berkarya’🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Le scaphandre et le papillon* at DAUR IMAJI.

meta

%d bloggers like this: